Pendidikan yang Dialogis

Pendidikan di Al-Muhtadin, Ustadz Muhaimin Azzet, dipotret Rismadin, Panitia RamadhanSebagaimana telah disinggung pada pembahasan sebelumnya bahwa ciri utama dari pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang dialogis.

Bernhard Adeney-Risakotta, dalam tulisannya di Basis yang berjudul “Pendidikan Kritis yang Membebaskan”, menyampaikan bahwa pendidikan dialogis tidak hanya lebih etis, tetapi juga lebih lebih efektif. Pendidikan yang dilakukan secara monologis memang cukup efisien sebagai cara menyampaikan sebanyak-banyaknya informasi (meskipun jauh lebih pelan daripada membaca).

Namun, menurut Bernhard, hanya sedikit dari apa yang disampaikan oleh guru akan dikuasai oleh pelajarnya atau peserta didik. Meskipun peserta didik menjadi hafal dari apa yang telah disampaikan oleh gurunya, peserta didik belum berarti menguasai dalam arti sungguh mengerti dan bisa menggunakan ilmu yang diterimanya tersebut dalam konteks nyata.

Hal sebagaimana tersebut berbeda dengan apabila belajar dilakukan dengan dialogis. Ketika peserta didik bertanya dan menyampaikan apa yang dia mengerti, maka ilmu pengetahuan yang dikuasai oleh peserta didik akan jauh lebih banyak.

Hal ini bisa terjadi karena peserta didik terlibat secara aktif dalam proses belajar mengajar dengan cara berdialog. Ada hal yang ia terima, rasakan, dan sampaikan ketika menjalani pendidikan. Inilah yang membuat peserta didik mendapatkan ilmu lebih banyak dari sekadar menerima saja dari apa yang telah disampaikan oleh gurunya.

Belajar Keterampilan Berpikir

Keuntungan lain yang bisa diterima oleh anak didik dengan cara belajar yang dialogis sebagaimana di atas adalah peserta didik sekaligus belajar keterampilan berpikir sendiri dan menciptakan pemahan baru yang menghubungkan ide-ide baru dengan semua yang sudah dia mengerti.

Hal ini penting agar peserta didik lebih bisa memahami suatu masalah secara lebih mendalam. Dengan demikian, mudah pula baginya untuk bisa bersikap dengan baik—mengkritisi sekaligus menemukan solusi—ketika menghadapi permasalahan dalam hidupnya.

Salam Pendidikan Indonesia,
Akhmad Muhaimin Azzet

2 Komentar

Filed under Pendidikan

2 responses to “Pendidikan yang Dialogis

  1. Setuju pak ustad, dengan dialog dua arah pola pikir akan lebih terekplorasi sehingga dapat mencerdaskan kedua pihak

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s