Arsip Tag: anak

Pendidikan yang Demokratis

Akhmad Muhaimin Azzet, santri TPA Al-Muhtadin, amazzet

Penulis bersama santri TPA Al-Muhtadin, Yogyakarta.

Pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang demokratis. Sebuah proses pendidikan yang hubungan guru dan murid dapat berimbang sehingga bisa saling menyampaikan pendapat dan pikiran. Guru tidak hanya menyampaikan materi sedangkan di pihak lain murid hanya mendengarkan dan menerima apa adanya. Dalam pendidikan yang demokratis murid juga sangat penting untuk didengar pendapatnya, diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya, atau dihargai apa yang menjadi keinginannya dalam proses belajar mengajar.

Dalam banyak pengamatan di lapangan, memang tidak mudah dalam mempraktikkan pendidikan yang demokratis ini. Hal ini barangkali masih kuatnya pandangan bahwa guru tentu lebih pandai dan mempunyai ilmu pengetahuan yang banyak ketimbang muridnya. Guru itu tugasnya adalah mendidik dan mengarahkan anak didiknya untuk menjadi lebih baik dan pintar daripada sebelumnya. Hanya seorang gurulah yang bisa mengantarkan anak didiknya untuk mencapai kehidupan yang sukses dan berhasil mencapai cita-citanya. Baca lebih lanjut

34 Komentar

Filed under Pendidikan

Guru yang Berperan sebagai Orangtua Kedua bagi Murid

mengaji di al-muhtadin, akhmad muhaimin azzetSeorang guru harus bisa menjalin ikatan batin yang kuat dengan anak didiknya. Sungguh ini penting agar seorang guru bisa berperan menjadi orangtua kedua bagi para murid supaya mereka merasa nyaman sekaligus menyenangkan belajar di sekolah. Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan oleh seorang guru:

a. Membangun Rasa Kasih dan Sayang

Rasa kasih dan sayang yang perlu dibangun adalah rasa kasih sayang sebagaimana orangtua kepada anaknya. Karena seorang guru bukanlah orangtua kandung bagi anak didiknya, sudah tentu ekspresi dan bentuknya berbeda dengan orangtua kandung mereka dalam memberikan rasa kasih dan sayang. Bahkan, beberapa pendapat mengatakan, memang harus berbeda terutama kaitannya dengan kedekatan secara fisik karena pertimbangan nilai dan etika yang semestinya berlaku. Namun, meskipun ekspresi dan bentuknya berbeda, rasa kasih dan sayang yang bersumber dari dalam hati tetaplah perlu dibangun dengan sebaik-baiknya oleh seorang guru yang ingin dicintai oleh anak didiknya. Baca lebih lanjut

34 Komentar

Filed under Pendidikan

Guru yang Bisa Jadi Orangtua Kedua

Bersama santri Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) Al-MuhtadinMenjadi guru tentu menyenangkan. Apalagi yang berhasil bersama-sama anak-anak didiknya dalam meraih tujuan pendidikan yang telah direncanakan. Guru yang demikian  dituntut untuk menjadi pribadi yang dicintai oleh anak didiknya. Sebab, dengan adanya rasa cinta dari anak didiknya, mereka akan bersemangat dalam belajar.

Guru yang dicintai oleh anak didiknya adalah ia yang bisa berperan sebagai orangtua kedua bagi mereka ketika berada di sekolah. Anak didik adalah pribadi yang sesungguhnya masih membutuhkan kasih sayang dan teladan yang baik dalam masa perkembangan jiwanya. Di sinilah mereka sangat membutuhkannya dari kedua orangtuanya dalam kehidupan sehari-harinya ketika berada di rumah. Selain di rumah, lingkungan kedua bagi anak didik adalah berada di sekolah, di sinilah anak didik juga membutuhkan orang yang bisa memberikan kasih sayang dan teladan yang baik, yakni dari gurunya. Baca lebih lanjut

27 Komentar

Filed under Pendidikan

Anak Anda Memberontak?

kompakDi beberapa postingan sebelumnya, saya sudah pernah membahas anak memberontak ini. Kali ini izinkan membahasnya oleh sebab yang lainnya, yakni anak merasa mendapatkan tugas yang banyak.

Tugas yang diterima si anak dan harus dipenuhi atau dilaksanakan bisa jadi datang dari orangtua atau sering kali datang dari sekolah. Tugas ini bisa menjadi hal yang menyenangkan bagi anak. Namun, tugas tidak jarang juga menjadi sesuatu yang sama sekali tidak menyenangkan hati sang anak. Hal ini terjadi apabila tugas yang diterima anak dirasakannya terlalu banyak sehingga menjadi beban dalam hidupnya. Apalagi jika tugas yang sudah dianggapnya sebagai beban itu tidak dapat dipenuhi oleh anak maka kecenderungan yang terjadi adalah anak menunjukkan sikap memberontak. Baca lebih lanjut

29 Komentar

Filed under Keluarga

Tidak Menjaga Jarak dengan Anak Didik

ustadz azzet bersama santriGuru yang dicintai oleh anak didik adalah guru yang tidak menjaga jarak dengan mereka. Tidak menjaga jarak yang dimaksudkan di sini adalah sengaja mendekatkan diri dengan anak didiknya untuk membangun keakraban. Sebab, tidak sedikit guru yang dengan alasan menjaga wibawa maka tidak mau dekat-dekat dengan anak didiknya. Atau, kalau dalam istilah sekarang, guru yang “jaim” (jaga image). Baca lebih lanjut

