Sang Motivator itu Bernama Guru

Guru itu seorang motivator - foto akhmad muhaimin azzetSeorang guru yang dicintai oleh anak didiknya adalah yang bisa memberikan motivasi. Ya, dialah sang motivator yang membuat anak didiknya senantiasa bersemangat dalam meraih cita-cita. Bagi Anda yang pernah membaca novel yang berjudul Sang Pemimpi karya Andrea Hirata—atau menonton filmnya dengan judul yang sama—tentu bisa membayangkan bagaimana sosok seorang guru yang bernama Pak Julian. Dialah seorang guru muda yang begitu sangat dicintai oleh murid-muridnya.

Apa yang dilakukan Pak Julian sehingga sangat dicintai oleh murid-muridnya? Pak Julian bisa memberikan motivasi yang sangat besar kepada murid-muridnya. Pak Julian berhasil membakar semangat anak didiknya untuk berani bermimpi, terutama tiga muridnya, yakni Ikal, Aray, dan Jimbron. Ketiga siswa SMA ini terbakar semangatnya untuk bisa meraih mimpi mereka, yakni ke Paris dan Eropa.

Seorang guru yang berhasil dalam memberikan motivasi kepada anak didiknya bukan hanya ada dalam novel atau film. Memberikan motivasi juga bukan hanya pada mimpi-mimpi besar dan cita-cita setiap anak manusia. Motivasi sungguh sangat diperlukan oleh setiap anak didik dalam proses belajar mengajar sehari-hari di sekolah. Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seorang guru dalam memberikan motivasi kepada anak didiknya:

a. Memberikan Harapan

Guru yang berhasil dalam memotivasi anak didiknya adalah yang bisa memberikan harapan, seberapa pun hasil dari upaya yang dilakukan oleh anak didik. Bukan malah sebaliknya, yakni mematahkan semangat dengan memupus harapan mereka.

Ada oleh-oleh menarik dari Pak Abdul Latif, seorang guru di Surabaya, yang disampaikan dalam acara Kick Andy di Metro TV pada 2 April 2010. Setelah mengikuti program pertukaran guru ke Negeri Kanguru, Pak Abdul Latif menyampaikan bahwa yang paling mengesankan baginya adalah bagaimana seorang guru mengapresiasi muridnya. Sebuah apresiasi yang memberikan harapan dan membangkitkan semangat. Ketika ada seorang murid yang menunjukkan tugasnya kepada guru, sang guru menunjukkan ekspresi senang ketika melihat hasil dari tugas muridnya sambil mengatakan bahwa pekerjaan sang murid ternyata very good.

Apa yang ada dalam hati Pak Abdul Latif setelah melihat pekerjaan sang murid? Pak Abdul Latif menyampaikan kepada Andy F. Noya dan pemirsa Metro TV dengan logat Jawa Timur yang khas, “O, pekerjaan begitu saja kok dibilang very good.” Dalam pandangan Pak Abdul Latif, hasil dari tugas sang murid tersebut biasa-biasa saja, atau bahkan jauh dari sempurna. Berdasarkan sikap yang ditunjukkan oleh guru di Negeri Kanguru tersebut, Pak Abdul Latif berkesimpulan, bahwa setiap usaha murid, sekecil apa pun harus dihargai. Dan, penghargaan yang diberikan oleh seorang guru kepada muridnya akan menjadi semangat baginya untuk terus maju dan memperbaiki diri.

