Category Archives: Hikmah Utama

Orang yang Bersih

Rasulullah Saw. bersabda, “Perumpamaan shalat lima waktu seperti sebuah sungai yang airnya mengalir dan melimpah dekat pintu rumah seseorang yang tiap hari mandi di sungai itu lima kali.” (HR Bukhari dan Muslim)

Betapa bersihnya tubuh seseorang yang dalam sehari mandi sebanyak lima kali. Demikianlah perumpaan orang yang mengerjakan shalat fardhu. Shalat yang dikerjakannya akan membersihkan jiwanya dari dosa-dosa. Betapa indahnya kehidupan orang yang mengerjakan shalat itu. Bila jiwa seseorang telah dibersihkan dari dosa-dosa maka ia telah menemukan jalan yang sangat mulus untuk bisa merasakan kebahagiaan.

Al-Faqir ila Rahmatillah,
Akhmad Muhaimin Azzet

12 Komentar

Filed under Hikmah Utama

Kewajiban Utama dan Pertama

Allah Swt. berfirman, “…Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-‘Ankabût [29]: 45)

Rasulullah Saw. bersabda, “Pertama-tama amalan yang dihisab (dihitung) untuk seorang hamba pada hari kiamat (nanti) adalah shalat. Apabila shalatnya itu bagus maka baguslah amalan yang lain, dan apabila buruk maka buruk pulalah amalan yang lain.” (HR Thabrani)

Sungguh, shalat adalah kewajiban utama dan pertama di dalam Islam setelah seseorang bersyahadat. Apabila kewajiban utama dan pertama dikerjakan dengan sungguh-sungguh maka dijamin hidup seseorang akan menjadi baik. Shalat yang didirikan akan mencegah mushalli (pelaku shalat) dari segala perbuatan keji dan mungkar. Bila seseorang yang sudah shalat, namun masih melakukan perbuatan keji dan mungkar, berarti cara ia mengerjakan shalat (lahir maupun batin) masih perlu diperbaiki. Dengan demikian, shalat memang merupakan jaminan dalam penghitungan amal di Hari Perhitungan; apabila shalat seseorang baik maka semua amalnya dihitung sebagai kebaikan, demikian pula sebaliknya.

Al-Faqir ila Rahmatillah,

Akhmad Muhaimin Azzet

6 Komentar

Filed under Hikmah Utama

Beratkah Shalat Lima Waktu?

Dari Anas bin Malik r.a., ia berkata, “Bahwasanya Abu Dzar pernah bercerita bahwa Rasulullah Saw. bersabda, ‘Atap rumahku dibuka ketika aku di Makkah. Kemudian Jibril turun dan membelah dadaku, lalu mencucinya dengan air zamzam, kemudian dia datang membawa sebuah bejana dari emas yang penuh dengan hikmah dan keimanan, lalu menuangkannya ke dalam dadaku, kemudian menutupnya. Selanjutnya menggandeng tanganku dan membawaku naik ke langit dunia. Ketika aku sampai di langit dunia, Jibril berkata kepada penjaga langit, ‘Bukalah.’

“Dia (penjaga langit) bertanya, ‘Siapakah ini?’

“Dia (Jibril) menjawab, ‘Ini Jibril.’

“Dia (penjaga langit) bertanya, ‘Apakah ada orang lain yang bersamamu?’

“Dia (Jibril) menjawab, ‘Ya. Saya bersama Muhammad Saw.’

“Dia (penjaga langit) bertanya, ‘Apakah dia diutus kepada-Nya?’

“Dia (Jibril) menjawab, ‘Ya.’

“Ketika dia membukanya, kami naik melewati langit dunia. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang duduk dan di sebelah kanannya terdapat sekumpulan orang dan di sebelah kirinya juga terdapat sekumpulan orang. Jika melihat ke sebelah kanannya, dia tertawa, dan jika melihat ke arah kirinya, dia menangis. Dia lalu berkata, ‘Selamat datang wahai nabi yang saleh dan anak orang yang saleh.’ Baca lebih lanjut

4 Komentar

Filed under Hikmah Utama

Perintah dari Yang Mahamulia

Allah Swt. berfirman:

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 43)

“…Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 103)

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang haq) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thâhâ [20]: 14)

Duhai jiwa yang telah menyatakan diri dalam sebuah kesaksian bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali hanya Allah Swt. dan Nabi Muhammad Saw. adalah utusan-Nya, Dia Yang Mahamulia telah memerintahkan untuk mengerjakan shalat. Apabila kita ingin hidup bahagia, baik di dunia maupun di akhirat, jangan pernah sekali-kali mengabaikan perintah-Nya. Lakukan saja dengan sepenuh kesungguhan dan ketulusan maka hidupmu akan bahagia.

