Berbuat Baik kepada Orang yang Lemah

kita harus berbuat baik dalam hidup di dunia ini, foto kota semarang, akhmad muhaimin azzetBerbuat baik (ihsan) kepada orang yang lemah adalah amalan yang membuat pelakunya mendapatkan rezeki dari Allah Swt. Orang yang lemah (dhuafa) itu adalah orang yang lemah secara ekonomi. Di antara mereka adalah orang yang fakir, miskin, anak yatim, orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan, orang yang sakit namun tidak punya biaya untuk berobat, atau orang yang telantar.

Rasulullah Saw. bersabda:

“Tidaklah kalian semua diberi pertolongan dan diberikan rezeki melainkan karena orang-orang lemah di antara kalian.” (HR. Bukhari)

“Dekatkan dirimu kepada-Ku (Allah) dengan mendekatkan dirimu kepada kaum lemah dan berbuatlah baik kepada mereka. Sesungguhnya kamu memperoleh rezeki dan pertolongan karena dukungan dan bantuan kaum lemah di kalangan kamu.” (HR. Muslim)

Mendekatkan diri kepada orang-orang yang lemah, ternyata adalah salah satu cara dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt. Mendekatkan diri kepada orang yang lemah dalam rangka berbuat baik kepada mereka. Amalan ini tidak selalu dilakukan dengan memberikan sesuatu yang bersifat materi kepada mereka. Dekat dengan orang lain bisa dibangun dengan memberikan perhatian kepada mereka, menemani ketika mendapatkan duka, bahkan hanya dengan menyapa secara hangat.

Dua hal penting yang disampaikan dalam hadits di atas adalah mendekatkan diri kepada orang yang lemah dan berbuat baik. Amalan ini juga bisa dilakukan dengan menjaga sikap kita jangan sampai menghinakan mereka, menganggap sepele, dan menghilangkan sama sekali rasa sombong dalam hati kita. Lebih dari itu, menjadikan mereka sebagai saudara sesama manusia dalam jalinan akrab yang saling menghargai.

Namun, mendekatkan diri dan berbuat baik kepada orang yang lemah dengan memberikan sesuatu, misalnya kesempatan kerja, bantuan keuangan, kebutuhan pokok, atau bahkan biaya pengobatan sudah barang tentu adalah hal yang sangat bernilai utama. Bahkan, amalan ini tidak hanya dibalas di dunia, ketika di akhirat pun menyebabkan pelakunya mendapatkan balasan surga.

Allah Swt. berfirman:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insân [76]: 8)

Pembaca yang tercinta, ketika seseorang melakukan perbuatan baik, sesungguhnya akan berbalik bagi dirinya sendiri. Demikian pula sebaliknya, ketika seseorang berbuat jahat, pada dasarnya kejahatan itu juga bagi dirinya sendiri. Berkaitan dengan perkara ini, marilah kita renungkan firman Allah Swt. sebagai berikut:

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri…” (QS. Al-Isrâ [17]: 7)

Semakin jelas bagi kita bahwa apabila ingin mendapatkan kesuksesan hidup di dunia dan akhirat, hendaknya menjalin kedekatan dengan orang-orang yang lemah dan berbuat baik kepada mereka. Sungguh, amalan ini jangan sampai ditinggalkan bagi Anda yang ingin mendapatkan kelapangan rezeki dari Allah Swt., dan kebahagiaan.

Demikian artikel sederhana ini semoga bermanfaat bagi kita bersama.

Al-Faqir ila Rahmatillah,
Akhmad Muhaimin Azzet

24 Komentar

Filed under Hikmah

24 responses to “Berbuat Baik kepada Orang yang Lemah

  1. Kalau ngasih ke pengemis itu hukumnya apa sih pa ustaz?

  2. sayangnya banyak pengemis sekarang jadi pekerjaan ya, bukan karena kondisi darurat

  3. kadangkala serba salah kalau mau ngasih ke orang yg memang profesinya pengemis..

  4. berbuat baik kepada orang lemah, sekarang sangat jarang terperhatikan, padahal amalan yang sangat mulia..
    Terimakasih ustdz telah di ingatkan..

  5. Ikutan menyimak Ustadz🙂

  6. berbuat baik itu pada siapa saja ya pak…

  7. Semoga bisa mengamalkan🙂

  8. Salam jumpa di rumah blog mas Akhmad…
    Semogalah kita menjadi orang-orang yang suka berbuat baik kepada yang lemah…amiin
    Salamun alaikum…

  9. Saya sering ragu terhadap peminta-minta yang sering dijumpai saat makan di warung atau yang minta sumbangan masjid. sehingga jarang sekali saya memberi kepada mereka. Apakah ini termasuk suudzon pak?

    • Secara halus barangkali termasuk suuzhon karena kita tidak punya bukti yang kuat bahwa ia termasuk yang sungguh2 membutuhkan atau bukan. Oleh karena itu, jika ada keraguan di dalam hati, ya tetap dikasih saja, meski hanya sedikit.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s