Mengembangkan Kecerdasan Sosial Anak

Keceriaan santri TPA Al-Muhtadin; tempat penulis mengabdi.

Seiring dengan perkembangan zaman yang kian pesat di bidang teknologi dan informasi, perkembangan kejiwaan anak pun mengalami perubahan yang sangat perlu untuk diperhatikan. Saat ini, bukan merupakan pemandangan yang asing lagi bila seorang anak tampak sangat asyik dengan “dunianya” sendiri ketika sudah di depan komputer untuk nge-game atau berselancar di dunia maya yang bernama internet. Sementara bila ada tamu datang ke rumah, ia tampak cuek, tidak bisa menunjukkan sikap bagaimana sebuah hubungan sosial mesti dibangun dengan orang lain, atau bahkan ia malah menunjukkan sikap sebaliknya, yakni sebuah rasa tidak suka karena merasa keasyikannya telah terganggu dengan adanya orang lain.

Keadaan yang seperti ini, di samping karena perkembangan teknologi dan informasi yang pesat, juga para orangtua mempunyai kecenderungan untuk tidak bisa meluangkan waktu lebih banyak lagi bersama anak-anaknya. Hal ini bisa terjadi karena kesibukan kerja, sehingga kalau sudah di rumah inginnya hanya istirahat karena kecapekan, atau kurangnya kesadaran bahwa menemani anak dalam tumbuh dan berkembangnya itu sangat besar pengaruhnya bagi anak. Orangtua yang mempunyai kecenderungan seperti ini biasanya justru memberikan kesibukan kepada anak—misalnya dengan belajar tambahan yang dipanggilkan guru privat ke rumah atau bahkan membelikan banyak mainan—atau agar tidak merepotkan orangtua.

Di samping hal tersebut, perkembangan dunia pendidikan yang lebih fokus dan mengistimewakan kecerdasan intelektual juga memberikan andil dalam persoalan ini. Saat ini, bukan hal yang aneh lagi bila kita mendapati anak-anak usia sekolah yang mempunyai aktivitas yang luar biasa dalam kegiatan belajarnya, sehingga seakan tak mempunyai waktu lagi untuk bermain bersama teman-temannya. Untuk menambah jam belajarnya, di sekolah tak jarang diberikan waktu pagi di luar jam belajar formal, yang biasanya disebut sebagai jam nol. Sehingga, pagi-pagi sekali sang anak harus sudah berangkat ke sekolah. Begitu pula setelah pulang sekolah, sang anak akan les ini dan itu hingga sore hari. Atau, bagi siswa yang akan menghadapi ujian nasional, akan mendapatkan pelajaran tambahan lagi yang khusus membahas pelajaran yang masuk dalam ujian nasional. Dan, tak jarang, hal ini pun dilakukan hingga sore hari.

Pada suatu hari, penulis yang mempunyai aktivitas memberikan les privat kepada anak sekolah ketika sore hari tidak bisa menemani belajar salah seorang anak karena ada keperluan, penulis ingin meminta hari yang lain. Apa jawaban sang anak? Ternyata, dia sudah tidak mempunyai hari selain hari itu. Hari-hari yang lainnya dalam seminggu telah penuh dengan jadwal les privat. Lantas, penulis membatin dalam hati, “Kalau begitu, kapan waktu bermainnya?” Sebab, masa anak-anak adalah masa yang tidak boleh dihilangkan sama sekali dari dunia bermain. Apalagi, berkumpul dan berinteraksi dengan teman-teman sepergaulannya, yang sudah barang tentu akan berpengaruh kepada perkembangan jiwanya sebagai bagian dari makhluk sosial.