Ada seorang guru yang bermaksud memberikan harapan, akan tetapi yang dikatakannya adalah kalimat yang negatif. Misalnya, “Payah kamu, begitu saja tidak bisa.” Dengan kalimat yang dilontarkannya ini, sang guru bermaksud agar muridnya terlecut semangatnya agar lebih giat dalam belajar lagi. Meskipun demikian, sungguh cara ini tidaklah dibenarkan. Sebab, tidak semua anak didik bisa terlecut semangatnya dengan kalimat yang seperti itu. Justru sebaliknya, anak didik bisa semakin rendah diri dan kian sulit dalam membangun semangat serta kepercayaan diri. Sudah demikian, sang guru pun akan menjadi pribadi yang tidak disenangi oleh anak didiknya.

b. Menjelaskan Tujuan Belajar

Guru yang mampu membangun semangat anak didiknya adalah yang bisa menjelaskan tujuan belajar dari materi yang akan dan sedang dipelajari. Dengan demikian, anak didik memahami tujuan belajarnya dengan baik, sehingga terbangun kesadarannya untuk bersemangat dalam belajar. Hal ini penting untuk dilakukan karena tidak sedikit dari anak didik yang kurang bersemangat dalam belajarnya karena memang tidak mengetahui dari tujuan belajarnya.

Menjelaskan tujuan belajar ini bisa dilakukan dengan memberikan penjelasan dari tujuan belajar secara khusus, yakni yang dijabarkan dalam kurikulum pengajaran; juga memberikan penjelasan dari proses belajar mengajar secara umum, yakni berkaitan dengan pentingnya seorang anak manusia dalam belajar. Dengan demikian, anak didik terpacu semangatnya setelah memahami dengan benar mengenai keuntungan atau hal yang akan didapatkannya dari proses belajar mengajar yang dijalaninya.

Dalam memberikan penjelasan tentang tujuan belajar ini juga dibutuhkan kemampuan tersendiri dari seorang guru agar para anak didiknya terpancing motivasinya. Untuk tujuan belajar yang bersifat khusus dan ada dalam kurikulum, bisa disampaikan pada saat proses belajar mengajar dimulai. Sudah tentu, cara yang dapat dilakukan dalam hal ini adalah secara formal pada saat pelajaran sekolah sedang berlangsung. Namun, untuk memberikan penjelasan tujuan belajar secara umum, seorang guru dapat melakukannya kapan saja. Di sinilah dibutuhkan kepekaan seorang guru untuk memberikan penjelasan dalam waktu yang tepat, sehingga anak didiknya senantiasa menggelora semangatnya.

c. Membantu Kesulitan yang Terjadi

Setiap manusia akan merasa senang hatinya apabila pada saat dalam kesulitan ada yang memberikan bantuan atau pertolongan. Demikian pula dengan anak didik, tentu akan senang hatinya bila dalam keadaan kesulitan lantas mendapatkan bantuan dari gurunya. Maka, guru yang disenangi oleh para anak didiknya adalah seorang guru yang dengan senang hati membantu kesulitan yang dihadapi mereka.

Membantu kesulitan yang terjadi ini sudah tentu bukan dalam arti membantu anak didik pada saat kesulitan mengerjakan soal-soal ulangan atau ujian yang sedang berlangsung. Membantu kesulitan ini terutama pada saat anak didik merasa kesulitan dalam memahami pelajaran yang telah dijelaskan oleh sang guru. Sebab, tidak semua anak didik dapat memahami dengan cepat ketika gurunya memberikan penjelasan. Di sinilah seorang guru yang dengan tulus memberikan penjelasan akan berkesan di hati anak didiknya. Apalagi, jika hampir dari keseluruhan dari muridnya mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran yang telah dijelaskan oleh seorang guru. Bila memang demikian, seorang guru juga dituntut untuk melakukan banyak inovasi dalam metode pengajarannya demi membantu anak didiknya agar senang, bersemangat, dan akhirnya bisa memahami pelajarannya dengan baik.

