Category Archives: Pendidikan

Pendidikan atau Mesin Industri?

Ustadz Akhmad Muhaimin Azzet bersama santri TPA Al-Muhtadin di MQFM Jogja

Penulis bersama santri TPA Al-Muhtadin di MQFM Jogja.

Zaman terus saja berputar. Konon, kini manusia telah memasuki peradaban modern yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi dan informasi serta kemajuan industri untuk memenuhi segala kebutuhan manusia.

Menghadapi zaman yang seperti ini, kebutuhan-kebutuhan manusia yang dahulu bisa dibilang sederhana saja, seperti sekadar makan, tempat tinggal, pakaian, atau kendaraan, kini detailnya menjadi bermacam-macam dan rumit. Baca lebih lanjut

20 Komentar

Filed under Pendidikan

Guru Hendaknya Selalu Menyadari Bahwa Ia adalah: Seorang Pendidik

Pendidikan, guru, pendidik, Akhmad Muhaimin AzzetMenyadari kedudukan sebagai seorang guru yang dimaksudkan di sini adalah kesadaran yang senantiasa tertanam bahwa ia seorang pendidik bagi anak didiknya. Kesadaran seperti ini sangat penting dimiliki oleh seorang guru agar ia dapat mendidik murid-muridnya dengan baik.

Sungguh, meskipun berada di sekolah, bukan berarti seorang guru secara otomatis bisa menyadari bahwa dirinya adalah seorang guru dalam arti yang sesungguhnya. Mengenai hal ini dapat dibuktikan bahwa tidak sedikit di antara guru yang mengajar apa adanya, tanpa persiapan yang baik, pekerjaannya hanya marah-marah, atau lebih parah lagi tidak mau tahu anak didiknya bisa memahami materi yang disampaikannya atau tidak. Baca lebih lanjut

13 Komentar

Filed under Pendidikan

Hari Pahlawan dan Resolusi Jihad

KH. Hasyim Asy'ari

KH. Hasyim Asy’ari

Pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945 dalam rangka mempertahankan tanah air dari penguasaan kembali Belanda dan pihak asing lainnya sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari seruan jihad oleh para ulama yang dipimpin KH. Hasyim Asy’ari.

Seruan jihad yang lalu dikenal dengan Resolusi Jihad itulah yang membakar semangat para pejuang yang tergabung dalam Sabilillah dan Hizbullah dan juga menyebar kepada para pejuang lainnya, termasuk juga Bung Tomo, itu dikeluarkan pada 22 Oktober 1945. Resolusi Jihad ini merupakan hasil keputusan Rapat Besar Konsul-Konsul NU se-Jawa dan Madura pada 21-22 Oktober di Surabaya.

Berikut adalah isi dari Resolusi Jihad (pernah dimuat di koran Kedaulatan Rakyat, Jogjakarta, edisi Jum’at Legi, 26 Oktober 1945) dan diketik kembali dengan menyesuaikan ejaan. Baca lebih lanjut

25 Komentar

Filed under Pendidikan

Pendidikan yang Mendengarkan Anak Didik

Penulis bahagia bersama santri.

Penulis bahagia bersama santri.

Kenyataan yang sering terjadi dalam dunia pendidikan yang tidak membebaskan adalah, seorang guru, misalnya, lebih senang untuk banyak berbicara di depan murid-murid daripada mendengarkan dengan baik apa yang mereka butuh dan inginkan. Bila sudah demikian, bagi para murid yang merasa tidak didengar keinginan dan pendapatnya, akan merasa jemu dalam mengikuti proses belajar mengajar. Bila kejemuan telah berkembang dalam diri murid atau anak didik maka alamat proses belajar mengajar akan sulit mencapai keberhasilan. Di sinilah pentingnya pendidikan yang mendengarkan anak didik itu.

