Tag Archives: Islam

Seberapa Besar Dosa Kita

Barang siapa menginginkan hidupnya di dunia bahagia, dan sudah barang tentu menginginkan kehidupan yang bahagia pula di kehidupan yang abadi di akhirat kelak, bersegeralah bertaubat kepada Allah Swt.

Tidak ada alasan lagi bahwa dosa di masa lalu terlalu besar. Tak ada alasan lagi bahwa saat ini diri masih berkubang lumpur maksiat. Dan, tak ada alasan lagi untuk menunda lagi. Sebab, siapakah yang tahu bahwa jatah usia yang diberikan Allah kepadanya lebih lama lagi? Untuk itu, mari segera memohon ampun kepada-Nya dan bertaubat dengan kesungguhan hati. Baca lebih lanjut

10 Komentar

Filed under Menuju Cahaya

Menemukan Solusi dengan Shalat

Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah [2]: 153)

Dalam sebuah hadis disampaikan, “Rasulullah Saw. bila menghadapi suatu dilema (situasi yang sukar dan membingungkan) beliau shalat.” (HR Ahmad)

Rasulullah Saw. bersabda, “Saat terdekat bagi seorang hamba kepada Rabbnya adalah pada saat ia bersujud.” (HR Muslim)

Ketika menghadapi bermacam persoalan dalam kehidupan ini, tak jarang kita mengalami kesulitan atau bahkan seakan menemukan jalan buntu. Pada saat seperti inilah, jangan lagi kita berkepanjangan dalam kebingungan, apalagi mencari jawaban ke tempat-tempat yang tidak dibenarkan oleh Islam, bersegeralah menyingsingkan lengan baju untuk berwudhu dan mengerjakan shalat. Demikianlah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Kepada siapa lagi kita memohon pertolongan bila tidak kepada Allah Swt. Yang Menciptakan seluruh alam raya beserta isinya; Dia-lah Dzat Yang Berkuasa atas segala sesuatu. Sungguh, inilah saat terdekat antara seorang hamba dengan Allah Swt., maka memohonlah dengan kesungguhan hati saat bersujud kepada-Nya.

Al-Faqir ila Rahmatillah,
Akhmad Muhaimin Azzet

9 Komentar

Filed under Hikmah

Taubat Pendosa Besar

Orang yang berbuat syirik (menyekutukan Allah), membunuh, dan berzina adalah orang yang telah melakukan dosa besar. Mereka adalah para pendosa besar.

Allah Swt. berfirman:

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.” (QS. Al-Furqaan [25]: 68-69)

Firman Allah Swt. sebagaimana tersebut sering dijadikan dalil bahwa betapa besar dosa syirik, membunuh, dan berzina. Sungguh, mereka akan kekal dalam azab dan dalam keadaan terhina.

Penggunaan dalil tersebut tidak salah; memang demikianlah pembalasan bagi orang-orang yang berbuat syirik, membunuh, dan berzina. Na’udzu billah tsumma nau’dzu billahi min dzalik. Akan tetapi, ayat tersebut masih ada lanjutannya, kecuali (illa…) bagi orang-orang yang bertaubat, beriman, dan beramal shalih. Selengkapnya, marilah kita perhatikan ayat selanjutnya sebagai berikut:

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal shalih; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Furqaan [25]: 70-71)

Subhanallah, sungguh Allah Swt. adalah Dzat Yang Maha Penerima taubat bagi para hamba-Nya. Sebesar apa pun dosa manusia bila ia datang kepada Allah untuk memohon ampunan dan bertaubat maka tidak ada penghalang baginya.

Bila dahulu ia berbuat syirik maka ia datang kepada Allah memohon ampunan dan bertaubat untuk tidak berbuat syirik lagi; ia membersihkan hatinya dari noda syirik dan tidak akan berbuat syirik lagi. Demikian pula bila dahulu ia berzina atau membunuh, maka ia datang kepada Allah dengan memohon ampunan dan bertaubat untuk tidak berzina atau membunuh lagi.

Pintu taubat terbuka lebar untuk para pendosa selama ia mau bertaubat dan memohon ampunan. Senyampang nyawa belum di ujung tenggorokan; senyampang matahari belum terbit dari barat. Setelah bertaubat, amalannya adalah menebus kesalahan masa lalu dengan memperbanyak amal shalih.

Demikianlah, semoga kita termasuk orang yang bertaubat, beriman, dan beramal shalih.

