Arsip Tag: damai

Menjalin Silaturahmi

Agar kita dapat menjalin silaturahmi dengan baik, marilah kita pahami terlebih dahulu apa itu silaturahmi. Silaturahmi berasal dari dua kata yang digabungkan, yakni shilah dan rahm. Shilah berarti hubungan atau menghubungkan, sedangkan rahm mempunyai dua makna, yang pertama berarti kelembutan atau kasih sayang, yang kedua bermakna peranakan (rahim) atau kekerabatan yang masih ada pertalian darah (persaudaraan). Dengan demikian, silaturahmi berarti menjalin hubungan kasih sayang; silaturahmi juga bisa berarti menjalin hubungan kekerabatan.

Berangkat dari makna silaturahmi sebagaimana di atas, menjalin silaturahmi berarti menjalin hubungan kasih sayang dengan kerabat maupun dengan orang lain. Dengan demikian, seseorang belum dikatakan bisa menjalin silaturahmi bila dengan orang lain baik, tetapi dengan saudara sendiri malah tidak rukun. Sebaliknya, baik sekali hubungannya dengan saudara, namun tidak baik dengan orang lain, perilaku yang demikian pun belum memenuhi kriteria silaturahmi. Baca lebih lanjut

33 Komentar

Filed under Ibadah

Menebar Salam

Belajar menebar salam: santri TPA Al-Muhtadin saat menengok salah satu santri yang baru dikhitan.

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan sebuah hadits bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bertemu dengan saudaranya, maka hendaklah ia mengucapkan salam kepadanya. Dan seandainya di antara keduanya terpisah oleh pohon, dinding, atau batu, kemudian bertemu kembali maka hendaklah ia mengucapkan salam lagi.” (HR Abu Dawud).

Salam yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah ucapan “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. Sungguh, ucapan salam ini berbeda dengan ucapan, misalnya, “Selamat pagi” dalam bahasa Indonesia, “Sugeng enjang” dalam bahasa Jawa, “Good morning” dalam bahasa Inggris, atau “Hayakallah” yang biasa diucapkan oleh orang-orang Arab sebelum datangnya Islam. Baca lebih lanjut

23 Komentar

Filed under Hikmah

Batu-Batu Itu

aku melihat batu-batu itu mengeras di hatimu
bongkahnya tajam melebihi karang dan belati
bertabrakan, menjadikanmu luka tiada henti
tetapi barangkali hanya kebutaan membuatmu
betapa bangga menyusuri lorong gelap kota
dan cuma kemunafikan, perih namun tertawa

Bumidamai, Yogyakarta.

4 Komentar

Filed under Jiwa Merindu