Kenyataan mengenai seorang anak yang disibukkan dengan dunianya sendiri, sebagaimana contoh di atas, seorang anak yang lebih asyik dengan kecanggihan teknologi, baik itu berupa PS, HP, komputer, atau benda teknologi lainnya, memang membuat anak tidak banyak keluar rumah, sehingga dia tidak dikhawatirkan terkena pengaruh buruk dari pergaulan di luar rumah—meskipun mengenai hal ini juga masih perlu untuk didiskusikan kembali karena teknologi juga tidak jarang memberikan dampak buruk walau anak tidak banyak keluar rumah. Atau, kenyataan seorang anak yang disibukkan dengan seabrek aktivitas belajar, dengan menambah les pelajaran ini dan itu, memang bisa menggenjot kecerdasan intelektual anak-anak. Orangtua kebanyakan bangga akan hal ini karena anak-anaknya biasanya mengalami peningkatan nilai di sekolahnya. Namun, kenyataan yang harus juga kita perhatikan, ternyata ada kecerdasan lain yang dikorbankan, yakni kecerdasan sosial.

Maka, tidak sedikit kita dapati di lingkungan sekitar kita, anak-anak yang mempunyai prestasi kecerdasan intelektual yang baik, ternyata ia sama sekali tidak mempunyai kemampuan bila diminta berkiprah di organisasi sosial, baik itu semacam karang taruna, remaja masjid, atau kelompok solidaritas tertentu. Inilah abak-anak yang cerdas secara intelektual, namun gagap dalam kehidupan sosialnya. Padahal, kelak ketika ia telah menyelesaikan masa belajarnya, baik itu di sekolah maupun di kampus, mau tidak mau, sudah barang tentu ia akan hidup dan berinteraksi dengan orang lain; baik itu di lingkungan tempatnya bekerja maupun di tengah-tengah masyarakat.

Kecerdasan intelektual memang sangat penting untuk terus dikembangkan. Namun, kecerdasan yang tidak kalah pentingnya adalah kecerdasan sosial. Sungguh, kecerdasan sosial ini sama sekali tidak boleh diabaikan. Sebab, kecenderungan masyarakat modern, yang satu sama lain sering bersitegang dengan waktu karena adanya target atau bahkan ambisi, persaingan yang sangat ketat di segala bidang, kebutuhan terhadap pemenuhan materi sekaligus gengsi yang semakin menguat, akan membuat kehangatan hubungan sosial semakin berkurang. Di sinilah pentingnya kecerdasan sosial pada anak untuk terus dikembangkan agar kelak anak-anak kita mampu hidup secara sosial dengan baik.

Betapa penting kecerdasan sosial dikembangkan karena saat ini juga masih banyak orangtua yang sangat bangga bila anaknya berhasil dalam studinya di sekolah yang ditunjukkan dengan nilai rapor yang bagus. Hal ini memang tidak salah, tetapi juga tidak bisa bila dikatakan benar seratus persen. Sebab, beberapa penelitian justru menunjukkan bahwa kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, dan kecerdasan spiritual ternyata lebih berpengaruh bagi kesuksesan anak dalam kehidupannya di masa mendatang bila dibanding dengan kecerdasan intelektual.

Hal ini dapat kita ketahui dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Daniel Goleman (1995 dan 1998). Dalam penelitian tersebut, ternyata kecerdasan intelektual hanya memberikan kontribusi dua puluh persen terhadap kesuksesan hidup sesorang. Sedangkan yang delapan puluh persen sangat tergantung pada kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, dan kecerdasan spiritual. Bahkan, dalam keberhasilan di dunia kerja, kecerdasan intelektual hanya memberikan kontribusi sebanyak empat persen saja.

Mengapa bisa demikian? Seseorang yang mempunyai kecerdasan sosial yang baik akan mempunyai banyak teman, pandai berkomunikasi, mudah beradaptasi dalam sebuah lingkungan sosial, dan hidupnya bisa bermanfaat tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain. Sungguh, kemampuan—yang di antaranya—seperti itulah yang sangat dibutuhkan oleh anak kita agar kelak lebih mudah dalam menghadapi tantangan kehidupan di zaman yang semakin ketat dengan persaingan. Dengan demikian, semoga anak kita lebih mudah dalam meraih kesuksesan.

Semoga anak-anak kita tumbuh dan berkembang dengan baik,
Akhmad Muhaimin Azzet

About these ads

40 Komentar

Filed under Keluarga

40 responses to “Mengembangkan Kecerdasan Sosial Anak

  1. Ceria dan bahagia, itu yang aku tangkap dari kebersihan jiwa mereka. Kebersihan jiwa mereka itu menjadi modal pertama dan utama demi suksesnya proses pendidikan/tarbiyah mereka. Tentu bukan sekadar belajar menghafal materi pelajaran, melainkan –lebih dari itu, bahkan yg terpokok– mendidik ranah afeksi, psikomotor, juga kompetensi sosial mereka. Begitu, kata guru saya.

