Tujuan Bimbingan dan Konseling: Mendapatkan Kebahagiaan Hidup

Santri TPA Al-Muhtadin sedang mengaji. Foto Akhmad Muhaimin AzzetBimbingan dan konseling dilakukan dengan tujuan membantu anak didik dalam memahami diri sendiri, baik sebagai makhluk Tuhan maupun sebagai makhluk sosial. Kemampuan dalam memahami diri ini penting bagi siapa saja, termasuk anak didik, agar dapat menghadapi kehidupan ini dengan lebih baik.

Adapun apabila diuraikan secara lebih rinci, bimbingan dan konseling diberikan untuk membantu anak didik –di antaranya– agar mendapatkan kebahagiaan hidup.

Sebagai makhluk Tuhan, setiap manusia sesungguhnya berhak untuk dapat merasakan sebuah kebahagiaan hidup. Namun, sayang sekali, tidak semua orang dapat merasakan kebahagiaan.

Sebagian orang mengaitkan kebagiaan hidup itu dengan terpenuhinya kebutuhan hidup, baik itu berupa rumah yang bagus, kendaraan mewah, uang melimpah, atau prestasi yang membanggakan.

Pertanyaanya adalah apabila hal tersebut belum terpenuhi, apakah seseorang tidak bisa merasakan kebahagiaan? Sebab, ternyata tidak sedikit orang yang jauh dari kemewahan sebagaimana tersebut, akan tetapi hidupnya penuh dengan kebahagiaan.

Memerhatikan kenyataan sebagaimana di atas, sesungguhnya bahagia atau tidaknya seseorang bukan ditentukan oleh kemewahan sebagaimana tersebut. Kebahagiaan itu adanya di dalam hati; bukan ada pada barang-barang yang mencukupi kebutuhan hidup atau prestasi lainnya.

Orang dengan kepemilikan yang sama dan prestasi yang sama-sama sukses bisa jadi sangat berbeda dalam merasakan hidupnya: yang satu bahagia sedangkan yang satunya gelisah saja. Dengan demikian, kebahagiaan itu sangat tergantung pada bagaimana seseorang mengelola perasaan yang ada di dalam hatinya.

Apabila seseorang mempunyai perasaan syukur kepada Tuhan atau menyandarkan segala kejadian kepada-Nya Yang Mahakuasa, tentu akan merasakan kebahagiaan.

Di sinilah penting bagi anak didik untuk dibimbing agar bisa merasakan kebahagiaan hidup sebagai makhluk Tuhan. Bagaimana caranya? Sudah tentu orang yang bisa bersyukur dan menyandarkan diri kepada Tuhan adalah yang terbiasa menjalankan apa yang diperintahkan oleh Tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya.

Maka, pendidikan juga merupakan sarana yang tepat agar anak didik menjadi semakin dekat dengan Tuhan, bukan sebaliknya.

Demikianlah, semoga tulisan pendek ini bermanfaat bagi kita bersama.

Salam Pendidikan,
Akhmad Muhaimin Azzet

Iklan

5 Komentar

Filed under Pendidikan

5 responses to “Tujuan Bimbingan dan Konseling: Mendapatkan Kebahagiaan Hidup

  1. Sebenernya, bahagia itu sederhana. Kalau kita mau memandang hidup secara positif dan mau bersyukur ya pak :))

  2. Kalau jaman saya SMP dulu saya paling anti dengan guru BP karena saya belum tahu fungsi sebenarnya guru BP. Setahu saya kalau siswa kalau terlambat atau berbuat kesalahan harus menghadap guru BP. Tapi setelah SMA sudah lebih dewasa dan tahu fungsi sebenarnya guru BP sehingga kalau istirahat saya malah nongkrongnya diruang guru BP

    • Betul sekolah, Mas Edi Padmono, di sinilah pentingnya sosialisasi kepada seluruh siswa tentang pentingnya dan peran guru BP. Sehingga, dengan demikian, keberadaan BP benar-benar menjadi hal yang dibutuhkan siswa.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s