Al-Faqir ila Rahmatillah,
Akhmad Muhaimin Azzet

13 Komentar

Filed under Menuju Cahaya

Orang yang Bersih

Rasulullah Saw. bersabda, “Perumpamaan shalat lima waktu seperti sebuah sungai yang airnya mengalir dan melimpah dekat pintu rumah seseorang yang tiap hari mandi di sungai itu lima kali.” (HR Bukhari dan Muslim)

Betapa bersihnya tubuh seseorang yang dalam sehari mandi sebanyak lima kali. Demikianlah perumpaan orang yang mengerjakan shalat fardhu. Shalat yang dikerjakannya akan membersihkan jiwanya dari dosa-dosa. Betapa indahnya kehidupan orang yang mengerjakan shalat itu. Bila jiwa seseorang telah dibersihkan dari dosa-dosa maka ia telah menemukan jalan yang sangat mulus untuk bisa merasakan kebahagiaan.

Al-Faqir ila Rahmatillah,
Akhmad Muhaimin Azzet

12 Komentar

Filed under Hikmah Utama

Allah Swt. Senang Menerima Taubat Hamba-Nya

Kadang kala ada seseorang yang karena telah melakukan banyak perbuatan dosa, ia merasa bahwa Allah tak mungkin mengampuni dosa-dosanya. Sebenarnya, di saat-saat tertentu hati nuraninya memberontak ingin mengakhiri perbuatan maksiatnya. Jiwanya yang fitrah telah mengalami kelelahan yang luar biasa. Namun, karena anggapan bahwa dirinya sudah telanjur masuk ke dalam lumpur dosa yang terlalu dalam, ia merasa sudah terlalu kotor, akhirnya ia memutuskan untuk tidak perlu bertaubat. Ia beranggapan bahwa dosanya terlalu besar dan tak mungkin diampuni. Maka, ia merasa percuma bila bertaubat.

Menghadapi orang yang semacam ini, sungguh izinkan saya berbisik lembut di dekat telinganya, bahwa Allah Ta’ala senang atau gembira menerima taubat hamba-Nya. Dalam hal ini, ini ada sebuah hadits shahih dari Abu Hamzah Anas bin Malik al-Anshari, berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

“Sesungguhnya Allah gembira menerima taubat hamba-Nya, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian ketika menemukan kembali untanya yang hilang di padang yang luas.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Saudaraku tercinta, coba Anda bayangkan, dalam sebuah perjalanan yang jauh di sebuah padang yang luas, Anda membawa sebuah kendaraan unta. Oleh karena suatu hal, unta itu berlari meninggalkan Anda, lantas hilang entah ke mana. Padahal, di punggung unta itu terdapat bekal perjalanan Anda, termasuk makanan dan minuman. Anda kelelahan mengejar dan mencarinya, sehingga Anda terduduk di bawah sebuah pohon dengan hati yang benar-benar putus asa untuk menemukan kembali unta kendaraan Anda. Lalu, Anda tertidur.

Ketika Anda bangun dari tidur, membuka pelan-pelan mata Anda, dan yang pertama kali Anda lihat di depan Anda adalah unta kendaraan Anda lengkap dengan perbekalan Anda yang tiba-tiba sudah kembali. Bagaimana perasaan Anda? Sudah barang tentu, Anda sangat senang atau gembira sekali. Dalam hadits tersebut, Rasulullah Saw. menyebutkan bahwa Allah Swt. gembira menerima taubat hamba-Nya; melebihi kegembiraan sebagaimana Anda saat menemukan unta kendaraan Anda kembali.

Jika memang demikian adanya, sungguh tidak ada alasan lagi bagi seseorang yang merasa telah banyak berbuat dosa untuk takut tidak diterima taubat kepada-Nya. Betapa Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang kepada hamba-Nya. Bahkan, rahmat Allah mengalahkan amarah-Nya. Dalam hal ini, marilah kita renungkan sebuah hadits yang diceritakan oleh Abdan, dari Abu Hamzah, dari al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah Ra., dari Nabi Saw., beliau bersabda:

“Setelah Allah menciptakan seluruh makhluk, Dia menulis dalam Kitab-Nya, Dia menuliskan (ketetapan) atas diri-Nya dan Kitab itu diletakkan di sisi-Nya di atas ‘Arsy (yaitu): ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku.” (HR. Bukhari).

Berdasarkan hadits tersebut, semestinya kita segera memantapkan hati untuk senantiasa bertaubat kepada-Nya. Bukan malah sebaliknya, dengan dalih bahwa rahmat Allah mengalahkan amarah-Nya, malah tidak segera bertaubat kepada-Nya. Sungguh, ini adalah kesalahan yang sangat fatal. Sebab, siapakah yang bisa menjamin di waktu ke depan masihkah ada kesempatan bagi kita bertaubat bila ajal tiba-tiba menjelang?

