Arsip Kategori: Menuju Cahaya

Membaca Surat Al-Fâtihah

Surat al-Fâtihah adalah surat yang pertama kali diturunkan dengan lengkap. Surat ini terdiri dari 7 ayat dan termasuk dalam golongan surat Makkiyyah. Dinamakan al-Fâtihah (pembukaan) karena dengan surat inilah dibuka atau dimulainya kitab suci al-Qur’an.

Surat al-Fâtihah disebut juga sebagai Ummul Qur’an (induk al-Qur’an) atau Ummul Kitâb (induk al-Kitab) karena al-Fâtihah merupakan induk dari semua isi yang ada dalam al-Qur’an. Surat ini dinamakan pula as-Sab’ul Matsâny (tujuh yang berulang-ulang) karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang ketika mengerjakan shalat. Baca lebih lanjut

30 Komentar

Filed under Menuju Cahaya

Dhila13 Photo Challenge: Inspirasi

Subhanallah… Kepadamu, Bapak, aku berguru... (foto: am.azzet)

Seorang bapak berbaju putih dan berkopiah hitam dalam foto di atas adalah satu-satunya jamaah pengajian dari IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, yang memakai sepeda. Sementara jamaah yang lain memakai mobil, atau setidaknya sepeda motor. Foto tersebut saya abadikan dari sebuah kegiatan pengajian jamaah haji di Masjid Al-Muhtadin, Perum Purwomartani Baru, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Sungguh, saya sangat terinspirasi oleh foto dan kenyataan tersebut. Ternyata, bisa menunaikan ibadah haji tidak harus menunggu kaya terlebih dahulu, tetapi niat yang kuat, rajin menabung, dan memohon pertolongan kepada Allah Swt.

Tulisan ini disertakan pada Bukan Kontes Biasa: TASBIH 1433 H di Blog Dhila13.

52 Komentar

Filed under Menuju Cahaya

Bertaubat, Lantas Memperbanyak Amal Shalih

Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada.

Penting untuk ditandaskan di sini, bahwa setelah memohon ampunan dan bertaubat, hal yang mesti dilakukan adalah segera memperbanyak amal shalih. Sebab, tidak sedikit orang yang telah memohon ampunan dan bertaubat tidak segera memperbanyak amal shalih. Mengapa bisa demikian?

Hal ini barangkali ia telah merasa aman dari azab Allah karena telah bertaubat dan tidak melakukan dosa besar lagi. Orang yang semacam ini perlu memahami bahwa bertaubat tidak hanya dari dosa besar saja sebagaimana yang telah kita bahas di muka. Maka, setelah bertaubat segera berbuat banyak kebaikan adalah keharusan bila seseorang ingin hidupnya lebih mulia dan semakin berbahagia. Baca lebih lanjut

44 Komentar

Filed under Menuju Cahaya

Menyongsong Masa Depan yang Lebih Membahagiakan

Hal yang paling mendasar dari ajaran untuk memohon ampunan dan bertaubat kepada-Nya adalah membersihkan seseorang dari dosa yang telah diperbuatnya. Dengan demikian, ia akan dekat dengan rahmat Allah. Ini yang paling penting, sekali lagi, dekat dengan rahmat Allah Swt.

Seseorang yang kehidupannya dekat dengan rahmat Allah Swt., sudah barang tentu kebahagiaan akan mengiringinya. Bila menghadapi kesulitan hidup, misalnya, dia akan mampu menghadapinya dengan baik dan akan semakin meningkatkan ketakwaannya. Atau, dengan rahmat Allah Swt. ia terhindarkan dari kesulitan hidup itu. Sungguh, bersama rahmat Allah Swt. menjalani hidup terasa lebih mudah dan membahagiakan. Baca lebih lanjut

34 Komentar

Filed under Menuju Cahaya

Kaitan Antara Rezeki dan Bertaubat

Agar rezeki semakin bertambah dan barakah, hendaknya seseorang menempuh jalan taubat kepada Allah Swt. Ini adalah solusi yang sering dianggap aneh oleh sebagian orang. Mereka beranggapan bahwa sama sekali tidak ada kaitan antara bertambahnya rezeki dengan bertaubat. Baiklah, dalam risalah sederhana ini, saya ingin mengajak pembaca untuk memahami bahwa ada kaitan erat antara bertambahnya rezeki dengan taubat. Apalagi, bagi seorang muslim, yang diharapkannya bukan hanya bertambahnya rezeki semata, tetapi juga ada nilai barakah dari Allah Swt. Baca lebih lanjut

19 Komentar

Filed under Menuju Cahaya

Kesalahan Sepenuh Langit dan Bumi

Sebesar apa pun dosa yang pernah dilakukan oleh seseorang, Allah Swt. tidak akan memedulikannya lagi, asal ia datang dengan bertaubat kepada-Nya, Allah akan menerima taubatnya dan memberikan ampunan. Asalkan ia datang dengan sepenuh hati untuk bertaubat dan tidak dalam keadaan berbuat syirik.

