Poetry Hujan: Menunggu Hujan

duduk di tumpukan daun jati yang mengering
ada yang pelahan meranggas di sekujur tubuhku
serupa kambium, pori-pori ini memecah hening
akar persoalan pun  merangsek menuju rindu

ya, rindu tetes demi tetes kesegaran dari langit
serupa hujan yang menumpahkan air cinta
bagi kemarau panjang atau dada yang terhimpit
segeralah, duhai, doa pun telah kering air mata

Bumidamai, Yogyakarta

 

Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis.

Iklan

35 Komentar

Filed under Jiwa Merindu

35 responses to “Poetry Hujan: Menunggu Hujan

  1. lagi musim panas ya pak?
    hujan merupakan berkah dariNya…

  2. Assalamu’alaikum. Ini kunjungan pertama saya di sini. Subhanallah! ternyata ustadz pandai berpuisi juga!

    • Wa’alaikumusalam wr.wb.
      Akhi Abi Sabila, makasih banyak ya atas kunjungannya. Iya neh, ikut-ikutan Mas Mabruri Sirampog tuh bikin puisi tentang hujan, hehe… Ohya, blog Akhi baru ya… selamat ya…. dan langsung meluncur ke lokasi….

  3. terimakasih atas partisipasi sahabat dalam kuis Poetry Hujan..^^

    *saat ini juga kita sedang menunggu hujan ya pak..salam saya…

  4. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Amazzet…

    Puisi memberi kesegaran dalam menuangkan kata yang luar dari biasa. Itulah kelebihan bagi mereka yang cintakan menulis dan membaca. Banyak hal yang boleh digubah jika menulis menjadi satu kemahiran. Bermula menulis perkara biasa hingga akhirnya menulis puisi di mana tidak semua orang bisa melakukannya walau ia sangat mudah jika mahu.

    Hujan adalah anugerah yang amat bermakna buat menghidupkan semua makhluk di muka bumi ini. Tanpa hujan kehidupan akan mati, suram dan menderita. Allah yang maha menghidup dan mematikan segala apa yang diciptakannya menurut kehendak-Nya. Oleh itu, manusia selalu harus bersyukur dengan nikmat titisan air yang menyuburkan jiwa raga.

    Puisinya ringkas mas, tetapi maknanya amat dalam untuk kita fikirkan apa yang sedang berlaku di muka bumi ini. Hanya ketika musibah melanda, baru kiranya manusia berhajat kepada yang Maha Esa. Subhanallah, doa adalah senjata bagi orang mukmin dan berdoalah, insya Allah doa kita didengar oleh Yang Maha Mendengar.

    Hargailah apa sahaja kurnia Allah walau hanya dari setitik air yang turun dari langit apatah lagi setitik air mata yang mengandungi seribu macam cerita dalam kehidupan kita. Puisi ini mewakili rintihan hati manusia sejagat yang memerlukan air di dalam kegersangan jiwa dan kehidupannya walau di mana sahaja ia berada.

    Semoga sukses dalam kontesnya mas. Saya mendoakan mudahan ada kebaikan menyusuli puisi indah ini.

    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak. 😀

    • Wa’alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh

      Iya, Bunda, ketika pertama kali belajar menulis, saya memang belajar menulis puisi. Betapa senangnya waktu itu saat kelas dua Tsanawiyah (SLTP) di Jombang sana, puisi saya dimuat oleh sebuah majalah terbitan Surabaya. Setelah itu, saya semakin senang menulis puisi. Tapi, begitulah puisi, hingga kini pun rasanya saya masih belajar untuk menulis puisi.

      Termasuk menulis puisi tentang hujan. Terima kasih banyak, Bunda Siti Fatimah Ahmad. Ulasan Bunda tentang puisi “Menunggu Hujan” yang saya tulis sungguh luar biasa. Jujur, saya malah tidak membayangkan sebelumnya. Justru di sinilah saya mendapatkan ilmu dari Bunda. Untuk itu, sekali lagi, saya perlu mengucapkan terima kasih, termasuk doanya.

      Salam hangat persaudaraan dari Jogjakarta.

  5. bau hujan itu bikin ngangenin 😀

  6. Semoga hujan segera datang ya, Pak. Agar tanah menjadi basah atau hati menjadi lega 🙂
    Salam kenal ya, Pak… 🙂

  7. ejawantahblog

    Setetes air hujan yang membasahi bumi dapat menyejukkan hati setiap insan manusia.
    Salam kenal pada kunjungan perdana ini Pak. Sukses selalu,

    Salam
    Ejawantah’s Blog

  8. Irfan Handi

    Semoga kita semua selalu diberikan berkahnya melalui hujan. Amin.

  9. Ni kemarau, hujan memang dirindukan, sampai dilombakan juga. Semoga menang pak…

  10. Sya

    Baca ini pas lagi hujan 🙂

  11. Puisi hujan bertaburan di mana-mana..
    ini salah satu yang saya suka

  12. Sebuah doa sederhana untuk alam yang tengah gundah didera kemarau.
    Semoga menang ya Pak 🙂

  13. dwiewulan

    wah ternyata puitis .. subhanallah… bisa gak ya saya? hehe

  14. Usup Supriyadi

    kapankah kau datang, hujan?
    jangan biarkan hidup namun ladang hati kering kerontang
    o, hujan
    kiranya gerimis pun tak mengapa datang

  15. hujan yang dinanti telah datang
    doapun senantiasa berkumandang
    menghatur syukur alhamdulillah di haribaan
    semoga menang dalam perlombaan ^_^

  16. masih musim panas nie

  17. hujan memberikan ketengan tersendiri

    saya suka postingan ini 🙂

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s