Membantu kesulitan yang terjadi pada anak didik tentu tidak hanya pada masalah pelajaran saja. Seorang guru juga perlu membangun kepekaan terhadap masalah-masalah lain yang dihadapi anak didiknya. Sungguh, bukan guru yang baik jika cuek saja terhadap masalah yang dihadapi anak didiknya. Guru yang mempunyai prinsip “yang penting telah mengajar dengan baik” saja biasanya tidak dekat dengan anak didiknya, apalagi dicintai oleh mereka. Maka, menjadilah guru yang dicintai oleh anak didik dengan suka membantu mereka ketika menghadapi kesulitan agar menemukan jalan keluar dan kemudahan.

d. Hadiah dan Pujian

Memberikan hadiah kepada anak didik yang berprestasi merupakan motivasi agar ia lebih bersemangat lagi. Di samping itu, bagi anak-anak yang belum berprestasi diharapkan juga termotivasi untuk lebih bersemangat dan giat lagi dalam belajar. Hadiah ini dapat diberikan secara berkala, misalnya seusai ujian pada setiap semester atau ujian kenaikan kelas. Memberikan hadiah juga dapat diberikan pada saat-saat tertentu yang menurut sang guru perlu untuk diberikan hadiah, misalnya pada saat anak didiknya meraih prestasi di bidang yang digelutinya.

Di samping hadiah, hal penting yang tidak boleh dilupakan oleh seorang guru adalah memberikan pujian kepada anak didiknya. Sudah tentu, pujian ini diberikan kepada anak didik yang telah berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan baik atau telah melakukan perbuatan yang bernilai sebagai kebaikan. Sungguh, pujian yang diberikan oleh seorang guru ini bisa semakin memotivasi anak didiknya agar kian bersemangat dalam belajar dan melakukan banyak kebaikan.

Seorang guru mempunyai peran yang sangat besar dalam memberikan motivasi kepada anak didiknya. Oleh karena itu, hendaknya menaruh perhatian yang besar kepada anak didiknya dalam memberikan hadian dan pujian ini. Sebab, sifat dasar manusia adalah akan merasa senang bila mendapatkan hadiah dan pujian. Inilah juga yang dirasakan oleh anak didik bila mendapatkan hadiah dan pujian dari gurunya. Sehingga, jika hatinya senang maka ia akan lebih bersemangat dalam belajar.

Demikian tulisan sederhana ini semoga bermanfaat bagi kita bersama.

Salam Pendidikan Indonesia,
Akhmad Muhaimin Azzet

27 Komentar

Filed under Pendidikan

27 responses to “Sang Motivator itu Bernama Guru

  1. Evi

    Guru seperti ini pasti diidam2kan sangat di seluruh Indonesia Pak Azzet. Guru yg memotivasi dan menyemai harapan pada anak muridnya. yang memberi tahu dan mengungkap kesadaran mengapa kita harus belajar sesuatu. bukan cuma guru yg menyampaikan materi terus bikin ulangan diakhirnya

  2. Guru merupakan salah satu faktor dalam menentukan karakter seorang anak.

  3. jadi guru yang memberi inspirasi membuat dia dikenang lebih dari selama murid-murid belajar di sekolahnya, malah lebih jauh dan panang lagi. seumur hidup.

  4. Assalaamu’alaikum wr. wab, mas Amazzet….

    Guru adalah sosok tubuh yang banyak menabur jasa dengan ilmu, masa dan wangnya. Motivator yang hebat dan penuh dengan inspirasi dahsyat.

    Cuma, jika mahu diri guru itu menjadi teladan dan motivator yang disegan, maka semestinya guru terlebih dahulu memberi contoh cemerlang dalam motivasi hidup dan kejayanya agar tidak dibilang “Cakap tidak serupa tingkah”.

    Maka, guru harus mempertingkatkan usaha kemahiran dan profesional dalam pengajaran dan pembelajarannya agar murid hormat dan mengikut jejak langkah gurunya apabila dewasa nanti. Guru itu DIGUGU DAN DIGURU.

