Pendidikan Sebagai Proses Transformasi Sosial

Oleh: Akhmad Muhaimin Azzet

Santri Tebuireng gemar membaca sebagai proses pendidikan, foto Akhmad Muhaimin AzzetPendidikan dipandang sebagai hal yang sangat penting bagi anak manusia untuk mencapai perubahan yang lebih baik. Namun, jangan salah, pendidikan juga bisa sebagai sarana untuk melanggengkan kepentingan kekuasaan dan politik tertentu di sebuah komunitas tertentu atau bahkan di sebuah negara. Bila hal ini yang terjadi, pendidikan bukan sebagai proses bagi peserta didik untuk berubah menjadi lebih baik, melainkan hanya menjadi alat kekuasaan untuk melanggengkan kepentingan penguasa.

Pandangan bahwa pendidikan bisa dijadikan sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan memang diamini para pendidik, terutama kalangan pendidik radikal. Menurut mereka, dalam proses pendidikan pada dasarnya tidak ada yang bisa terlepas sama sekali dari kepentingan politik atau sistem ekonomi tertentu untuk melanggengkan kekuasaan. Kenyataan ini sudah terjadi di banyak negara, termasuk di negeri tercinta Indonesia. Untuk kasus di Indonesia, tentu kita masih ingat betapa pendidikan sangat dipengaruhi oleh pemerintah Orde Baru. Tidak hanya masuk pada wilayah kebijakan dan sistem pendidikan secara nasional, namun sampai masuk pada kurikulum dan materi pelajaran yang mesti diajarkan kepada para peserta didik. Misalnya, pelajaran sejarah yang dimanipulasi sedemikian rupa sehingga seakan-akan sang pemegang kekuasaan yang paling menjadi pahlawan. Pengaburan sejarah ini bahkan sampai menghapuskan fakta sejarah yang sesungguhnya penting untuk diketahui oleh peserta didik.

Melihat kenyataan sebagaimana tersebut, maka muncullah pandangan bahwa pendidikan selalu saja digunakan oleh orang-orang yang memegang kekuasaan dalam politik maupun ekonomi untuk melanggengkan kekuasaannya. Bila memang demikian, peran pendidikan tidak lebih dari sekadar sebagai sarana untuk mereproduksi sistem dan sruktur sosial yang tidak adil sebagaimana sistem relasi kelas, rasisme, relasi gender, dan sistem relasi lainnya.

Namun, di pihak yang berseberangan, ada pandangan yang meyakini bahwa pendidikan adalah wahana untuk memproduksi kesadaran para peserta didik agar bisa terbebas dari berbagai macam belenggu, termasuk belenggu kekuasaan dan politik tertentu. Kalangan yang memandang pendidikan sebagai hal yang positif dan mempunyai harapan hidup yang lebih baik ini yakin dengan pendidikan justru bisa menumbuhkan kesadaran kritis para peserta didik.

Untuk membangun sebuah kehidupan yang lebih adil, makmur, atau lebih baik justru pendidikan sangat dibutuhkan. Hal ini penting karena dalam banyak kenyataan manusia berada dalam sistem dan struktur yang mengakibatkan proses dehumanisasi. Selanjutnya, pendidikan diyakini sebagai sarana yang efektif untuk memproduksi kesadaran dalam rangka mengembalikan sifat kemanusiaan setelah terjadinya proses dehumanisasi. Berhubung pendidikan sebagai sarana untuk memproduksi kesadaran maka sudah tentu dibutuhkan kesadaran kritis dalam diri peserta didik. Dengan demikian, pendidikan memang sebagai proses transformasi sosial.

Pendidikan Sebagai Proses

Pandangan positif yang menyatakan pendidikan sebagai proses trasformasi sosial berangkat dari sebuah asumsi dasar bahwa kenyataan yang dialami oleh manusia merupakan sebuah proses. Setiap manusia senantiasa menjalani sebuah proses untuk “menjadi”. Tak ada manusia yang sudah atau tiba-tiba “menjadi” sesuatu atau memahami sesuatu tanpa mengalami sebuah proses. Bahkan, proses yang dialami manusia di dunia ini adalah proses yang terus-menerus yang tak pernah berhenti, kecuali telah mengalami kematian. Ini artinya, meski seorang manusia mengalami atau dianggap telah “menjadi” sesungguhnya ia juga terus saja menjalani sebuah proses untuk “menjadi” tahap berikutnya. Dengan demikian, pendidikan memang penting bagi anak manusia agar proses yang dijalaninya akan menjadi lebih baik; agar proses yang dijalaninya justru tidak menjauhkan dirinya dari hakikat kemanusiaannya.

Berkaitan dengan pendidikan bagi anak manusia dalam menjalani proses untuk “menjadi” ini, tentu pendidikan tidak bisa dilepaskan dari persoalan sosial yang sedang terjadi. Pendidikan yang hanya membekali peserta didik dengan pengetahuan yang tidak mencerahkan terkait kehidupan sosial atau justru malah membuat kemanusiaan tertindas secara sosial semestinya ditinggalkan. Inilah hal penting dari pendidikan sebagai proses yang membebaskan. Sebuah proses pendidikan yang meninggalkan cara dan aktivitas yang sesungguhnya justru dehumanisasi menuju cara dan aktivitas pendidikan yang penuh dengan proses humanisasi.

