Pendidikan yang Memanusiakan

Lomba mewarnai di Jasmine Al Muflihun (foto: am.azzet)

Hal yang paling mendasar dari pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang memanusiakan. Inilah sebuah proses pendidikan yang dilakukan dengan penuh kesadaran secara terus-menerus untuk memanusiakan manusia. Secara umum, pendidikan memang juga dimaknai sebagai upaya yang dilakukan secara sadar dan terus-menerus untuk mengubah dari yang sebelumnya tidak mengetahui akan sesuatu lantas menjadi tahu akan sesuatu tersebut. Pada saat yang bersamaan, pendidikan bisa dimaknai pula sebagai upaya untuk mengubah kemampuan seseorang yang sebelumnya belum bisa melakukan sesuatu menjadi bisa melakukannya.

Namun, makna pendidikan yang sebagaimana di atas dalam praktik di lapangan jangan sampai justru membelenggu kemanusiaan. Maksudnya begini, pendidikan yang pada awalnya ditujukan untuk mengubah manusia dari yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu atau dari belum bisa melakukan sesuatu menjadi bisa, hasilnya ternyata hanya menciptakan manusia-manusia yang berfungsi seperti robot-robot yang hanya bekerja untuk kepentingan pemodal besar. Anak didik hasil dari pendidikan hanyalah menjadi pekerja yang sama sekali tidak mempunyai kebebasan di sebuah perusahaan.

Pendidikan yang menghasilkan pekerja profesional sebagaimana tersebut memang tidak ada masalah apabila ditinjau dari kacamata pragmatis. Namun, pendidikan yang membebaskan tidaklah demikian. Dalam hal ini, pendidikan mempunyai makna yang sama dengan education dalam bahasa Inggris dan berasal dari bahasa Latin, yakni educare, yang berarti memimpin keluar. Dengan demikian, pendidikan dapat dikatakan sebagai sebuah proses yang membawa para peserta didik keluar dari dirinya sendiri untuk mendapatkan kemanusiaan yang sejati. Yakni, sebuah hakikat kemanusiaan yang bebas untuk melakukan sesuatu dan tidak terbelenggu oleh manusia yang lain.

Dalam pandangan Islam, keberadaan manusia di dunia ini mempunyai dua peran, yakni sebagai abdi yang sekaligus juga sebagai khalifah atau wakil-Nya di bumi. Sebagai abdi, manusia mempunyai kewajiban untuk mengabdi kepada Tuhannya yang menciptakan dan memberinya kehidupan di dunia ini. Pengabdian manusia kepada Tuhannya adalah pengabdian yang murni, yakni tidak menyekutukan-Nya. Di sinilah sesungguhnya manusia hanya patuh dan tunduk kepada Tuhannya. Segala aturan yang membuatnya tidak patuh dan tunduk kepada Tuhannya atau bahkan menyekutukan-Nya, tentu sama sekali tidak boleh dilakukan. Sebagai abdi yang hanya patuh dan tunduk kepada Tuhannya, di sini posisi manusia sesungguhnya mempunyai kemerdekaan dan setara dengan sesama manusia yang lain.

Selain sebagai abdi, peran manusia di dunia ini adalah sebagai khalifah atau wakil Tuhan di bumi ini. Sebagai khalifah, manusia diberi kebebasan sepenuhnya oleh Tuhan agar dapat menjadi wakil-Nya dalam mengelola dan membuat kemakmuran di muka bumi ini. Sungguh, ini bukan peran yang yang main-main dan rendahan. Ini adalah peran yang besar dan mulia. Tidak mungkin peran yang besar dan mulia ini dapat dilakukan oleh orang-orang yang terbelenggu atau bahkan tertindas oleh makhluk lainnya. Peran yang besar dan mulia sebagai wakil Tuhan di muka bumi sudah tentu membutuhkan manusia yang merdeka.

Bila ditinjau dari kesetaraan antara sesama manusia, baik sebagai abdi maupun sebagai khalifah, antara manusia yang satu dengan manusia yang lain tidak dibenarkan saling membelenggu atau mengganggu kemerdekaan yang lainnya. Manusia adalah pribadi yang mempunyai kemerdekaan. Tidak boleh ada yang lebih merdeka di banding yang lain karena mempunyai kekayaan atau kekuasaan yang lebih besar.

Berdasarkan peran manusia di dunia yang sedemikian rupa, maka pendidikan yang diberikan atau dijalani oleh manusia haruslah senantiasa berorientasi kepada penyadaran yang membebaskan. Dengan demikian, pendidikan benar-benar mempunyai peran yang signifikan dalam kehidupan. Pendidikan bukan menjauhkan manusia dari kemanusiaannya yang sejati, melainkan justru mengembangkan kesadaran kemanusiaan.