Sekolah tidak cukup dengan menyandang sebagai sekolah yang telah maju atau mendapatkan akreditasi terbaik. Bagi pendidikan yang membebaskan, sekolah yang semacam ini perlu dipertanyakan apabila tidak menerapkan nilai-nilai yang demokratis di dalamnya. Gedung sekolahnya memang bagus dengan gerbang yang besar di depannya. Namun, gerbang ini tertutup rapat untuk murid yang terlambat satu menit saja. Sekolah tidak perlu bertanya mengapa ia terlambat dan segera menuduhnya sebagai murid yang tidak disiplin. Baca lebih lanjut

22 Komentar

Filed under Pendidikan

Guru: Bekepribadian Layak Ditiru

Akhmad Muhaimin Azzet, Taman Pendidikan Al-Qur'an Al-Muhtadin, YogyakartaSeorang guru yang dicintai oleh anak didiknya adalah guru yang mempunyai kepribadian layak ditiru. Inilah kepribadian utama yang harus dimiliki oleh seorang guru. Menurut falsafah Jawa, kata guru berasal dari kalimat bisa “digugu” (dipercaya) dan “ditiru” (dicontoh). Jadi, orang yang menjadi guru adalah seseorang yang bisa dipercaya dan ditiru tingkah lakunya oleh anak didiknya.

Dua hal sebagaimana tersebut, yakni bisa dipercaya dan layak ditiru, adalah modal utama bagi siapa saja yang ingin berkepribadian unggul. Orang yang mempunyai kepribadian demikian akan mempunyai tempat yang istimewa di hati para sahabat dan koleganya. Lebih-lebih bagi seorang guru yang memang pekerjaannya adalah mendidik para siswa agar pandai di bidang ilmu pengetahuan dan mempunyai kepribadian yang luhur. Sudah tentu, tidak bisa tidak, ia harus bisa dipercaya dan bisa ditiru oleh anak didiknya. Bila tidak, maka alamat tujuan pendidikan dan pengajaran yang diampu oleh sang guru tersebut akan mengalami kegagalan. Baca lebih lanjut

22 Komentar

Filed under Pendidikan

Pendidikan yang Demokratis

Akhmad Muhaimin Azzet, santri TPA Al-Muhtadin, amazzet

Penulis bersama santri TPA Al-Muhtadin, Yogyakarta.

Pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang demokratis. Sebuah proses pendidikan yang hubungan guru dan murid dapat berimbang sehingga bisa saling menyampaikan pendapat dan pikiran. Guru tidak hanya menyampaikan materi sedangkan di pihak lain murid hanya mendengarkan dan menerima apa adanya. Dalam pendidikan yang demokratis murid juga sangat penting untuk didengar pendapatnya, diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya, atau dihargai apa yang menjadi keinginannya dalam proses belajar mengajar.

Dalam banyak pengamatan di lapangan, memang tidak mudah dalam mempraktikkan pendidikan yang demokratis ini. Hal ini barangkali masih kuatnya pandangan bahwa guru tentu lebih pandai dan mempunyai ilmu pengetahuan yang banyak ketimbang muridnya. Guru itu tugasnya adalah mendidik dan mengarahkan anak didiknya untuk menjadi lebih baik dan pintar daripada sebelumnya. Hanya seorang gurulah yang bisa mengantarkan anak didiknya untuk mencapai kehidupan yang sukses dan berhasil mencapai cita-citanya. Baca lebih lanjut

34 Komentar

Filed under Pendidikan

Guru yang Bisa Menjadi Sahabat dalam Belajar

Akhmad Muhaimin Azzet bersama santriGuru yang dicintai oleh anak didiknya adalah yang bisa menjadi sahabat dalam belajar. Guru yang menjadi sahabat ini adalah hal baru dan penting untuk diperhatikan. Berbeda dengan zaman dahulu yang beragam informasi tidak mudah diakses dengan kecanggihan teknologi sebagaimana saat ini. Saat itu, guru sekan menjadi satu-satunya sumber ilmu. Peran seorang guru adalah memberikan ilmu kepada anak didiknya. Oleh karena itu, seorang guru akhirnya juga bisa menjadi penguasa tunggal di dalam kelas.

Sebagai penguasa tunggal di dalam kelas, seorang guru di zaman dahulu bebas melakukan apa saja, termasuk dalam memberikan hukuman kepada murid-muridnya. Apabila ada murid sedikit saja tidak menunjukkan perhatian ketika pelajaran diterangkan, maka seorang guru bisa melemparkan penghapus kepada murid yang tidak perhatian tersebut. Ada juga seorang guru yang mempunyai kebiasaan mencubit anak didiknya sampai sang anak menjerit-jerit, bahkan bekas cubitannya pun menghitam hingga beberapa hari baru hilang. Sang anak pun enggan mengadukan perlakuan sang guru tersebut ke orangtuanya. Sebab, orangtuanya pun biasanya malah menyalahkan anak yang menuduh tidak patuh sama gurunya. Baca lebih lanjut

20 Komentar

Filed under Pendidikan