Category Archives: Jiwa Merindu

Mohon Ampunan: Awal Kehidupan yang Membahagiakan

Hidup Bahagia, Akhmad Muhaimin AzzetDiakui atau tidak, orang yang melakukan perbuatan salah, di dalam hati nuraninya akan terasa ada beban, yakni beban perasaan telah melakukan perbuatan salah. Beban batin ini bila terus-menerus ditanggung, akan membuat seseorang tidak bisa sepenuhnya merasakan sebuah kebahagiaan.

Hal ini juga semacam energi negatif yang bisa menghambat seseorang dalam merasakan sebuah anugerah. Dengan memohon ampun kepada Allah Swt. maka ia akan terlepas dari beban itu. Hari demi hari dapat ia jalani dengan lebih ringan tanpa beban di hati. Inilah awal dari sebuah kehidupan yang membahagiakan. Baca lebih lanjut

18 Komentar

Filed under Jiwa Merindu

Percik2 Perjalanan Pulang; Catatan Rindu buat Mas Andi Bombang

Tiba-tiba saja saya rindu sekali dengan seorang sahabat sekaligus guru saya. Meski belum pernah ketemu secara langsung, namun hati ini sudah merasa “sreg” atau cocok dengannya. Dialah Mas Andi Bombang, penulis novel “Kun Fayakun”, “Saat Cinta Berhijrah”, dan “Dan, Dia-lah Dia”, yang telah meninggal dunia pada 17 Desember 2011.

Sebelum catatan rindu mengalir lebih jauh, izinkan saya dengan tulus berdoa kepada Allah Ta’ala untuk Almarhum Mas Andi Bombang: Baca lebih lanjut

80 Komentar

Filed under Jiwa Merindu

Saat Embun Menetes

tak ada lagi yang dapat aku lakukan
saat embun menetes, selain merindu
sebab dini hari telah mengabarkan
peraduannya dalam pelukan malam

selamat datang dedaunan membasah
dan bunga melati semerbak mewangi
akulah lelaki dibesarkan oleh rindu
perjumpaan jiwa tak sebatas waktu

Bumidamai, Yogyakarta.

28 Komentar

Filed under Jiwa Merindu

Air Mata Rindu

sepotong rindu ini seutuhnya untukmu
meski rayuan lembut di jalanan merebutnya
aku berlari di atas pematang licin berbatu
ingin segera menghapus air matamu, segera

saat gerimis kuketuk pintu hatimu tanpa ragu
meski kerinduan ini betapa berselimut kabut
masihkan engkau simpan gelombang biru itu
di bening matamu, di situlah aku tersangkut

aku datang sebagaimana sungai menuju muara
duhai, bukalah pintu segera, bukalah segera
sebelum aku tenggelam dalam pusaran air mata

Bumidamai, Yogyakarta.

28 Komentar

Filed under Jiwa Merindu

Tumpukan Batu

aku mencari serpihan manusiaku yang hilang
di antara tumpukan batu, betapa telah pecah
oleh panas matahari dan kota yang kian renta

pohon rindang tidak lagi tumbuh di tubuhku
apalagi hamparan rumput yang menghijau
dari ujung kaki hingga kepala hanyalah batu

lalu di manakah manusiaku, hilang ke mana
yang pernah lahir oleh kasih seorang ibu
kubongkar-bongkar, melulu tumpukan batu

Bumidamai, Yogyakarta.

25 Komentar

Filed under Jiwa Merindu

Ketukan Pintu; Mengenang Gus Zainal

Gus Zainal Arifin Thoha

Kali ini saya ingin berbagi dengan sahabat blogger tentang kerinduan saya terhadap seorang guru sekaligus sahabat yang bernama KH. Zainal Arifin Thoha. Saya dan banyak sahabat lainnya biasa memanggil dengan sebutan Gus Zainal. Sosok muda yang murah senyum sekaligus pendiri dan pelopor pesantren mandiri “Hasyim Asy’ari” Yogyakarta itu meninggal dunia pada 14 Maret 2007 sekitar pukul 22.00 WIB.

Hari ini, saya tiba-tiba rindu kepada penyair muda yang juga banyak menulis buku tersebut. Saya rindu kepada sosok yang membina banyak mahasiswa untuk menjadi penulis dan hidup mandiri tersebut. Maka, kali ini, izinkan saya membagi sepotong puisi yang saya tulis beberapa saat setelah Gus Zainal meninggal dunia… Baca lebih lanjut

11 Komentar

Filed under Jiwa Merindu

Kekasih, Duhai

inikah gelombang memenuhi dada
menerjangku yang rindu tiada tara
kekasih, duhai, kapankah berjumpa
siang dan malam inginnya segera

salam bagimu duhai Nabi tercinta
shalawat untukmu duh Rasul mulia

inikah jiwa yang disergap pesona
tak ada lagi luka apalagi menganga
tak kenal gelap semuanya cahaya
mengurai makna menempuh usia

Bumidamai, Yogyakarta.

32 Komentar

Filed under Jiwa Merindu