Dari Anas bin Malik Ra. berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

“Allah Swt. berfirman, ‘Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak akan memedulikannya lagi. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu memenuhi seluruh langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau menjumpai-Ku dalam keadaan tidak berbuat syirik dengan apa pun niscaya Aku akan datang kepadamu dengan pengampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi). Baca lebih lanjut

25 Komentar

Filed under Menuju Cahaya

Seberapa Besar Dosa Kita

Barang siapa menginginkan hidupnya di dunia bahagia, dan sudah barang tentu menginginkan kehidupan yang bahagia pula di kehidupan yang abadi di akhirat kelak, bersegeralah bertaubat kepada Allah Swt.

Tidak ada alasan lagi bahwa dosa di masa lalu terlalu besar. Tak ada alasan lagi bahwa saat ini diri masih berkubang lumpur maksiat. Dan, tak ada alasan lagi untuk menunda lagi. Sebab, siapakah yang tahu bahwa jatah usia yang diberikan Allah kepadanya lebih lama lagi? Untuk itu, mari segera memohon ampun kepada-Nya dan bertaubat dengan kesungguhan hati. Baca lebih lanjut

10 Komentar

Filed under Menuju Cahaya

Taubat Pendosa Besar

Orang yang berbuat syirik (menyekutukan Allah), membunuh, dan berzina adalah orang yang telah melakukan dosa besar. Mereka adalah para pendosa besar.

Allah Swt. berfirman:

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.” (QS. Al-Furqaan [25]: 68-69)

Firman Allah Swt. sebagaimana tersebut sering dijadikan dalil bahwa betapa besar dosa syirik, membunuh, dan berzina. Sungguh, mereka akan kekal dalam azab dan dalam keadaan terhina.

Penggunaan dalil tersebut tidak salah; memang demikianlah pembalasan bagi orang-orang yang berbuat syirik, membunuh, dan berzina. Na’udzu billah tsumma nau’dzu billahi min dzalik. Akan tetapi, ayat tersebut masih ada lanjutannya, kecuali (illa…) bagi orang-orang yang bertaubat, beriman, dan beramal shalih. Selengkapnya, marilah kita perhatikan ayat selanjutnya sebagai berikut:

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal shalih; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Furqaan [25]: 70-71)

Subhanallah, sungguh Allah Swt. adalah Dzat Yang Maha Penerima taubat bagi para hamba-Nya. Sebesar apa pun dosa manusia bila ia datang kepada Allah untuk memohon ampunan dan bertaubat maka tidak ada penghalang baginya.

Bila dahulu ia berbuat syirik maka ia datang kepada Allah memohon ampunan dan bertaubat untuk tidak berbuat syirik lagi; ia membersihkan hatinya dari noda syirik dan tidak akan berbuat syirik lagi. Demikian pula bila dahulu ia berzina atau membunuh, maka ia datang kepada Allah dengan memohon ampunan dan bertaubat untuk tidak berzina atau membunuh lagi.

Pintu taubat terbuka lebar untuk para pendosa selama ia mau bertaubat dan memohon ampunan. Senyampang nyawa belum di ujung tenggorokan; senyampang matahari belum terbit dari barat. Setelah bertaubat, amalannya adalah menebus kesalahan masa lalu dengan memperbanyak amal shalih.

Demikianlah, semoga kita termasuk orang yang bertaubat, beriman, dan beramal shalih.

Al-Faqir ila Rahmatillah,
Akhmad Muhaimin Azzet

13 Komentar

Filed under Menuju Cahaya

Allah Swt. Senang Menerima Taubat Hamba-Nya

Kadang kala ada seseorang yang karena telah melakukan banyak perbuatan dosa, ia merasa bahwa Allah tak mungkin mengampuni dosa-dosanya. Sebenarnya, di saat-saat tertentu hati nuraninya memberontak ingin mengakhiri perbuatan maksiatnya. Jiwanya yang fitrah telah mengalami kelelahan yang luar biasa. Namun, karena anggapan bahwa dirinya sudah telanjur masuk ke dalam lumpur dosa yang terlalu dalam, ia merasa sudah terlalu kotor, akhirnya ia memutuskan untuk tidak perlu bertaubat. Ia beranggapan bahwa dosanya terlalu besar dan tak mungkin diampuni. Maka, ia merasa percuma bila bertaubat.

Menghadapi orang yang semacam ini, sungguh izinkan saya berbisik lembut di dekat telinganya, bahwa Allah Ta’ala senang atau gembira menerima taubat hamba-Nya. Dalam hal ini, ini ada sebuah hadits shahih dari Abu Hamzah Anas bin Malik al-Anshari, berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

“Sesungguhnya Allah gembira menerima taubat hamba-Nya, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian ketika menemukan kembali untanya yang hilang di padang yang luas.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Saudaraku tercinta, coba Anda bayangkan, dalam sebuah perjalanan yang jauh di sebuah padang yang luas, Anda membawa sebuah kendaraan unta. Oleh karena suatu hal, unta itu berlari meninggalkan Anda, lantas hilang entah ke mana. Padahal, di punggung unta itu terdapat bekal perjalanan Anda, termasuk makanan dan minuman. Anda kelelahan mengejar dan mencarinya, sehingga Anda terduduk di bawah sebuah pohon dengan hati yang benar-benar putus asa untuk menemukan kembali unta kendaraan Anda. Lalu, Anda tertidur.

