Pendidikan yang Membebaskan di Sekolah Miskin; Belajar dari Bu Muslimah dan Pak Julian

Kita tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan di negeri ini bahwa masih banyak sekolah di daerah yang boleh dikatakan sebagai sekolah miskin. Betapa tidak, ada sekolah yang dindingnya terbuat dari papan kayu yang sudah jebol di sana-sini, eternitnya sudah banyak yang ambrol, lantai yang terbuat dari semen pun pecah-pecah dan berlubang, meja dan kursi pun tampak penuh dengan paku agar tak semakin reyot. Bila ditanyakan kepada kepala sekolah mengapa keadaan sekolah memprihatinkan seperti itu? Jawaban yang dipastikan muncul adalah tiadanya biaya untuk memperbaiki.

Keadaan sekolah yang jauh dari memadai sebagaimana di atas akhirnya membuat proses belajar mengajar pun berjalan tidak maksimal. Para murid dan guru tidak sedikit yang akhirnya menjalani proses belajar mengajar sebagai rutinitas tanpa dinamika. Para anak didik itu datang, belajar dengan segala keterbatasan, dan ketika matahari telah condong ke barat mereka kemudian pulang untuk membantu orangrtuanya yang jadi petani atau bahkan mungkin nelayan. Proses pendidikan yang berjalan demikian, biasanya tak lebih dari sekadar bagaimana membebaskan anak didik dari yang sebelumnya tidak bisa membaca dan menulis menjadi lancar melakukannya; dari yang sebelumnya tidak bisa berhitung menjadi bisa.

Keadaan sekolah sebagaimana di atas akan jauh berbeda dengan kedaan sekolah di daerah-daerah yang sudah maju atau bahkan di kota. Lantainya bagus dan bersih, temboknya dicat dengan warna-warna yang membuat bersemangat, tak ada eternet yang jebol, meja dan kursinya kukuh, dan bermacam peralatan untuk belajar pun tersedia dengan lengkap. Sekolah yang seperti ini membuat para guru dan murid betah ketika menjalani proses belajar mengajar. Tidak hanya betah, mereka pun bersemangat untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang sudah tentu akan berguna bagi kehidupannya di masa depan.

Di dalam sekolah yang tercukupi segala kebutuhannya dalam belajar, dinilai tidak hanya membebaskan anak didik dari ketidakmampuannya dalam membaca, menulis, dan berhitung saja, akan tetapi lebih jauh kepada pemahaman dan kesadaran dari hal-hal yang dipelajarinya. Hal inilah yang akhirnya membuat sebagian guru dan pengamat pendidikan di Indonesia menilai tidak adil jika pemerintah memaksakan kehendak dengan menerapkan standar ujian nasional. Belum lagi silang pendapat mengenai keberhasilan anak didik dalam belajar yang hanya dinilai dari lulusnya beberapa mata pelajaran saja. Menurut mereka, pemerintah boleh-boleh saja membuat standar kelulusan dengan ujian nasional bila sudah memenuhi kewajibannya dalam membenahi sarana dan prasarana sekolah-sekolah yang jauh dari memadai.

Mengangkat masalah ini, bukan berarti penulis serta-merta menyetujui bahwa pendidikan yang membebaskan hanya bisa dilangsungkan di sekolah-sekolah yang bagus dan lengkap segala sarana serta prasarananya. Sejatinya pendidikan itu harus mampu membebaskan mereka dari keterbelakangan intelektual di mana dalam prosesnya mereka harus merasakan situasi pembelajaran yang nyaman, menyenangkan dengan sarana dan prasarana yang memadai, demikian di antara pendapat itu. Sungguh, hal ini memang perlu diperhatikan dan dipenuhi. Pemerintah juga berkewajiban melakukan pemerataan dan perbaikan sekolah-sekolah yang jauh dari memadai. Namun, penulis juga tidak dapat menutup mata, bahwa tidak sedikit pula justru di sekolah-sekolah yang jauh dari memadai terdapat seorang guru yang mempunyai semangat yang tinggi dalam menjalankan tugas mulianya.