Keberadaan pendidikan yang memanusiakan ini dinilai sangat penting karena peran pendidikan yang sangat besar dalam membentuk peradaban manusia. Sejalan dengan terus bergulirnya waktu, roda peradaban pun terus berputar dan mengalami perubahan. Di sinilah sesungguhnya pendidikan mempunyai peran besar agar kemanusiaan tidak tergerus oleh zaman. Sebuah pendikan yang membebaskan manusia untuk senantiasa mempunyai kesadaran akan dirinya dan tidak teralienasi dari masyarakat dan dunianya. Pendidikan yang seperti ini adalah sebuah proses dalam membangun kesadaran anak didik agar tidak tercerabut dari realitas sosial. Dengan demikian, peserta didik bukan malah terjauhkan dari kenyataan hidup, melainkan mampu menghadapi persoalan hidupnya dengan baik sekaligus tanpa meninggalkan hakikat kemanusiaannya.

Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dengan kenyataan dan problem sosial yang terjadi. Bila hal ini dilakukan, sudah tentu para peserta didik yang dihasilkan dari pendidikan akan gagap menghadapi kehidupannya sendiri. Bahkan, proses dari pendidikan seakan menjadi tidak berarti. Oleh karena itu, Freire menggunakan konsep problem possing education dalam pendidikan membebaskan yang diterapkannya. Yakni, sebuah pendidikan yang dikonsep untuk bisa menghadapi masalah yang terjadi agar anak didik mampu menghadapi realitas sosial.

Konsep pendidikan yang dihadapkan pada realitas sosial bukan berarti mencetak anak didik menjadi robot atau mesin-mesin yang siap bekerja demi kepentingan industrialisasi dan kapitalisme global. Bila demikian yang terjadi, pendidikan justru menggerus nilai-nilai kemanusiaan yang sesungguhnya. Namun, pendidikan yang dihadapkan pada realitas sosial adalah pendidikan yang membangun kesadaran kritis anak didik dalam menghadapi realitas sosial. Kesadaran kritis ini penting agar anak didik bisa menilai secara jernih sekaligus bisa bersikap untuk bisa menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

Salam Pendidikan Indonesia,
Akhmad Muhaimin Azzet

Nb.
Ohya, bagi para sahabat yang suka dengan dunia pendidikan, atau syukur suka menulis (ada hadiah bukunya lho…, milih sendiri lagi), silakan berkunjung ke situs: www.komunitaspendidikan.com

About these ads

18 Komentar

Filed under Pendidikan

18 responses to “Pendidikan yang Memanusiakan

  1. Afnizar hasan

    Tugas berat bagi pendidik dan orang tua ya Pak Ustad untuk mendidik generasi-generasi muda menjadi manusia sejati yang seutuh nya ,jadi tidak menjadi seperti robot yang pilihan hidup nya telah ditentukan oleh orang yang menciptakannya, semoga mereka diberi kebebasan dalam batas – batas yang tidak menyimpang dari ajaran agama Islam yang kita cintai ini.

  2. manusia yang menjadi robot, mungkin itu sudah menjadi tradisi masa kini ya, pak ustadz? :)

    mungkin utnk menyikapinya adalah dengan cara bekerja dengan penuh ikhlas dan tanggung jawab, supaya tidak merasa menjadi robot. :lol:
    bekerjalah sesuai kemauan dan kemampuan supaya kelak merasa sama-sama membutuhkan. ;)

  3. Pendidikan yang memanusiakan bisa terealisasi jika pendidik jeli pada perkembangan zaman saat ini.

    *
    Tiap hari sowan ke KomunitasPendidikan.com, banyak tulisan bermutu di sana.

  4. blue suka snagat membantu memberikan sedikit ilmu pendidikan yang blue sukai yaitu menulis dan mendidik bagaimana anak anak bisa terus smenagat membacanya ada…………
    jad blue merespon setiap orang yang ingin berbagi ilmu pendidikan apapun itu………..
    semnagat duhai pendidikan di negriku

  5. pendidikan merupakan dasar dari segala hal ya pk ustadz …
    dengan pendidikan segalanya akan mudah tercapai …
    salam …

  6. Ping-balik: [Review] Pengadaan Perpustakan di TPQ Al-Huda. « Langkah Catatanku

  7. Alangkah bahagianya jika anak kita bisa diajar oleh guru yang punya pemahaman seperti Utadz …makasih tambahan wawasannya!!

  8. oma

    Sayangnya pendidikan di Indonesia itu hanya diartikan sebatas pendidikan formal dari SD sampai Perguruan Tinggi. Terkadang kita alpa dengan pendidikan yang remeh temeh seperti PAUD dan TK, padahal masa-masa tersebut adalah masa-masa emas bagi anak untuk menyerap pendidikan dari lingkungan sekitarnya.

  9. makanya diperlukan guru-guru yang berpendidikan, supaya pas ngajar ga asal-asalan :D

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s