Tag Archives: bahagia

Nikah Sekarang? Siapa Takut!

Judul Buku    : Nikah Sekarang? Siapa Takut!
Penulis        : Akhmad Muhaimin Azzet
Penerbit    : Diva Press, Yogyakarta
Tebal        : 251 hlm.
Harga        : Rp. 32.000,-
ISBN        : 978-602-978-281-3

“Buku ini memang sangat inspiratif. Setelah membacanya, saya mempunyai kemantapan hati untuk menikah, meski berangkat dari nol secara ekonomi. Sekarang, setelah menikah, saya mendapatkan banyak perubahan itu, baik dari segi ekonomi maupun kebahagiaan hidup. Dan, kekuatan dari buku ini sungguh terasa karena ditulis berdasarkan pengalaman langsung penulisnya yang merujuk kepada ajaran Islam yang mulia. Sebuah buku yang membagikan semangat.”
(Tri Prasetyo, General Manager PT Buka Buku Production, Yogyakarta) Baca lebih lanjut

43 Komentar

Filed under Info Buku

Rahasia Didoakan Malaikat Agar Mendapatkan Rahmat

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Shalat seseorang dengan berjamaah itu dilipatkan dua puluh lima kali lipat atas shalat sendiri yang dikerjakan di rumah atau di pasar. Hal itu apabila ia berwudhu dengan sempurna, kemudian ia keluar menuju ke masjid dengan niat hanya untuk shalat, maka setiap kali ia melangkah, derajatnya dinaikkan dan kesalahan (dosa)nya diturunkan. Lalu, ketika ia melakukan shalat, malaikat senantiasa memohonkan ampun dan rahmat untuknya, selama ia masih tetap berada di tempat shalatnya dan tidak berhadas. Malaikat berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia.’ Dan tetap dianggap berada dalam shalat (mendapat pahala seperti itu), selama ia menanti shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Duhai, pembaca tercinta, siapakah yang tidak tergetar hatinya membaca sabda Nabi Muhammad Saw. yang mulia, bahwa setiap kali seseorang melangkah menuju masjid untuk shalat berjamaah, derajatnya dinaikkan dan kesalahan (dosa)nya diturunkan. Betapa hati kita tidak tergetar duhai pembaca, ketika malaikat berdoa, “Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia.” Kita membayangkan seandainya yang didoakan malaikat itu adalah kita. Betapa bahagianya didoakan malaikat. Sungguh, ini adalah amalan rahasia yang telah dibeberkan oleh Nabi Muhammad Saw. kepada umatnya, termasuk kita.

Al-Faqir ila Rahmatillah,
Akhmad Muhaimin Azzet

18 Komentar

Filed under Hikmah

Kaitan Antara Rezeki dan Bertaubat

Agar rezeki semakin bertambah dan barakah, hendaknya seseorang menempuh jalan taubat kepada Allah Swt. Ini adalah solusi yang sering dianggap aneh oleh sebagian orang. Mereka beranggapan bahwa sama sekali tidak ada kaitan antara bertambahnya rezeki dengan bertaubat. Baiklah, dalam risalah sederhana ini, saya ingin mengajak pembaca untuk memahami bahwa ada kaitan erat antara bertambahnya rezeki dengan taubat. Apalagi, bagi seorang muslim, yang diharapkannya bukan hanya bertambahnya rezeki semata, tetapi juga ada nilai barakah dari Allah Swt. Baca lebih lanjut

19 Komentar

Filed under Menuju Cahaya

Mendapatkan Balasan Istimewa

Rasulullah Saw. bersabda:

“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan kebaikan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus lipat kecuali puasa karena ia untuk-Ku dan Aku mengganjarnya; ia tinggalkan syahwatnya dan makanannya karena-Ku. Bagi orang puasa ada dua kegembiraan: kegembiraan pada waktu berbuka dan kegembiraan pada waktu bertemu dengan Rabbnya. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada kasturi.” (HR. Jamaah)