    Didoakan sihat dan sukses selalu.
    Salam hormat dari Sarikei, Sarawak.😀

    • Wa’alaikumusalam wr.wb., Mbak Fatimah,

      Benar sekali, Mbak, jiwa di Indonesia, guru sering disebut sebagai orang yang harus bisa digugu dan ditiru. Sungguh, makasih banyak ya, Mbak. Apa yang panjenengan tambahkan di atas adalah ilmu penting untuk kita perhatikan bersama, terutama bagi yang mempunyai perhatian terhadap dunia pendidikan.

      Salam bahagia dari Jogja,
      Akhmad Muhaimin Azzet

  5. iya, sepakat sekali pak. dan tentu saja, sang guru harus bisa membawa suasana agar motivasi-motivasi yang diberikan bisa langsung mengena di hati anak didiknya.🙂

    salam manis dari Martapura

    • Benar sekali, Mbak Dhenok Habibie, istilahnya guru harus bisa membawa suasana. Yup; mengenai di hati itu yang penting. Makasih banyak atas tambahannya ya, Mbak🙂

      Salam manis juga dari Jogja.

  6. Saya sangat sepakat peran guru sangat besar dalam memotivasi anak didik Pak. Dan menjadi guru yang mampu membangun karakter anak menuju perkembangan yang positip membutuhkan sosok yang mampu memberikan keteladanan yang menentramkan anak didik, dan ini tidak semua guru bisa melakukannya.

    • Saya juga setuju banget itu, Pak. Faktor keteladanan betapa penting sekali. Sehingga, guru bukan orang yang “omdo” atau omong doang. Sebagus apa pun orang memberikan motivasi kalo hanya omdo maka hasilnya akan nol.

  7. luar biasa pak. enaknya pas hening di sepertiga malam membaca ini. memang guru harus memberi harapan ke tiap muridnya, ini yg menjadi pelajaran berharga buat sy di akhir semester kemarin. salam dari http://bit.ly/16HB5mY

  8. Guru memang sangat besar pengaruhnya ya Pak..🙂
    saya jadi ingat motivasi guru saya saat saya membuat karya tulis di SMP dulu.. beliau bilang bagus banget dan sampai sekarang saya jadi suka menulis, walau kualitas masih jauh dari kata bagus.. hehehe..😀

  9. Salam kenal… berarti kita harus menambah poin test dalam rekruietmen tenaga pendidik. Poin “Harus Bisa Memotivasi”
    http://tipsdesainer.blogspot.com

  10. subhanallah.. jika banyak guru yang menyadari hal ini, tentu akan banyak melahirkan murid-murid yang cerdas dan berkarakter baik..

    Terimakasih banyak, ini juga sangat bermanfaat buat saya, setidaknya untuk menemani anak-anak belajar di rumah..

  11. menyenangkan ya pak andai banyak guru seperti yg digambarkan dalam postingan di atas🙂

  12. sebenarnya guru-guru pada jaman sebelum reformasi adalah guru2 yang bijak dan bisa memberikan motivasi buat para anak didiknya agar bisa berhasil dan menjadi lebih baik dari mereka, bukankah guru dianggap berhasil bila sang murid menjadi lebih baik daripada mereka,
    namun sangat disayangkan..pada saat ini..banyak guru yang dipolitisasi demi kepetingan sesaat para penguasa..sehingga para guru lebih mementingkan karier dan jabatan dari pada memikirkan masa depan anak didiknya….namun untunglah tidak semua begitu..karena beberapa guru masih loyal dan rela mengurbankan waktunya demi masa depan anak didiknya….
    salam hormat saya buat para guru di seluruh Indonesia🙂

    • Ihwal yang penting untuk kita perhatikan bersama ya, Pak Hariyanto. Jangan sampai guru justru sibuk memikirkan nasib dan masa depannya sendiri. Padahal, seorang guru yang sibuk memikirkan masa depan anak didiknya akan tercukupi dengan sendirinya nasib dan masa depan sang guru. Tapi, hal ini memang membutuhkan keyakinan.

  13. mysukmana

    kapan kita export guru lagi kayak dulu ya pak🙂

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s