Melatih Anak Terampil MPM

Anak-anak perlu dilatih untuk terampil MPM (Maaf, Permisi, dan Makasih) dalam rangka mengembangkan kecerdasan sosialnya. Penjelasan dari ketiga latihan dasar tersebut adalah sebagai berikut:

a. Maaf; atau Permintaan Maaf kepada Orang Lain

Santri TPA Al-Muhtadin, Perum Purwomartani Baru, Yogyakarta.

Ini adalah latihan untuk terbiasa meminta maaf kepada orang lain apabila kita melakukan tindakan tidak sengaja (apalagi sengaja), namun ternyata tindakan tersebut bisa mengganggu atau melanggar hak orang lain. Misalnya, dengan tidak sengaja anak kita menyenggol pot bunga di teras rumah kita sendiri, pot tersebut akhirnya jatuh dan berserakan di lantai, dan pada saat yang sama ada tamu yang akan kita persilakan masuk ke dalam rumah kita. Meskipun anak kita menjatuhkan pot bunga di rumah kita sendiri, dan pot bunga itu pun milik kita sendiri, segera kita minta maaf, dan anak kita pun kita minta untuk meminta maaf, kepada tamu tersebut barangkali terganggu kenyamanannya dengan jatuhnya pot tersebut.

Kesadaran untuk segera meminta maaf kepada orang lain ini sangat penting untuk kita lakukan apabila kita melakukan tindakan yang menurut kita bisa mengganggu orang lain, terlepas dari orang tersebut akhirnya bilang tidak masalah atau merasa tidak terganggu dengan tindakan kita. Sungguh, sikap ini sangat perlu kita biasakan kepada anak-anak kita karena tidak jarang kita menemui orang-orang yang dengan jelas-jelas melakukan sebuah kesalahan kepada orang lain, namun sangat sulit baginya untuk bisa meminta maaf. Sehingga, tidak sedikit orang lain yang akhirnya menjauhi orang yang tidak bisa meminta maaf tersebut karena dianggapnya angkuh, tinggi hati, atau sombong.

Bila seseorang biasa meminta maaf kepada orang lain jika melakukan tindakan yang dianggap mengganggu orang lain maka orang tersebut dinilai mempunyai kepribadian yang menyenangkan. Sungguh, kepribadian yang menyenangkan adalah modal penting agar seseorang bisa menjalin hubungan dengan relasi atau orang lain secara mengesankan.

b. Permisi; atau Mengucapkan Permisi kepada Orang Lain

Mengucapkan permisi kepada orang lain ini perlu kita biasakan kepada anak-anak kita apabila akan melakukan sesuatu tindakan, namun tindakan tersebut dikhawatirkan bisa mengganggu kenyamanan orang lain. Misalnya, kita perlu membiasakan anak-anak kita untuk mengucapkan permisi ketika akan melewati kerumunan orang-orang yang sedang duduk. Setelah mengucapkan permisi, kemudian kita atau anak-anak kita berjalan dengan sedikit menunduk.

Mengucapkan permisi kepada orang lain ini memang erat kaitannya dengan etika dalam sebuah pergaulan. Oleh karena itu, orang yang peka dan bisa memahami masalah ini akan dengan ringan hati dalam melakukannya. Namun, tidak sedikit orang yang kurang bisa memahami masalah ini. Misalnya, ada seorang suami yang memasuki kantor istrinya dan menemui istrinya tanpa minta izin untuk masuk atau permisi kepada teman-teman istrinya atau karyawan yang lainnya. Ia masuk begitu saja, padahal seorang lelaki atau suami tersebut melewati banyak karyawan lain di ruang depan. Sudah barang tentu, tindakan laki-laki tersebut, yang mulutnya enggan untuk mengucapkan permisi, akhirnya menjadi penilaian tersendiri di benak teman-teman istrinya, bahwa laki-laki tersebut mempunyai kepribadian yang tidak menyenangkan.

Pada hakikatnya permisi adalah meminta izin, perkenan, bahkan maaf apabila perbuatan yang kita lakukan itu barangkali mengganggu hak orang lain. Hak di sini lebih kepada kenyamanan, bukan hak kepemilikan sebuah barang. Misalnya, permisi mau lewat, permisi mohon diri duluan di sebuah pertemuan, atau permisi minta izin untuk masuk ke sebuah rumah. Bukan permisi dalam arti permisi akan mengambil mangga di kebun tetangga atau permisi akan memakai motor orang lain yang sedang diparkir; sebab untuk kasus yang pertama bisa dilakukan dengan meminta sedangkan untuk kasus yang kedua bisa dilakukan dengan meminjam.

c. Makasih; atau Mengucapkan Terima Kasih kepada Orang Lain

Mengucapkan terima kasih kepada orang lain perlu kita latihkan kepada anak-anak kita tidak saja apabila kita menerima pemberian yang bersifat materi atau yang bernilai besar saja. Sungguh, kita juga perlu untuk membiasakan anak-anak kita—dan kita pun memberikan contoh—agar segera mengucapkan terima kasih kepada orang lain, meskipun yang diberikan orang lain itu hal yang kecil atau biasa saja. Misalnya, buku kita terjatuh, dan teman kita atau orang lain yang kebetulan sedang berada di dekat kita ikut membantu untuk mengambilkan buku kita yang jatuh tersebut. Kepada orang yang membantu tersebut, kita sangat perlu untuk segera menyampaikan terima kasih.