    • Yup! Jangan sampai kebersihan jiwa mereka justru terkotori oleh keluarga, lingkungan, apalagi lembaga pendidikan tempatnya belajar. Dan, ranah afeksi, psikomotor, juga kompetensi sosial mereka memang perlu juga untuk dikembangkan. Sepakat banget, Mas Irham. Makasih banyak ya, Mas.

  2. ardiansyahpangodarwis

    wah saya belum punya anak tapi dengan ini bisa jaga-jaga ya :)

  3. akur kang… cocog dengan realita hidup

  4. Pak Akhmad admin gurubisa, ayomendidik ya?

  5. Ternyata anak perlu belajar ‘gaul’ sejak dini ya…

  6. untuk itulah saya sedikit kurang setuju dengan adanya homeschooling….

    membebaskan anak menikmati masa bermain dan bersosialisasi sebanyak mungkin itu pasti lebih baik :)

  7. kadang sebagian orang tua , membatasi waktu dan teman bermain, karena kadang memberi pengaruh “negatif” pada anak- anak..seperti dalam berbicaranya…tapi tak mungkin bagi saya untuk membatasi mereka,, yang bisa saya lakukan hanyalah ,memberi pemahaman agama,, memberi penjelasan baik dan buruk..

    ternyata dalam kepolosan anak- anak, ia lebih mudah menyampaikan kebenaran ketibang kita yang dewasa.. :-)

    • Saya sangat setuju dengan memberikan pemahaman agama, penjelasan, atau pengertian dari orangtua kepada anak daripada membatasi pergaulannya. Sebab, anak tidak tidak selamanya berada di sisi orangtuanya, kelak ia harus menjadi manusia dewasa yang menghadapi dunia dengan realitas yang sesungguhnya.

  8. beruntunglah seorang anak yg masih bisa bergaul & lingkungan sosial di sekitarnya mendukung :)

  9. sangat bermanfaat pastinya setiap postingan insya Alloh aamiin.

    pstinya mdahan bisa mnjadi ibu bagi anak2ku kelak aamiin.
    yah tapi anak jaman skrng terkdang spti itu yah aneh? ehe
    terlebih srng acuh.. gemes jadinya pengen lempar sandal hahaha… :kabbur..

    syukron yah pak

  10. Subhanallah… Jd teringat masa kecil byk dolanan main karet, bekel, congklak, galasin, tak lari, tak umpet, hiking, dll.. Skrg anak2 mainannya nintendo ds, wee, dll..tp dibatasi..biar main diluar… Trus diluar sekolah dari les 1 ke les yg lain..alasannya biar terisi waktunya jd hal yg bermanfaat..dan mencari bakat2 mereka yg bpotensi..mau saya kurangin lesnya dech.. Tp sungguh pr buat kami utk kecerdasan sosialnya,.masih perlu dibina kembali.. Maturnuwun diingatkan ya mas Azzet, barokallahu..

  11. hii salam kenal iya dari vira .. :)
    jangan lupa mapir keweb vira iya di http://www.rumahkiat.com/ vira mau berbagi pengalaman nih.:)
    wah bagus juga iya blog ka2 … ^_^ good luck iya…..
    SALAM BLOGER INDONESIA..:)

  12. Assalaamu’alaikum wr.wb…

    Sungguh terkilan dengan zaman serba maju ini kerana ternyata pendidikan lebih bersifat material dan mengisi otak dengan ilmu keduniaan semata-mata. Jadwal sekolah aja sudah penuh dari pagi hingga sore malah mengalah jadwal kerja orang tuanya di kantor. Waktu bermain dan mengenali dunia kanak-kanaknya semakin minimal kerana malam sudah letih. Hubungan sesama keluarga kian longgar.

