Pendidikan yang Demokratis

Akhmad Muhaimin Azzet, santri TPA Al-Muhtadin, amazzet

Penulis bersama santri TPA Al-Muhtadin, Yogyakarta.

Pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang demokratis. Sebuah proses pendidikan yang hubungan guru dan murid dapat berimbang sehingga bisa saling menyampaikan pendapat dan pikiran. Guru tidak hanya menyampaikan materi sedangkan di pihak lain murid hanya mendengarkan dan menerima apa adanya. Dalam pendidikan yang demokratis murid juga sangat penting untuk didengar pendapatnya, diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya, atau dihargai apa yang menjadi keinginannya dalam proses belajar mengajar.

Dalam banyak pengamatan di lapangan, memang tidak mudah dalam mempraktikkan pendidikan yang demokratis ini. Hal ini barangkali masih kuatnya pandangan bahwa guru tentu lebih pandai dan mempunyai ilmu pengetahuan yang banyak ketimbang muridnya. Guru itu tugasnya adalah mendidik dan mengarahkan anak didiknya untuk menjadi lebih baik dan pintar daripada sebelumnya. Hanya seorang gurulah yang bisa mengantarkan anak didiknya untuk mencapai kehidupan yang sukses dan berhasil mencapai cita-citanya.

Pandangan sebagaimana tersebut memang tidak bisa dikatakan sebagai sebuah kesalahan. Memang begitulah kenyataannya. Guru memang dikatakan sebagai sentral dalam pelaksanaan pendidikan. Dalam proses belajar mengajar, para murid tidak bisa beraktivitas yang disebut sebagai pendidikan ini secara baik bila tanpa adanya seorang guru. Maka, guru mempunyai peran yang sangat penting dan dominan dalam keberhasilan sebuah pendidikan.

Kenyataan sebagaimana pandangan tersebut sesungguhnya sangat layak untuk direnungkan kembali. Hal ini terutama para anak didik bukanlah subjek yang bisa dibawa ke mana saja sesuai dengan keinginan para pendidik. Anak didik atau para murid adalah anak manusia yang mempunyai jiwa. Ekstremnya, mereka adalah makhluk hidup yang paling sempurna di dunia ini, yakni yang bernama manusia, bukan binatang, sekadar benda, atau seonggok batu.

Sebagai makhluk hidup yang berjiwa dan bernama manusia, anak didik sudah barang tentu juga mempunyai keinginan dan harapan-harapan. Anak didik juga mempunyai hak untuk didengarkan apa yang menjadi kesenangannya. Anak didik juga mempunyai hak untuk menyampaikan apabila ia tidak suka atau tidak setuju terhadap sesuatu hal. Sungguh, memberangus apa yang ada dalam diri anak didik yang sudah ada sebagai fitrahnya sama dengan menjauhkan anak didik dari hakikat kemanusiaannya. Sudah tentu, pendidikan yang membebaskan tidaklah demikian.

Guru Berposisi Mendampingi

Pendidikan yang membebaskan akan menempatkan posisi seorang guru sebagai pendamping para murid dalam proses belajar mengajar. Sebagai pendamping maka posisi seorang guru adalah sama-sama dalam mempelajari atau berusaha untuk memahami sesuatu hal. Hal ini tentu berbeda dengan kenyataan yang selama ini benyak terjadi, yakni guru cenderung suka mendiktekan pemikirannya kepada para siswa dan mengabaikan mereka sebagai pihak yang juga bisa berpikir dan memiliki pemikirannya sendiri. Sungguh, seberapa pun usianya, seorang anak didik tidak bisa dipandang rendah dengan tidak mengetahui apa-apa atau tidak mempunyai keinginan dan pemikiran sendiri.

Dalam menerapkan pendidikan yang demokratis, memang dibutuhkan seorang guru yang mempunyai pemikiran yang luas dan jiwa yang lapang. Misalnya, jika ada anak didik membantah apa yang disampaikan, seorang guru yang tidak berpikiran luas dan berjiwa lapang tentu akan berkomentar begini, “Sudahlah, kamu dengar dan ikuti saja yang disampaikan oleh Pak Guru. Kamu masih kecil. Bila membantah, kamu tahu tidak, itu namanya tidak sopan!” Atau, ada juga seorang guru yang tidak membalas bantahan yang dilakukan oleh muridnya dengan berkomentar sebagaimana tersebut, melainkan malah marah-marah tidak keruan.