Al-Faqîr ilâ rahmatillâh,
Akhmad Muhaimin Azzet

8 Komentar

Filed under Hikmah Utama

Menegakkan Agama dengan Shalat

Rasulullah Saw. bersabda:

“Shalat adalah tiang agama. Barangsiapa yang mengerjakannya berarti ia menegakkan agama, dan barangsiapa yang meninggalkannya berarti ia meruntuhkan agamanya.” (HR. Baihaqi)

“(Batas) antara hamba dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud)

Ada orang yang mengakui diri sebagai pemeluk agama Islam, akan tetapi ia tidak mengerjakan shalat fardhu. Ketika ia disebut telah meruntuhkan agamanya atau bahkan disebut telah melakukan kekufuran maka ia marah dan tidak mau menerima. Ini artinya hati nurani setiap orang adalah berjalan sesuai dengan fitrah. Oleh karena itu, marilah kita menjadi orang yang bisa menunjukkan kebenaran atas kesaksian atau syahadat kita dengan mendirikan shalat dalam kehidupan sehari-hari. Sungguh, kita tidak ingin menjadi orang munafik atas kesaksiaan kita sendiri; apalagi menjadi kafir.

Al-Faqîr ilâ rahmatillâh,
Akhmad Muhaimin Azzet

Tinggalkan komentar

Filed under Hikmah Utama

Kesaksian yang Dahsyat

Rasulullah Saw. bersabda:

“Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah….” (HR. Muslim)

“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, Nabi Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya, kalimah-Nya yang diletakkan dalam diri Maryam, dan Ruh dari-Nya, juga bersaksi bahwa surga dan neraka adalah haq, maka ia dimasukkan ke dalam surga oleh Allah sesuai dengan amal perbuatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah, maka Allah mengharamkan badannya untuk disentuh api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Jibril datang untuk memberi kabar gembira kepadaku, ‘Siapa saja dari umatmu yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, maka ia masuk surga.” Aku (Abu Dzar) bertanya, “Meskipun ia berzina dan mencuri?” Rasulullah Saw. menjawab, “Meskipun ia berzina dan mencuri.” Aku bertanya lagi, “Meskipun ia berzina dan mencuri?” Rasulullah Saw. menjawab, “Meskipun ia berzina dan mencuri.” Kemudian pada kali yang keempat, Rasulullah Saw. bersabda, “Baik Abu Dzar senang atau tidak senang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Dua perkara yang pasti.” Seorang sahabat bertanya, “Apakah dua perkara itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah Saw. menjawab, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah maka ia pasti masuk neraka, dan barangsiapa mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun maka ia pasti ia masuk surga.” (HR. Muslim)

Dua kesaksian saja, akan tetapi bisa membawa pengaruh yang dahsyat dalam kehidupan seseorang, yakni bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali hanya Allah Swt. dan Nabi Muhammad Saw. adalah utusan-Nya. Inilah yang dinamakan syahadatain. Dua kesaksian ini merupakan sumber sistem hidup bagi seorang Muslim. Namun, kenyataannya, tidak sedikit orang yang sudah bersyahadat, akan tetapi tidak tampak perubahan dalam hidupnya, bahkan malah ada yang tidak mengerjakan syariat Islam dengan baik. Orang yang demikian, kesaksiannya belum berangkat dari kesadaran hati yang sesungguhnya atau tidak bisa menjaga kesaksiannya agar tetap konsisten dalam jalan yang diyakininya. Di sinilah sangat penting bagi setiap orang Islam untuk membangun kesadaran dalam syahadatnya, sehingga hidupnya di dunia selaras dengan petunjuk Allah dan bimbingan Rasul-Nya.

Kesaksian bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali hanya Allah Swt. akan membawa pelakunya patuh dan tunduk hanya kepada Allah Ta’ala saja. Demikian pula kesaksian bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah utusan-Nya akan membawa pelakunya untuk taat kepada Rasulullah Saw.