    Teknologi terkini juga bisa membuat hubungan kekeluargaan semakin jauh di mana kualitas masa sangat kurang dipraktikkan. Orang tua harus bertegas dalam mendisiplin masa anak-anak agar dunianya lebih ceria. Bukan mencari kegembiraan di depan monitor tetapi harus bergaul sesama ahli keluarga dan orang lain dengan merancang aktiviti riadah dan ziarah dengan berkesan.

    Semoga dunia yang moden ini tidak mengubah iman dan takwa kita kepada Allah swt. Posting menarik dan mencerahkan.

    Maaf mas, baru mampir. Jarang ngeblog kini lantaran banyak kerjaan. Alasannya klise aja nih. :D

    Salam ukhuwwah dari Sarikei, Sarawak.

    • Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Alhamdulillah…, senang sekali Mbak Fatimah. Santai saja, Mbak. Meski jarang ngeblog, toh juga sedang melakukan aktivitas yang bermanfaat. Dan, satu hal yang penting, silaturahim tetap bisa terjalin meski tak sering.

      Ihwal perkembangan zaman modern yang semakin maju dengan berbagai teknologi, semoga itu semua tak menjadikan kita bersama anak-anak justru kalah. Tapi, semoga kita malah bisa memanfaatkannya dengan baik dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan pendidikan.

      Ohya, Mbak Fatimah, dulu kan saya pernah cerita soal buku saya yang bakal terbit di Malaysia. Alhamdulillah, sekarang telah terbit, Mbak. Semoga nanti segera menyusul yang lainnya. Untuk buku tersebut, silakan Mbak Fatimah mendapatkannya di toko buku di Malaysia. Berikut linknya:

      http://www.hidayah.com.my/site/index.php?page=shop.product_details&flypage=flypage-ask.tpl&product_id=1138&category_id=13&option=com_virtuemart&Itemid=60&vmcchk=1

      Demikian ya, Mbak. Salam ukhuwah juga dari Jogja.

      • Alhamdulillah, tahniah dan salut ya.
        Satu perkembangan baru yang sudah merentas lautan.
        Insya Allah akan saya cari bukunya.
        Harganya berpatutan RM14.00

        Terima kasih mas untuk maklumannya.
        semoga semakin sukses dalam menulis.

        Salam hormat.

  13. alhamdulillah …
    berknjung kesini selalu mendapat ilmu yg bermanfaat … :)

  14. Mempersiapkan generasi muda sekarang memang jauh lebih banyak tantangannya, kalau pun kita telah memiliki pemahaman seperti diatas tetapi saat kebanyakan orang tua dilingkungan kita tidak berpikiran sama maka akan menimbulkan kesulitan pada anak kita dalam kesehariannya, misalnya anak kita disuruh bermain diluar sementara kebanyakan temannya dilarang bermain diluar. Semoga tulisan2 seperti ini banyak dibaca para orang tua dan menghasilkan perbaikan bagi generasi penerus kita..amiiin!

  15. subhanallah, jazakallah Ustadz atas share Ilmunya….. :)

  16. mantep..nambah ilmu lagi buat ngemong kinan…:)
    suwun sharingnya

  17. Banyak aspek dari dunia anak kita yang terlantar karena pendidikan tidak relevan membumi di sekitar kebutuhan mereka.
    Belajar tidak dirasakan sebagai sesuatu yang menyentuh kebutuhan mereka, tapi sebagai keharusan kurikulum dan diorientasikan untuk bisa mengisi soal2 ulangan dan ujian.
    Saya tertarik dengan sekolah alam(?) punya Dick Doang.. Langsung menyentuh dunia keceriaan anak.
    Salam edukasi.

  18. oma

    Setelah membaca tulisan ini, entah kenapa saya merasa takut mendidik anak-anak saya nanti, takut saya tidak bisa mengembangkan kecerdasan sosial mereka karena kecenderungan masyarakat saat ini menjadi manusia-manusia yang lebih individualis.

    • Hmmm…., begitu ya, Mbak Oma. Tapi, ga perlu takut, Mbak, tetap dengan senang hati mendampingi anak-anak, yang penting kita tetap dekat dengan mereka, menjalin komunikasi dengan baik, kita ajak bersilaturahmi dan suka berbagi. Semoga nanti semua dapat bejalan dengan baik.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s