Ya, menjadi seorang guru pada hakikatnya menjalankan tugas yang sungguh mulia. Seorang guru rela dengan senang hati dan bersemangat mendampingi anak didiknya untuk memahami ilmu pengetahuan yang bermanfaat dalam kehidupan. Seorang guru yang demikian tidak tergantung pada sarana dan prasarana di sekolah dalam menjalankan tugasnya. Bila ada maka akan dimanfaatkan secara maksimal. Akan tetapi, bila tidak ada, maka ia pun memaksimalkan berbagai metode agar anak didiknya tetap bersemangat dalam belajar.

Bila kita membaca novel yang berjudul Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Herata, betapa kita melihat semangat seorang guru yang bernama Bu Muslimah yang luar biasa. Mengapa penulis mengangkat contoh novel ini. Tak lain dan tak bukan karena novel ini diakui oleh penulisnya diangkat dari kisah nyata atau pengalaman penulisnya sendiri di waktu kecil. Betapa Bu Muslimah tetap membangun semangat dirinya dan murid-muridnya meski kondisi sekolahnya tak jauh berbeda dengan kandang ayam. Bu Muslimah ternyata berhasil membebaskan anak didiknya dari ketertinggalan dan mempunyai semangat yang tinggi melalui proses belajar mengajar dilakukannya.

Begitu juga apabila kita membaca novel yang berjudul Sang Pemimpi yang ditulis oleh penulis yang sama. Betapa Pak Julian, seorang guru muda, yang berhasil membakar semangat anak didiknya untuk membangun dan meraih mimpi. Murid-murid Pak Julian jadi bersemangat untuk belajar dan memahami segala sesuatu agar apa yang telah menjadi cita-citanya dapat tercapai. Semangat yang menggelora itu tampak jelas dalam keseharian murid-muridnya ketika belajar, terutama Ikal, Aray, dan Jimbron yang ingin ke Paris dan Eropa. Tidak hanya bersemangat dalam belajar, mereka juga bersemangat menabung.

Apa yang dilakukan oleh Bu Muslimah dan Pak Johan patut menjadi semangat bagi para guru lainnya dalam mengemban tugas mulianya. Sarana dan prasarana boleh saja jauh dari memadai, akan tetapi semangat untuk membangun pendidikan yang membebaskan bersama anak didik tercinta tak boleh surut, apalagi mati. Jadi, mengembangkan pendidikan yang membebaskan sesungguhnya tak mengenal apakah sekolah yang bersangkutan terpenuhi atau tidak sarana dan prasarananya. Hal yang paling penting dalam mengembangkan pendidikan yang membebaskan adalah semangat untuk membangun kesadaran dalam diri anak didik agar senantiasa memperbaiki diri dan memahami ilmu pengetahuan.

Demikian pula dengan Freire, tokoh yang mengembangkan pendidikan yang membebaskan. Freire menerapkan gagasan pendidikan yang membebaskan pada masyarakat atau peserta didik yang kondisinya secara ekonomi dan politik berada pada wilayah yang jauh dari memadai. Para anak manusia yang setiap hari dikenalkan penuh semangat dengan dunia pendidikan yang membebaskan oleh Freire adalah mereka yang hidup dalam lingkungan pekerja kasar dan hidup dalam kemiskinan. Bahkan, Recife, daerah Freire mengembangkan gagasan pendidikannya, merupakan daerah yang paling terbelakang dan paling miskin di Brazil bagian timur laut.

Apabila penulis menekankan bahwa meskipun tanpa sarana dan prasarana yang memadai pendidikan yang membebaskan bagi anak didik tetap bisa dilangsungkan, bukan berarti penulis beranggapan bahwa sarana dan prasarana yang menunjang tidak penting. Sungguh, hal ini juga penting. Akan tetapi, bukanlah faktor utama apakah pendidikan yang membebaskan dapat dengan sukses dilakukan oleh seorang guru bersama anak didiknya. Hal yang penting adalah semangat dari seorang yang kemudian ditularkan kepada anak didiknya untuk berproses bersama-sama dalam pendidikan yang membebaskan.