Allah Swt. berfirman:

“…Keputusan (semua hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf [12]: 40)

“Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah….” (QS. Al-Nisâ [4] 80)

Orang yang telah bersyahadat dan menjaga syahadatnya dalam kehidupan sehari-hari maka ia akan sepenuhnya menggunakan hidupnya dalam rangka mengabdi kepada Allah Swt. Orang yang demikian tidak pernah setengah hati dalam melakukan sesuatu; aktivitas hidupnya dikerjakan dengan penuh totalitas. Marilah kita renungkan firman Allah Swt. sebagai berikut:

Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’âm [6]: 162-163)

Al-Faqîr ilâ rahmatillâh,
Akhmad Muhaimin Azzet

5 Komentar

Filed under Hikmah Utama

Lima Pilar Utama

Rasulullah Saw. bersabda:

“Islam itu dibangun di atas lima perkara, yaitu: Bersaksi tiada sesembahan yang haq kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah, dan berpuasa pada bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim)

“Islam dibangun di atas lima perkara, mengesakan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, puasa Ramadhan, dan menunaikan haji.” (HR Muslim)

Bersyahadat bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali hanya Allah Swt. dan Nabi Muhammad Saw. adalah utusan-Nya adalah pilar pertama di dalam berislam. Keislaman seseorang selanjutnya sangat perlu untuk dibangun dengan empat pilar berikutnya, yakni mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke tanah suci bagi yang berkuasa atau mampu. Setiap pilar dalam berislam apabila ditegakkan dengan sungguh-sungguh akan mempunyai pengaruh yang sangat dahsyat dalam kehidupan seseorang. Seseorang tidak mudah goyah, hidup menjadi lebih dinamis, dan lebih mudah dalam mencapai kesuksesan dan kebahagiaan.

Tinggalkan komentar

Filed under Hikmah Utama

Kunci Utama Hidup Sukses dan Bahagia

Dari Umar r.a., beliau berkata, “Pada suatu hari ketika kami duduk di dekat Rasulullah Saw., tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi Saw., lalu mendempetkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya, kemudian berkata, ‘Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku tentang Islam.’

“Rasulullah Saw. kemudian menjawab, ‘Islam yaitu: hendaklah engkau bersaksi tiada sesembahan yang haq disembah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Hendaklah engkau mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan haji ke rumah Allah jika engkau mampu mengerjakannya.’

“Orang itu berkata, ‘Engkau benar.’

“Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya. Orang itu bertanya lagi, ‘Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman.’

“(Rasulullah) menjawab, ‘Hendaklah engkau beriman kepada Allah, beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.’

“Orang tadi berkata, ‘Engkau benar.’ Lalu orang itu bertanya lagi, ‘Lalu terangkanlah kepadaku tentang ihsan.’

“(Beliau) menjawab, ‘Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun, jika engkau tidak dapat (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat engkau.’

“Orang itu berkata lagi, ‘Beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat.’

“(Beliau) menjawab, ‘Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.’

“Selanjutnya, orang itu berkata, ‘Beritahukanlah kepadaku tanda-tandanya.’

“(Beliau) menjawab, ‘Apabila budak melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang Badui yang bertelanjang kaki, yang miskin lagi penggembala domba berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan.’

“Kemudian orang itu pergi, sedangkan aku tetap tinggal beberapa saat lamanya. Lalu, Nabi Saw. bersabda, ‘Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu?’

“Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’

“Lalu, beliau bersabda, ‘Dia itu adalah Malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (HR Muslim)

Pembaca yang tercinta, kedatangan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw. dan bertanya tentang Islam, iman, ihsan, dan kiamat adalah sebuah cara yang sangat indah tentang bagaimana Allah Swt. dan Rasul-Nya memberikan pelajaran bagi umat manusia agar hidupnya sukses dan bahagia, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Tiga hal penting tersebut, yakni Islam, iman, dan ihsan, apabila dipegang dengan teguh dalam hati dan diwujudkan dengan tingkah laku yang nyata dalam kehidupan sehari-hari maka akan membuat hidup seseorang selamat dan bahagia. Dan, pertanyaan Malaikat Jibril tentang kiamat adalah penegasan bahwa hidup di dunia hanyalah sementara; semuanya akan hancur lebur dan jiwa-jiwa akan dibangkitkan di Hari Pembalasan; setiap perbuatan di dunia akan dimintai pertanggungjawaban dan mendapatkan balasannya; sekecil apa pun.

2 Komentar

Filed under Hikmah Utama