Dengan menjadikan pendidikan sebagai cara dan aktivitas yang penuh dengan proses humanisasi, hal ini sesungguhnya telah menjadikan pendidikan sebagai sebuah proses transformasi sosial menuju perubahan ke arah kemajuan di tengah masyarakat. Proses pendidikan ini ditandai dengan adanya peralihan situasi dari: teologi tradisional menuju teologi pembebasan, proses yang tidak mengenal dialog menuju hubungan yang penuh dialogis, kehidupan masyarakat yang tertutup menuju kehidupan masyarakat yang terbuka, dan masyarakat yang jauh dari pengetahuan menuju masyarakat yang sadar serta membutuhkan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, pendidikan merupakan suatu sarana untuk memproduksi kesadaran dalam rangka mengembalikan manusia kepada hakikat kemanusiaannya.

Terkait dengan pendidikan sebagai sarana untuk memproduksi kesadaran untuk mengembalikan manusia kepada hakikat kemanusiaannya, maka pendidikan harus bisa berperan membangkitkan kesadaran kritis para peserta didik. Ini adalah sebagai prasyarat penting menuju pembebasan. Terkait dengan masalah ini, salah satu tugas penting pendidikan adalah melakukan refleksi kritis terhadap sistem dan ideologi yang dominan dan menguasai masyarakat pada umumnya. Refleksi kritis ini dilakukan dalam rangka untuk memikirkan sistem alternatif ke arah transformasi sosial menuju kehidupan masyarakat yang berkeadilan.

Demikian, semoga bermanfaat, dan Salam Pendidikan Indonesia.

Iklan

23 Komentar

Filed under Pendidikan

23 responses to “Pendidikan Sebagai Proses Transformasi Sosial

  1. Sistem pendidikan kita lbh menekan peserta didik hingga kelas2 mjd penuh ketegangan, anak2 gk mau ngomong karna takut salah, kreatifias macet krn takut dianggap aneh. Nice post ust.smg manfaat. 🙂

  2. Johar Manik

    Wow lihat fotonya jadi inget masa-masa muda dahulu… .

  3. Pendidikan memang sebuah proses. Untuk itu dalam mendidik baik guru maupun orang tua harus memperhatikan tiap tahapan/proses kehidupan anak. Sejauh mana porsinya bisa diberikan kepada anak sesuai dengan tahapannya.
    Tulisan yang menginspirasi, pak Azzet. Trimakasih.

    • Memahami setiap proses dan tahapan itu penting sekali dipahami oleh guru, dan tentunya para orangtua ya, Bu Niken. Makasih banyak nggih, Bu, telah singgah dan urun rembuk di blog sederhana ini.

  4. Sependapat pak…pendidikan memang selayaknya bisa membangkitkan kesadaran kritis para peserta didik. Namun sptnya itu bukan hal yg mudah, karena butuh kerja keras dari semua pihak; orangtua/keluarga dan juga pendidik. Kasus UN menjadi salah satu indikasi bahwa sptnya pendidikan di negeri kita msh jauh dari kata ideal…Thx sharingnya pak…

  5. Jadi inget pelajaran PMP sama penataran P4

  6. mulianya Guru jika begitu ya Pak Ustadz 🙂

  7. pendidikan sebagai bisnis.
    itu sudah pasti,
    banyak universitas menjual ijazah.
    banyak instasi memanfaatkan pendidikan sebagai alasan.
    pendidikan seharusnya mencerdaskan dan tidak malah membebani, sedikit keluhan dari para calon mahasiswa yang nggak mampu membayar biaya kuliah

  8. Salam pendidikan Pak Guru. Semoga pendidikan di kita semakin berkwalitas.

  9. Berarti tantangan bagi para pendidik luar biasa ya Pak Azzet, untuk bisa menjadikan anak didik mereka kritis agar bisa mendapatkan kebebasan berpikir. Saya ga mau bilang berat ah, kan kita optimis ya Pak. 🙂

  10. Assalaamu’alaikum wr.ab, mas Amazzet….

    Pendidikan bukan sekadar tanggungjawab para giuru di sekolah untuk mengisi kebijaksanaan anak didik bagi menghadapi tribulasi order dunia baru. malah orang tua turut memainkan tugas penting menyatupadukan proses pendidikan formal di sekolah dengan mengisi akal budi anak-anak di rumah.

    Maka, akan terwujud kolaborasi dua pihak yang saling membantu untuk menyempurnakan proses pertumbuhan dan pembesaran anak-anak dalam memperolehi pendidikan yang berkesan.

    Tulisan yang mencerahkan. Penuh semangat dan prihatin.Saya menyukai gaya penulisan yang kritis dan kreatif seperti ini kerana bisa menjana minda dan mengambil pengajarannya. Salut Pak Guru.

    Salam hormat dari Sarikei, Sarawak. 😀

  11. Utamakan proses akan tetapi juga tidak meninggalkan hasil. Proses aja sudah dapat pahala…hehehe…

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s