Salam Pendidikan Indonesia,
Akhmad Muhaimin Azzet

About these ads

19 Komentar

Filed under Pendidikan

19 responses to “Pendidikan yang Membebaskan di Sekolah Miskin; Belajar dari Bu Muslimah dan Pak Julian

  1. Afnizar hasan

    Sedih memang melihat pendidikan setingkat sd,smp,sma, seolah-olah ujian nasional akhir dari segalanya, padahal yang dipentingkan adalah sejauh mana murid tersebut mampu menyerap pelajaran yang telah diberikan, bukan hanya , sekedar ijazah selembar , mudah2an para pendidik dapat berjuang bersama-sama untuk memperjuangkan nasib anak bangsa jangan hanya Un nya yg di prioritaskan tapi mutu pendidikan dan akhlak yg mulia,yg perlu diterapkan,sehingga murid tidak hanya belajar disaat menjelang Un saja, sampai rela membayar bimbingan test, yg mahal demi selembar ijazah, terima kasih pak tulisannya , saya juga sedih bila melihat tayangan di Televisi , seolah-olah Un menjadi momok yg menakutkan padahal dari zaman dahulu kala pasti ada ujian akhir tapi koq akhir ini menjadi sesuatu yg sangat menakutkan. , trims ya pak.

    • Inilah hal yang sungguh memperihatinkan di dunia pendidikan kita dewasa ini, Bu Afnizar Hasan. Bahkan, tidak hanya guru di sekolah yang terjebak untuk meningkatkan kecerdasan intelektual semata –yang akhirnya diuji dengan UN– namun tidak sedikit para orangtua juga ikut-ikutan meminta anaknya untuk mengikuti les tambahan pelajaran ini dan itu. Padahal, anugerah kecerdasan yang diberikan Allah kepada setiap manusia bukan hanya intelektual saja.

      Makasih banyak ya, Bu, telah berkenan singgah kemari.

  2. Aku setuju pak. Semestinya standart soal Ujian Nasional tdk bs dipukul sama rata dari Sabang sampai Merauke. Jangankan membandingkan Surabaya dengan, lets say: Maluku. Di Jawa Timur aja juga msh banyak sekolah di desa-desa kecil yg tentu standar nilainya mestinya berbeda dengan sekolah di kota besar. Belom lagi, mata pelajaran Bhs.Inggris yg Unas-nya ada Listening section-nya. Nah ini masalah bagi sekolah yg tdk bs menyediakan cd player atau tape recorder untuk sekian banyak ruang ujian di setiap sekolah penyelenggara.

  3. setuju ustadz……….

  4. Evi

    Kalau begini memang standar UN emang mesti di kaji ulang ya Pak, tak adil bagi mereka yang kekurangan fasilitas..Kok ya yang membuat kurikulum tak berpikir sejauh ini sih? Atau apakah mereka terlalu optimis bahwa kekurangan prasarana seharusnya tak membuat semangat belajar loyo, seperti Ibu Muslimah itu. Apa itu yg mereka harapkan? Tapi ah berharap saja tanpa tindakan nyata juga sia-sia ya Pak. Bagaimanapun guru manusia biasa. Kekurangan dalam segala hal mempengaruhi semangat belajar dan mengajar mereka. Sebagai penyandang kebijakan, pemerintah emang seharus lbh care menanggapi hal yg seperti ini..

    • Benar sekali, Mbak Evi, di samping guru dan murid memang dituntut untuk mempunyai semangat yang tinggi dalam belajar, pemerintah sungguh berkewajiban untuk memperbaiki pendidikan di negeri ini, termasuk dalam segala fasilitasnya.

  5. Akang sendiri kaget karena akhir2 ini musim pendaftaran sekolah di jkt ternyata untuk msk sekolah favorit di jkt biayanya selangit, mungkin kalo anak akang mulai sekolah akan dipindah aja ke kampung halaman biar biayanya murah..makasih pencerahannya ustadz!!

  6. yang penting sekolah, guru dan orangtua tetap membangun mimpi yang dipunyai anak Pak, jangan sampai itu mati, sarana dan prasana pada akhirnya fasilitas, nyawanya tetap kemauan belajar dan mendidik.

  7. iqbal

    sya saat ini mengelola mts….anda smua akn mengelus dada jka tau,gedung skolah kami numpang d madrasah diniyah….siswa-siswi kami tidak bisa berbahasa indonesia pdhl menurut peta,kami msh d indonesia….alhamd,guru2 nya pnuh smgat wlw menghrap gaji dr ALLAH hehe…..

  8. Kisah Nyata ternyata bisa seindah Novel… Dulu pertama kali saya baca novel Laskar Pelangi saya kira hanya fiktif. Ternyata potret bangsa kita pada umumnya hehehe

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s