“Puasa adalah perisai. Karena itu, hendaknya ia tidak berkata kotor dan tidak bertindak bodoh. Apabila ada seseorang yang memerangi atau mencacinya, hendaknya ia berkata, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’ sebanyak dua kali. Demi Dzat yang jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih harum daripada minyak misik. (Firman-Nya): ‘Dia meningalkan makanannya, minumannya, dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya sendiri. Kebaikan itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.” (HR. Bukhari)

Berpuasa di bulan Ramadhan adalah ibadah yang istimewa, maka balasan yang diberikan oleh Allah Swt. kepada orang yang mengerjakannya pun istimewa pula. Bahkan, saking istimewanya, Allah Swt. tidak menyebut sebagaimana balasan yang diberikan kepada orang yang melakukan ibadah lainnya yang diberikan kebaikan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat.

Secara lahiriah, berpuasa memang sulit untuk dipamerkan (riya’) kepada orang lain. Bahkan, apabila ibadah itu difoto, misalnya, dan foto itu bisa ditunjukkan kepada orang lain bahwa orang tersebut telah melakukan ibadah tertentu, maka hal ini bisa dilakukan pada shalat, membayar zakat, sedekah, atau haji. Namun, orang yang berpuasa atau tidak, di dalam foto tidak bisa dibedakan. Ini hanyalah analogi sederhana bahwa berpuasa memang berbeda. Demikian pula dengan orang yang munafik, ia bisa berpura-pura menjalankan shalat bersama kaum Mukmin, misalnya, namun mereka akan merasa berat apabila berpura-pura mengerjakan puasa sebulan penuh dalam bulan Ramadhan.

Al-Faqir ila Rahmatillah,
Akhmad Muhaimin Azzet

19 Komentar

Filed under Ibadah

Tak Sekadar Tidak Makan dan Minum

Rasulullah Saw. bersabda:

“Barangsiapa tidak meninggalkan perbuatan bohong dan perbuatan curang, maka Allah sama sekali tidak memerlukan perbuatannya meninggalkan makan dan minum (puasa).” (HR. Bukhari)

“Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad)

“Tidaklah dikatakan berpuasa karena tidak makan dan tidak minum. Akan tetapi, yang dinamakan berpuasa adalah karena meninggalkan ucapan sia-sia dan perbuatan tidak senonoh. Karena itu, jika ada orang yang memakimu atau berlaku jahil kepadamu, katakanlah (kepadanya), ‘Aku sedang berpuasa. Aku sedang berpuasa.” (HR. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim)

Berpuasa yang sempurna ternyata tak sekadar tidak makan dan minum serta meninggalkan segala yang membatalkan puasa di siang hari saja. Secara syariat, puasa yang demikian memang sudah berhukum sah. Akan tetapi, apabila kita ingin mendapatkan fadhilah dari puasa yang sempurna, tentu kita harus menjaga lisan dan seluruh anggota tubuh agar terhindar dari hal yang tercela atau maksiat. Sehingga, jangan sampai kita berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga.

Al-Faqir ila Rahmatillah,
Akhmad Muhaimin Azzet

26 Komentar

Filed under Hikmah

Kesalahan Sepenuh Langit dan Bumi

Sebesar apa pun dosa yang pernah dilakukan oleh seseorang, Allah Swt. tidak akan memedulikannya lagi, asal ia datang dengan bertaubat kepada-Nya, Allah akan menerima taubatnya dan memberikan ampunan. Asalkan ia datang dengan sepenuh hati untuk bertaubat dan tidak dalam keadaan berbuat syirik.

Dari Anas bin Malik Ra. berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

“Allah Swt. berfirman, ‘Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak akan memedulikannya lagi. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu memenuhi seluruh langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau menjumpai-Ku dalam keadaan tidak berbuat syirik dengan apa pun niscaya Aku akan datang kepadamu dengan pengampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi). Baca lebih lanjut

