Batu-Batu Itu

aku melihat batu-batu itu mengeras di hatimu
bongkahnya tajam melebihi karang dan belati
bertabrakan, menjadikanmu luka tiada henti
tetapi barangkali hanya kebutaan membuatmu
betapa bangga menyusuri lorong gelap kota
dan cuma kemunafikan, perih namun tertawa

Bumidamai, Yogyakarta.

4 Komentar

Filed under Jiwa Merindu

4 responses to “Batu-Batu Itu

  1. Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh, mas Amazzet…

    Nukilan puisi yang sungguh puitis dan bermakna dalam. Banyak kita tidak menyedari hati kita semakin membatu setiap hari. Ia bukan sahaja melukan hati sendiri tetapi juga meluka parahkan hati orang lain.

    Tiada kelunakan bahasa dalam berbicara. Tiada kelembutan dalam bertingkah. Tiada senyuman yang mekar di bibir tika bersapa. Tiada salam dihulur tika bertemu. Kasih sayang sudah semakin hilang dari sebuah jiwa yang dibekukan oleh lidah yang tidak dibasahi zikrullah. Masya Allah. Sedih melihat umat Islam yang semakin terbabas dari keindahan sahsiah Islamiyyah.

    Semoga kita selalu terpelihara dalam bersilaturahmi dan menjadikan peribadi unggul Rasulullah SAW dalam berinteraksi sesama manusia.

    Saya selalu menyukai bahasa yang mas Amazzet gunakan dalam puisi mas, sarat dengan makna yang mendalam. Salut ya dan terus berkarya untuk manfaat bersama.

    Salam mesra selalu dari saya di Sarikei, Sarawak.

    • Wa’alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh,

      Demikianlah, Bunda, bila kita tak memelihara hati kita, kian hari kan mengeras dan membatu. Bila sudah begini, kebenaran pun bisa ditolak. Oleh karena itu, semoga kita bersama keluarga dan saudara-saudara yang lain bisa memelihara hati kita dengan penuh ketaatan kepada Allah Swt.

      Ohya, makasih banyak ya, Bunda, telah singgah kemari. Semoga menjadi silaturahmi yang menjadikan kita senantiasa mendapatkan rahmat dari Allah ‘Azza wa Jalla. Allahumma amin.

      Salam hangat selalu dari Indonesia.

  2. Semoga hati kita tidakkan selamanya mengeras bagaikan batu cadas.
    Sekeras apa pun batu itu bisa kan luruh dan larut oleh tetesan kristal air yang jatuh setia satu persatu.
    Semoga hati itu kan mencair dengan tetes embun kesadaran,ampunan dan magfirah dariNya.

    • Benar sekali, Saudaraku, betapa pentingnya tetes embun kesadaran dan maghfirah dari-Nya. Semoga dengan demikian, hati kita senantiasa lembut dan senantiasa mendapatkan hidayah dari Allah ‘Azza wa Jalaa. Allahumma amin….

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s