Ketika Anda bangun dari tidur, membuka pelan-pelan mata Anda, dan yang pertama kali Anda lihat di depan Anda adalah unta kendaraan Anda lengkap dengan perbekalan Anda yang tiba-tiba sudah kembali. Bagaimana perasaan Anda? Sudah barang tentu, Anda sangat senang atau gembira sekali. Dalam hadits tersebut, Rasulullah Saw. menyebutkan bahwa Allah Swt. gembira menerima taubat hamba-Nya; melebihi kegembiraan sebagaimana Anda saat menemukan unta kendaraan Anda kembali.

Jika memang demikian adanya, sungguh tidak ada alasan lagi bagi seseorang yang merasa telah banyak berbuat dosa untuk takut tidak diterima taubat kepada-Nya. Betapa Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang kepada hamba-Nya. Bahkan, rahmat Allah mengalahkan amarah-Nya. Dalam hal ini, marilah kita renungkan sebuah hadits yang diceritakan oleh Abdan, dari Abu Hamzah, dari al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah Ra., dari Nabi Saw., beliau bersabda:

“Setelah Allah menciptakan seluruh makhluk, Dia menulis dalam Kitab-Nya, Dia menuliskan (ketetapan) atas diri-Nya dan Kitab itu diletakkan di sisi-Nya di atas ‘Arsy (yaitu): ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku.” (HR. Bukhari).

Berdasarkan hadits tersebut, semestinya kita segera memantapkan hati untuk senantiasa bertaubat kepada-Nya. Bukan malah sebaliknya, dengan dalih bahwa rahmat Allah mengalahkan amarah-Nya, malah tidak segera bertaubat kepada-Nya. Sungguh, ini adalah kesalahan yang sangat fatal. Sebab, siapakah yang bisa menjamin di waktu ke depan masihkah ada kesempatan bagi kita bertaubat bila ajal tiba-tiba menjelang?

Maka, marilah segera kita menuju kegembiraan Allah Swt. bila hamba-Nya bertaubat atas segala kesalahan yang telanjur terjadi. Marilah menjadi hamba yang tidak berlama-lama dalam gelimang dosa, dan segera menuju hidup yang penuh kebahagiaan dalam ridha-Nya.

Al-Faqir ila Rahmatillah,
Akhmad Muhaimin Azzet

16 Komentar

Filed under Menuju Cahaya

Kesempatan Bertaubat

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah merentangkan tangan-Nya pada malam hari memberi kesempatan taubat bagi pelaku kesalahan pada siang hari dan merentangkan tangan-Nya pada siang hari memberi kesempatan taubat bagi pelaku kesalahan pada malam hari, sampai kelak matahari terbit dari barat (hari kiamat).” (HR. Muslim).

Betapa Allah Swt. teramat sayang kepada kita. Ketika langkah terpeleset dan telanjur melakukan perbuatan dosa, kita masih diberi kesempatan bertaubat oleh-Nya. Namun, sayang sekali, tidak jarang di antara kita tidak pandai memanfaatkan kesempatan baik yang diberikan oleh Allah Swt. tersebut.

Kebanyakan dari kita ketika melakukan dosa tidak segera menyadari kesalahan dan bertaubat. Seakan kita meyakini bahwa usia kita masih panjang dan masih banyak kesempatan untuk mohon ampun dan memperbaiki diri. Padahal, satu pun di antara kita tidak ada yang mengetahui apakah besok pagi, atau nanti malam, atau bahkan semenit ke depan kita masih diberi jatah hidup oleh Allah atau mesti berakhir dengan datangnya Malaikat Maut kepada kita.

Sungguh, bila maut telah datang, satu pun di antara kita tidak ada yang mampu memajukan atau mengundurkan waktunya. Dalam hal ini, marilah kita perhatikan firman Allah Swt. sebagai berikut:

“…Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).” (QS. Yunus [10]: 49).

Maka, alangkah ruginya bila waktu yang masih kita punyai ini tidak kita gunakan untuk memohon ampunan dan bertaubat kepada-Nya. Mumpung nyawa masih dikandung badan. Bila nyawa sudah sampai di tenggorokan, yakni pada saat dicabut oleh Malaikat Izrail, maka sia-sialah taubat kita. Sungguh, alangkah menyesal dan ruginya bila menjadi orang yang tidak diterima taubatnya.

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai ke tenggorokan.” (HR. Ahmad).

Saudaraku, semoga dengan pembahasan sederhana ini, kita semakin memahami dan menyadari bahwa memohon ampunan dan bertaubat tidak mesti hanya kita lakukan seusai berbuat dosa besar semata. Meski kita sudah tidak melakukan dosa besar (semoga), kita pun harus selalu memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah Swt. dari dosa-dosa kecil, dan seterusnya. Dengan demikian, semoga kehidupan kita senantiasa dalam rahmat-Nya.

Al-Faqir ila Rahmatillah,
Akhmad Muhaimin Azzet

12 Komentar

Filed under Menuju Cahaya