Bila demikian adanya, pendidikan tentu kehilangan maknanya sebagai ajang untuk membentuk kedewasaan anak didik atau siapa pun yang terlibat di dalamnya. Bila demikian adanya, sekolah sebagai tempat anak mendapatkan pendidikan bisa menjadi tak ubah seperti penjara; murid duduk terpaku di hadapan sang guru yang sama sekali tak mengizinkan ada suara selain suara sang guru sendiri. Anak harus duduk tenang, bila bergerak sedikit saja dituduh tidak menghormati guru yang sedang menyampaikan pelajaran. Bila demikian adanya, apa bedanya seorang guru dengan seorang sipir penjara yang marah jika ada kesalahan, tersinggung jika dikritik, menuduhnya sebagai pembantah jika ada usulan yang tidak sesuai dengan kehendak sang guru, atau bahkan memukul murid jika dianggap telah keterlaluan menurut penilaian sang guru—sekali lagi, keterlaluan menurut penilaian sang guru.

Sungguh, pelaksanaan pendidikan yang kaku dan bertalian erat dengan kekerasan sebagaimana tersebut sudah harus diakhiri. Bila tidak, sesungguhnya anak didik secara tidak langsung diajari juga dengan kekerasan. Tidak heran jika anak-anak lebih mudah tersinggung dan resistensi mereka tak jarang dilakukan dengan anarkis. Tentu bila akibat ini dialamatkan kepada sekolah sebagai penyebabnya maka tak ada sekolah atau lembaga pendidikan yang mengakuinya. Sebab, tujuan dari pendidikan adalah mendidik peserta didik menjadi manusia yang lebih baik.

Demikian artikel tentang pendidikan yang demokratis ini dan semoga bermanfaat bagi kita bersama.

Salam Pendidikan Indonesia,
Akhmad Muhaimin Azzet

Iklan

36 Komentar

Filed under Pendidikan

36 responses to “Pendidikan yang Demokratis

  1. Evi

    Di negara-negara maju, sistem pengajaran memang seperti ini ya Pak Azzet. Demokratis. Guru tak memposisikan diri sebagai figur serba tahu, melainkan mendampingi, jadi guide bagi para muridnya. Beruntung bahwa Indonesia juga punya guru seperti Bapak 🙂

  2. Guru sebagai pendamping.. syangnya sekarang banyakny guru yang kurang memahami posisinya ya ustad 🙂

  3. Alangkah indahnya andai pendidikan di negeri ini bisa seperti yang terpaparkan di atas, ya Pak.. 🙂

  4. Saya kira pendidikan demokratis sekarang sudah berjalan, anak sekarang lebih kritis dan berani mengeluarkan pendapatnya, mungkin pengaruh keinginan tahuan mereka yang disalurkan di search engine internet, jadi guru juga harus memperluas wawasannya untuk memuaskan siswanya!

    • Saya kira juga demikian, Pak. Di sinilah sesungguhnya tantangan yang menarik bagi para guru untuk berpacu dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi jangan sampai tertinggal dengan anak didiknya.

  5. Ustadz adalah guru saya
    Saya dulu pernah berkecimpung di dunia pendidikan dan saya menjadi rindu
    Dunia pendidikan baik formal mau pun in formal butuh banyak sosok seperti ustadz 🙂

  6. guru di zaman sekarang sangat berbeda dengan guru zaman ketika saya masih sekolahan, waktu itu guru bisa jadi pengajar saya, orang tua saya, pendamping saya, dan pendidik saya…sehingga saya bisa menjadi seperti sekarang ini…kalau sekarang, guru hanya bisa menjadi sebatas pengajar saja….tapi entahlah, mungkin saja pengalaman saya berbeda dengan pengalaman teman-teman lainnya dalam menyikapi guru saman kini,
    salam dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan

    • Bila guru menjadikan profesi hanya sebagai pekerjaan untuk mencari nafkah, kemungkinan besar akan menjadi guru sebagaimana Mbak Wieka katakan, “sebatas pengajar”. Semoga yang demikian semakin berkurang dan tergantikan oleh sosok guru yang benar-benar bangga dan cinta untuk menjadi guru.

      Salam hangat dari Jogja.

  7. Guru emang keren deh.. sistem pendidikan emang harus kayak gitu.. 😀

  8. Mengutip ini: Dalam menerapkan pendidikan yang demokratis, memang dibutuhkan seorang guru yang mempunyai pemikiran yang luas dan jiwa yang lapang.

    Ah, andaikan semua guru berpikir demikian ya mas Azzet. Masih lebih banyak yang tidak 😐

    • Semoga ini bukan menjadi harapan yang jauh api dari panggang ya, Mbak. Sungguh, kita berharap pada sistem pendidikan di negeri ini didukung oleh guru-guru yang mempunyai pemikiran yang luas dan jiwa yang lapang.

  9. Andaikan pendidikan di Indonesia sudah bersifat demokratis di jaman saya dulu, suasana belajar pasti jauh lebih menyenangkan. Salah satu guru saya yang demokratis adalah guru matematika di SMP dan beliau berhasil menjadikan matematika sebagai pelajaran yang menyenangkan sekali.
    Maturnuwun Pak Azzet..