25 Komentar

Filed under Menuju Cahaya

Mengangkat Derajat dan Menghapus Kesalahan

Ma’dan bin Abi Thalhah berkata, “Aku pernah menemui Tsauban, budak yang dimerdekakan Rasulullah Saw., lalu kutanyakan, ‘Katakanlah kepadaku tentang perbuatan yang dapat kulakukan, yang dengannya Allah dapat memasukkan aku ke surga.’ Atau ia bertanya, ‘Tentang perbuatan yang paling dicintai Allah.’ Kemudian ia (Tsauban) diam. Lalu, kutanyakan lagi, dan ia tetap diam. Kutanyakan yang ketiga kalinya, akhirnya ia menjawab, ‘Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang hal itu. Beliau menjawab, ‘Hendaknya kamu memperbanyak sujud, karena tidaklah kamu bersujud sekali sujud kepada Allah, melainkan Allah mengangkat derajatmu dan menghapuskan kesalahanmu.” Ma’dan berkata, “Kemudian aku datangi Abu Darda’ dan kutanyakan kepadanya. Ia menjawab seperti jawaban Tsauban kepadaku.” (HR Muslim, Tirmidzi, dan Nasa’i) Baca lebih lanjut

30 Komentar

Filed under Hikmah

Seberapa Besar Dosa Kita

Barang siapa menginginkan hidupnya di dunia bahagia, dan sudah barang tentu menginginkan kehidupan yang bahagia pula di kehidupan yang abadi di akhirat kelak, bersegeralah bertaubat kepada Allah Swt.

Tidak ada alasan lagi bahwa dosa di masa lalu terlalu besar. Tak ada alasan lagi bahwa saat ini diri masih berkubang lumpur maksiat. Dan, tak ada alasan lagi untuk menunda lagi. Sebab, siapakah yang tahu bahwa jatah usia yang diberikan Allah kepadanya lebih lama lagi? Untuk itu, mari segera memohon ampun kepada-Nya dan bertaubat dengan kesungguhan hati. Baca lebih lanjut

10 Komentar

Filed under Menuju Cahaya

Taubat Pendosa Besar

Orang yang berbuat syirik (menyekutukan Allah), membunuh, dan berzina adalah orang yang telah melakukan dosa besar. Mereka adalah para pendosa besar.

Allah Swt. berfirman:

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.” (QS. Al-Furqaan [25]: 68-69)

Firman Allah Swt. sebagaimana tersebut sering dijadikan dalil bahwa betapa besar dosa syirik, membunuh, dan berzina. Sungguh, mereka akan kekal dalam azab dan dalam keadaan terhina.

Penggunaan dalil tersebut tidak salah; memang demikianlah pembalasan bagi orang-orang yang berbuat syirik, membunuh, dan berzina. Na’udzu billah tsumma nau’dzu billahi min dzalik. Akan tetapi, ayat tersebut masih ada lanjutannya, kecuali (illa…) bagi orang-orang yang bertaubat, beriman, dan beramal shalih. Selengkapnya, marilah kita perhatikan ayat selanjutnya sebagai berikut:

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal shalih; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Furqaan [25]: 70-71)

Subhanallah, sungguh Allah Swt. adalah Dzat Yang Maha Penerima taubat bagi para hamba-Nya. Sebesar apa pun dosa manusia bila ia datang kepada Allah untuk memohon ampunan dan bertaubat maka tidak ada penghalang baginya.

Bila dahulu ia berbuat syirik maka ia datang kepada Allah memohon ampunan dan bertaubat untuk tidak berbuat syirik lagi; ia membersihkan hatinya dari noda syirik dan tidak akan berbuat syirik lagi. Demikian pula bila dahulu ia berzina atau membunuh, maka ia datang kepada Allah dengan memohon ampunan dan bertaubat untuk tidak berzina atau membunuh lagi.

Pintu taubat terbuka lebar untuk para pendosa selama ia mau bertaubat dan memohon ampunan. Senyampang nyawa belum di ujung tenggorokan; senyampang matahari belum terbit dari barat. Setelah bertaubat, amalannya adalah menebus kesalahan masa lalu dengan memperbanyak amal shalih.

Demikianlah, semoga kita termasuk orang yang bertaubat, beriman, dan beramal shalih.