31 Komentar

Filed under Pendidikan

Mengatasi Anak yang Memberontak

anak-anak di rumah mas azzetAnak memberontak pasti ada sebabnya. Nah, untuk mengatasinya tentu kita harus mengetahui apa penyebab anak memberontak. Di antara penyebab dan cara mengatasinya adalah sebagai berikut:

Orangtua Menuntut Secara Berlebihan
Orangtua kadang menginginkan agar anaknya melakukan sesuatu atau bersikap sesuai dengan yang dinginkannya; atau orangtua memerintahkan kepada anaknya untuk melakukan sesuatu dengan cara mendesak. Namun, bila hal ini yang dilakukan oleh orangtua, biasanya orangtua tidak akan mendapatkan hasil yang diinginkannya. Anak cenderung memberontak atau tidak mau melaksanakan apa yang dituntutkan kepadanya bila dilakukan secara berlebihan atau diperintah secara mendesak. Di saat seperti ini, orangtua semestinya memahami kondisi sang anak. Cara yang paling efektif untuk mengatasi anak yang memberontak akibat dari “tekanan” dari orangtua seperti ini adalah mengurangi ketegangan dengan cara orangtua memberikan kesempatan kepada anaknya untuk melakukan sesuatu atau bersikap sesuai dengan keinginan, kondisi, dan kebutuhannya. Baca lebih lanjut

31 Komentar

Filed under Keluarga

Guru yang Bisa Memberikan Penghargaan

Seorang guru yang dicintai oleh murid-muridnya adalah yang bisa memberikan penghargaan kepada murid-muridnya. Penghargaan yang dimaksudkan di sini tidak harus bermakna penghargaan yang berupa materi atau pemberian hadiah berupa barang. Penghargaan juga bisa diberikan hanya dengan kata-kata yang bermakna positif dan menyenangkan. Misalnya, pada saat seorang anak didik berhasil menyelesaikan pekerjaannya, seorang guru berkomentar, “Bagus sekali, ternyata kamu bisa menyelesaikannya dengan baik.” Sudah tentu, sang anak akan merasa senang karena apa yang telah dilakukannya mendapatkan penghargaan dari gurunya. Baca lebih lanjut

16 Komentar

Filed under Pendidikan

Memahami Teori Perkembangan Anak: Langkah Penting Sebelum Mengembangkan Potensinya

Penulis bersama santri TPA Al-Muhtadin

Sebelum memahami potensi anak dan bagaimana cara mengembangkannya, perlu bagi kita untuk memahami teori dalam perkembangan anak. Teori pertama yang perlu kita ketahui adalah teori nativisme. Teori ini pertama kali digagas dan dikemukakan oleh Schopenhauer. Menurut teori ini, perkembangan manusia ditentukan oleh faktor-faktor nativus, yaitu faktor-faktor keturunan yang merupakan faktor yang dibawa pada waktu melahirkan. Baca lebih lanjut

27 Komentar

Filed under Keluarga

Peran Penting Orangtua dalam Mencerdaskan Anak

Kita sadar dan mengetahui bahwa anak-anak yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita sudah dibekali dengan potensi-potensi yang sangat penting untuk dikembangkan demi kesuksesan kehidupannya di masa mendatang. Potensi yang diberikan Tuhan itu tidak bisa kita biarkan begitu saja agar sang anak berkembang dengan sendirinya. Atau, kita biarkan saja potensi yang dahsyat itu sehingga tidak berkembang dan akhirnya malah berakibat menjadi tidak berguna sama sekali bagi kehidupan anak kita. Baca lebih lanjut

31 Komentar

Filed under Keluarga

Mudah Dipahami

Beberapa hari yang lalu ketika mengisi sebuah pengajian tentang pentingnya shalat fardhu, ada seorang ibu yang bertanya tentang bagaimana caranya menerangkan kepada anaknya saat bertanya, “Bu, kok hari ini tidak shalat?” Sang ibu kebingungan harus menjawab apa kepada anak perempuannya yang masih TK sebab ia tidak shalat karena sedang haid.

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, tiba-tiba saya teringat dengan apa yang pernah disampaikan Ali bin Abi Thalib r.a, “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar pengetahuan mereka.” Demikian sebagaimana yang diriwayatkan Bukhari.

Maka, saya menyampaikan kepada sang ibu tersebut hendaknya menjawab pertanyaan anaknya sesuai dengan kadar pemahamannya sebagai anak kecil. Misalnya, “Anakku, setiap wanita yang sudah beusia sepuluh tahun, atau kadang ada yang mulai usia sembilan tahun, akan mengalami haid. Apa itu haid? Haid adalah bla bla bla, silakan diterangkan dengan kadar pemahaman anak yang bisa dibaca dari ekspresi wajahnya ketika diterangkan dan pengetahuannya selama ini ketika dalam sehari-hari berkomunikasi dengan keluarga. Baca lebih lanjut

33 Komentar

Filed under Keluarga