Mengucapkan terima kasih juga perlu kita sampaikan kepada orang lain yang memberikan ide, saran, bahkan kritik kepada kita. Mengucapkan terima kasih jangan sampai kita lupakan apabila ada orang lain mengingatkan kita akan sesuatu yang ternyata kita benar-benar lupa atau khilaf. Demikian pula apabila ada orang lain yang memberikan ucapan selamat kepada kita, baik itu ucapan selamat karena kita mendapatkan kesenangan atau ucapan turut bersedih atau berduka apabila kita ditimpa musibah atau bencana. Mengucapkan terima kasih sungguh merupakan hal yang semestinya kita ucapkan apabila kita diberi pinjaman oleh orang lain, meskipun pinjaman itu barang kecil atau biasa saja, misalnya kita meminjam alat pemotong kuku, atau kita diberi selembar tisu oleh orang lain. Mengucapkan terima kasih semestinya kita latihkan kepada anak-anak kita semenjak kecil agar menjadi kebiasaan baik dalam kehidupannya. []

Iklan

19 Komentar

Filed under Keluarga

19 responses to “Melatih Anak Terampil MPM

  1. Sayyidah 'Ali

    Subhanallah,, terimakasih banyak pa, mengingatkan akan hal ini..jazakallah khairan katsiraa,,

  2. benar skali pak ustadz,
    apalagi hidup di zaman sekarang ini ya pak ustadz…
    seolah kata2 Maaf, permisi dan makasih menjadi barang mahal

    • Mas Mabruri, memerhatikan masalah ini, jadi teringat sindirian Gus Mus terhadap pendidikan di negeri ini. Menurut beliau, budi pekerti tidak dianggap penting lagi, karena yang lebih penting adalah prestasi. Kalau dulu ada lagu “itulah murid yang budiman”, sekarang diganti “itulah murid yang berprestasi”. Gus Mus menyindir begini karena sepertinya Indonesia tidak butuh orang yang berakhlak, yang dibutuhkan orang yang berprestasi. Duh, betapa pentingnya masalah akhlak ini.

      • saya pernah membaca dlm suatu hadits, padahal akhlak itu lebih utama.

        Rasulullah Saw bersabda : “Orang-orang yang paling sempurna keimanannya adalah mereka yang terbaik budi pekertinya” ( HR Turmudzi dan Ibn HIbban) Sebagian ulama berkata : “ Orang tidaklah menjadi mulia karena banyak bersembahyang, puasa dan mujahadah. Ia mulai karena kebaikan budi pekertinya”

        Salam kenal buat empunya blog
        Salam silaturahim. 🙂

      • Benar sekali, Mbak Erwin, betapa akhlak adalah hal yang sangat penting untuk kita perhatikan. Bahkan, Syekh Abu Ishak Ibrahim al-Mabtuly pernah menyampaikan, “Barang siapa tidak mempunyai kesopanan, maka dia tidak mempunyai agama, tidak mempunyai iman, dan tidak mempunyai tauhid.”

        Makasih banyak ya, Mbak, atas kunjungannya, dan salam hangat persaudaraan.

  3. fi

    bagaimanalah orang tua saya dulu mendidik saya hingga jadi begini, bisa kuliah gratis di jakarta..
    semoga anak2 pak ustadz pun terdidik dengan baik dan menjadi pejuang dakwah.. Aamiin…

  4. Balidailyphoto

    Tips nya sangat bermanfaat…..

  5. Sama halnya dengan budaya tolong-terimkasih-maaf

    perlu membudayakan hal yang baik2 sejak dini

  6. Permisiii, numpang komen ^_^ … meski baru mengenal istilah MPM tetapi menjadi hal yang sangat penting dalam berkehidupan sosial. Mari kita budayakan MPM ini. Maaf ya karena sudah komen hehehehe dan Makasih sudah mau menampung komen ini *kabooor!

  7. Subhanallah… postingan yang sangat bermanfaat, apalagi di jaman modern kayak gini dan klo hidup d kota besar pasti akan melupakan tradisi ngucapin permisi karena pada acuh tak acuh… sebenernya sepele sich tapi keliatan gak sopan klo kita jalan d hadapan orang tanpa mengucapkan kata permisi 🙂

  8. nice post ustadz.. jauh2 hari ane ketemu salah seorang ustadz, katanya,
    “kurikulum kita di indonesia tertinggal 20 tahun ketimbang negara2 maju”

    tapi bersyukur kita masih peduli dg pendidikan moral yg mjd keutamaan ummat Islam, semangat pendidikan berkarakter untuk Indonesia lebih maju.. !

    • Terima kasih banyak, Mas Syahru Al Banjari, sungguh betapa penting pendidikan akhlak ini; apa gunanya mempunyai kecerdasan intelektual tingga bila akhlaknya buruk. Betapa penting membangun keseimbangan ini. Sungguh, semoga pendidikan kita menjadi lebih baik lagi.

  9. Abed Saragih

    kunjungan dan komentar balik ya gan

    salam perkenalan dari

    sekalian tukaran link ya…

    semoga semuanya sahabat blogger semakin eksis dan berjaya.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s