    • Itulah salah satu manfaat penting dari pendidikan yang demokratis. Guru yang berhasil melakukannya akan membuat para anak didik senang dan semangat belajar, meski pada pelajaran yang dianggap sulit sekalipun.

      Makasih juga ya Mas Dani Rachmat telah singgah kemari.

  10. semestinya dalam pendidikan itu tindakan kekerasan itu sedapat mungkin dihindari ya pak ustadz..

    Ohh ya, pak. Jika pak ustadz punya mimpi yang sudah/akan diwujudkan. Mari berbagi di GA kami ya pak.. http://garammanis.com/2014/01/01/giveaway-kolaborasi-apa-impianmu/

    salam

  11. jarwadi

    kalau tidak salah guru-guru jaman sekarang sudah jauh lebih baik dalam hal sifat demokratisnya dibanding guru-guru saya dulu yang diktator dan selalu gila hormat.

    pada jaman saya guru itu selalu benar (merasa benar)

    salam

  12. Zaman saya sekolah dulu, cara pembelajarannya masih kaku. Mudah-mudahan sekarang sudah mulai berubah jadi lebih dinamis…

  13. Di beberapa daerah, malah ada guru yang terintimidasi dengan kekerasan yang dilakukan oleh ortu murid terhadap mereka. Alih-alih memberikan pendidikan demokratis, bersikap profesional saja sulit.

    Menurut saya, pendidikan itu ditopang oleh 3 pilar utama, yakni Guru, Masyarakat dan Pemerintah. Tiga komponen ini harus bersinergi, agar pendidikan bisa berjalan dengan baik dan ideal.. 🙂

    • Orangtua semestinya duduk bersama dan saling dukung dalam mendidik anaknya. Bukan malah mengintimidasi guru ya, Uda. Sungguh saya sepakat sekali dengan tiga komponen penting tersebut harus bersinergi dengan baik 🙂

  14. Pendidikan anak itu sebenarnya tugas bersama orangtua dan guru ya pak, jika hanya menekankan salah satu pihak maka akan timpang. Diperlukan komunikasi dua arah antar guru dan orangtua. Tentunya jika menginginkan anaknya tidak hanya sebatas pintar, melainkan juga memiliki akhlak dan jiwa yang baik. Parahnya sebagian besar orang kita lebih menekankan angka dan posisi rangking. Ya jika begitu keadaannya maka tunggulah generasi masa depan yang pinter keblinger bukan yg berakhlak mulia.

    • Benar sekali, Mas Nanang, pendidikan itu tugas bersama antara orangtua dan guru. Meski, yang sesungguhnya bertanggung jawab mestinya orangtuanya untuk mengempbangkan pendidikan yang tidak hanyak cerdas intelektual saja, tapi juga kecerdasan yang lainnya. Termasuk agar anak berakhlak mulia.

  15. Penddikan yang demokratis, suka saya dengan istilah ini.
    Pendidikan yang mengedepankan dialog kontruktif dua arah ada pengajar dan pelajar. Bukan lagi pendidikan otoriter satu arah dimana pelajar hanya sbg pendengar saja.

    Selalu salut dgn tulisan Mas yg sederhana, lugas dan tepat sasaran.

    Salam persahabatan selalu,

  16. Pandangan seperti ini bisa lebih membuka pontesi kemampuan anak, sebagai sebuah bentuk pendidikan dua arah.
    Saya setuju sekali mas, paradigma guru adalah sentral memang seharusnya harus sudah dirubah.
    Saya ingin menggaris bawahi, pengecualian, ada sebuah kasus yg trjadi dilingkungan sekitar saya, ketika katakan lah bagian dari institusi pendidikan( bukan guru) sekolah menengah mengatakan, kurang lebih ” tidak ada aturan baku soal seragam berjilbab di sekolah ini,jadi silahkan jika ingin melepas jilbabnya dan menggunakan seragam biasa”. Padahal sekolah tersebut 100% muridnya menggunakan jilbab.
    Melihat kasus ini seolah2 sekolah tidak menekan kan pendidikan berkarakter.
    Oh ya bagaimana pendapat mas untuk hal yg satu ini, apakah hal tersebut bisa dikatakan demokratisasi sisi lain pendidikan juga?
    Salam

    • Mas Riyan yang baik, mengenai kasus sebagaimana telah Mas sebutkan, menurut saya bukan soal “tidak ada aturan baku soal seragam berjilbab di sekolah ini, jadi silahkan jika ingin melepas jilbabnya dan menggunakan seragam biasa”, namun bagaimana soal proses sebelum sekolah tersebut 100 % menggunakan jilbab. Tentu, sebelumnya ada musyawarah dan seterusnya. Proses dengan musyawarah yang baik inilah sesungguhnya yang perlu dijaga. Salam.

  17. semacam feedback ya? 😀

  18. Geotamtam

    Boleh minta emailnya pak ust.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s