Al-Faqir ila Rahmatillah,
Akhmad Muhaimin Azzet

13 Komentar

Filed under Menuju Cahaya

Allah Swt. Senang Menerima Taubat Hamba-Nya

Kadang kala ada seseorang yang karena telah melakukan banyak perbuatan dosa, ia merasa bahwa Allah tak mungkin mengampuni dosa-dosanya. Sebenarnya, di saat-saat tertentu hati nuraninya memberontak ingin mengakhiri perbuatan maksiatnya. Jiwanya yang fitrah telah mengalami kelelahan yang luar biasa. Namun, karena anggapan bahwa dirinya sudah telanjur masuk ke dalam lumpur dosa yang terlalu dalam, ia merasa sudah terlalu kotor, akhirnya ia memutuskan untuk tidak perlu bertaubat. Ia beranggapan bahwa dosanya terlalu besar dan tak mungkin diampuni. Maka, ia merasa percuma bila bertaubat.

Menghadapi orang yang semacam ini, sungguh izinkan saya berbisik lembut di dekat telinganya, bahwa Allah Ta’ala senang atau gembira menerima taubat hamba-Nya. Dalam hal ini, ini ada sebuah hadits shahih dari Abu Hamzah Anas bin Malik al-Anshari, berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

“Sesungguhnya Allah gembira menerima taubat hamba-Nya, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian ketika menemukan kembali untanya yang hilang di padang yang luas.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Saudaraku tercinta, coba Anda bayangkan, dalam sebuah perjalanan yang jauh di sebuah padang yang luas, Anda membawa sebuah kendaraan unta. Oleh karena suatu hal, unta itu berlari meninggalkan Anda, lantas hilang entah ke mana. Padahal, di punggung unta itu terdapat bekal perjalanan Anda, termasuk makanan dan minuman. Anda kelelahan mengejar dan mencarinya, sehingga Anda terduduk di bawah sebuah pohon dengan hati yang benar-benar putus asa untuk menemukan kembali unta kendaraan Anda. Lalu, Anda tertidur.

Ketika Anda bangun dari tidur, membuka pelan-pelan mata Anda, dan yang pertama kali Anda lihat di depan Anda adalah unta kendaraan Anda lengkap dengan perbekalan Anda yang tiba-tiba sudah kembali. Bagaimana perasaan Anda? Sudah barang tentu, Anda sangat senang atau gembira sekali. Dalam hadits tersebut, Rasulullah Saw. menyebutkan bahwa Allah Swt. gembira menerima taubat hamba-Nya; melebihi kegembiraan sebagaimana Anda saat menemukan unta kendaraan Anda kembali.

Jika memang demikian adanya, sungguh tidak ada alasan lagi bagi seseorang yang merasa telah banyak berbuat dosa untuk takut tidak diterima taubat kepada-Nya. Betapa Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang kepada hamba-Nya. Bahkan, rahmat Allah mengalahkan amarah-Nya. Dalam hal ini, marilah kita renungkan sebuah hadits yang diceritakan oleh Abdan, dari Abu Hamzah, dari al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah Ra., dari Nabi Saw., beliau bersabda:

“Setelah Allah menciptakan seluruh makhluk, Dia menulis dalam Kitab-Nya, Dia menuliskan (ketetapan) atas diri-Nya dan Kitab itu diletakkan di sisi-Nya di atas ‘Arsy (yaitu): ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku.” (HR. Bukhari).

Berdasarkan hadits tersebut, semestinya kita segera memantapkan hati untuk senantiasa bertaubat kepada-Nya. Bukan malah sebaliknya, dengan dalih bahwa rahmat Allah mengalahkan amarah-Nya, malah tidak segera bertaubat kepada-Nya. Sungguh, ini adalah kesalahan yang sangat fatal. Sebab, siapakah yang bisa menjamin di waktu ke depan masihkah ada kesempatan bagi kita bertaubat bila ajal tiba-tiba menjelang?

Maka, marilah segera kita menuju kegembiraan Allah Swt. bila hamba-Nya bertaubat atas segala kesalahan yang telanjur terjadi. Marilah menjadi hamba yang tidak berlama-lama dalam gelimang dosa, dan segera menuju hidup yang penuh kebahagiaan dalam ridha-Nya.

Al-Faqir ila Rahmatillah,
Akhmad Muhaimin Azzet

15 Komentar

Filed under Menuju Cahaya