Category Archives: Jiwa Merindu

Tahajjud

bila memang cinta, meski ada jaga
begitu katamu di malam buta

maka kini aku membuka mata
agar ucap cinta tak bohong belaka

duhai, tangan siapakah membelai?
dan aku lenyap dalam pesona

Bumidamai, Yogyakarta.

24 Komentar

Filed under Jiwa Merindu

Poetry Hujan: Menunggu Hujan

duduk di tumpukan daun jati yang mengering
ada yang pelahan meranggas di sekujur tubuhku
serupa kambium, pori-pori ini memecah hening
akar persoalan pun  merangsek menuju rindu

ya, rindu tetes demi tetes kesegaran dari langit
serupa hujan yang menumpahkan air cinta
bagi kemarau panjang atau dada yang terhimpit
segeralah, duhai, doa pun telah kering air mata

Bumidamai, Yogyakarta

 

Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis.

35 Komentar

Filed under Jiwa Merindu

Kembali Rindu Pulang

oleh sebab cintamu melulu sementara
aku kembali rindu pulang, ke pangkuan
oleh sebab cintamu melulu benda-benda
aku kembali rindu pulang, ke keabadian

duhai jiwa yang sekian lama terlena
bersaranglah, pulanglah, bersedekaplah
senyampang rindu belum didendangkan
oleh siapakah dengan air mata

Bumidamai, Yogyakarta.

32 Komentar

Filed under Jiwa Merindu

Saat Berdoa

ada yang diam-diam jebol dalam dadaku
serupa magma yang bergejolak
menyentak sunyi, mengurai desahan

ya, saat berdoa manusiaku berlepasan
serupa puing di jalanan bencana
menuntaskan beban, berhamburan

Bumidamai, Yogyakarta.

12 Komentar

Filed under Jiwa Merindu

Seusai Mendaki

apakah gairah yang gelombang
atau tubuh yang kian rengsa
seusai mendaki malam-malam

sejujurnya di manakah puncak
sejauh mata memandang
gemawan hanya putih berderak
tetapi siapa yang terlena
ternyata dunia amboi benderang

Bumidamai, Yogyakarta.

12 Komentar

Filed under Jiwa Merindu

Batu-Batu Itu

aku melihat batu-batu itu mengeras di hatimu
bongkahnya tajam melebihi karang dan belati
bertabrakan, menjadikanmu luka tiada henti
tetapi barangkali hanya kebutaan membuatmu
betapa bangga menyusuri lorong gelap kota
dan cuma kemunafikan, perih namun tertawa

Bumidamai, Yogyakarta.

4 Komentar

Filed under Jiwa Merindu

Mengantar Manusiaku

hari ini, aku mengantar manusiaku pergi
meninggalkan gerimis di perbukitan yang biru
selamat tinggal, duhai, lembah dan ngarai
juga jurang-jurang tempat indah menunggu

lorong-lorong kota akhirnya kusinggahi
ada yang bergetar, dari kabel dan televisi
manusiaku terpaku di bawah menara negeri
ada yang mau runtuh, saat segalanya tergadai

hari ini, aku mengantar manusiaku pergi
bersama angin yang membadai di kepalaku
sebab langkah semakin ingin kembali
memunguti jejak yang kabur dari jantungku

Bumidamai, Yogyakarta.

2 Komentar

Filed under Jiwa Merindu