Maka, marilah segera kita menuju kegembiraan Allah Swt. bila hamba-Nya bertaubat atas segala kesalahan yang telanjur terjadi. Marilah menjadi hamba yang tidak berlama-lama dalam gelimang dosa, dan segera menuju hidup yang penuh kebahagiaan dalam ridha-Nya.

Al-Faqir ila Rahmatillah,
Akhmad Muhaimin Azzet

15 Komentar

Filed under Menuju Cahaya

Amalan dan Doa Menjadi Kaya

Judul Buku    : Amalan dan Doa Menjadi Kaya
Penulis            : Akhmad Muhaimin Azzet
Penerbit         : Starbooks, Yogyakarta
Tebal                : 166 hlm.
Harga              : Rp.30.000,-
ISBN                 : 978-979-25-4771-9

Setiap orang mengharapkan kebahagiaan, kesejahteraan, sekaligus ketenteraman selalu menaungi hidupnya. Namun bagaimana mewujudkannya, tidak banyak yang tahu. Banyak orang bekerja membanting tulang agar menjadi kaya sehingga seluruh kebutuhannya tercukupi, tetapi tak sedikit yang akhirnya menemui kegagalan dan berputus asa.

Agar menjadi kaya tidak cukup berusaha secara lahir, tetapi juga batin. Bahkan, inilah yang menjadi kunci keberhasilan seseorang. Ikhtiar secara batin adalah fondasi untuk berikhtiar secara lahir. Ikhtiar batin yang dilakukan secara istiqamah akan memberikan kekuatan, keteguhan hati, harapan, dan keyakinan dalam usaha memperoleh kekayaan.

Risalah ini mengantarkan Anda menjemput kekayaan yang diridhai Allah. berisi amalan dan doa-doa yang dapat Anda lalkukan guna memperoleh dan memperlancar rezeki yang barakah. Dengan kekayaan yang diridhai Allah Swt., nantinya, kebahagiaan tidak hanya didapatkan di dunia, tetapi juga di akhirat kelak. Selamat membaca dan mencoba!

12 Komentar

Filed under Info Buku

Shalat Tahiyyatul Masjid

Apabila memasuki masjid, baik itu pada hari Jum’at atau bukan, pada waktu siang atau malam hari, kita disunnahkan untuk mengerjakan shalat tahiyyatul masjid sebanyak dua rakaat. Shalat ini dikerjakan untuk menghormati rabbul masjid, yakni Allah Swt. Shalat tahiyyatul masjid ini dikerjakan sebelum kita duduk di dalam masjid.

Dari Abi Qatadah, ia berkata, Rasulullah Saw. telah bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

“Apabila salah seorang di antara kamu masuk masjid, hendaklah ia tidak duduk sebelum melakukan shalat dua rakaat.” (HR Jamaah)

Sangat penting mengerjakan shalat tahiyyatul masjid ini, sehingga ada ulama yang berpendapat hukumnya makruh bila meninggalkan shalat ini apabila tanpa udzur. Oleh karena itu, bagi yang tidak bisa mengerjakan shalat ini ketika memasuki masjid, hendaknya membaca lafazh sebagai berikut:

سُبْحَانَ اللهِ وَ اَلْحَمْدُ للهِ وَ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ, و اَللهُ اَكْبَرُ, وَ لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Subhânallâhi walhamdulillâhi wa lâ ilâha illallâhu wa-llâhu akbar, wa lâ haula wa lâ quwwata illâ billâhil ‘aliyyil ‘azhîm.

Artinya:
“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan hanya Allah, dan Allah Mahabesar. Dan tiada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi dan Mahaagung.”

Bacaan sebagaimana tersebut dibaca sebanyak tiga kali; ada juga ulama yang berpendapat dibaca sebanyak empat kali. Bacaan tersebut merupakan pengganti dari shalat tahiyyatul masjid, sujud tilawah, dan sujud syukur. Namun, sekali lagi, bacaan tersebut merupakan pengganti, jadi apabila bisa mengerjakannya sudah barang tentu akan lebih baik.

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

2 Komentar

Filed under Semakin Mendekat

Beratkah Shalat Lima Waktu?

Dari Anas bin Malik r.a., ia berkata, “Bahwasanya Abu Dzar pernah bercerita bahwa Rasulullah Saw. bersabda, ‘Atap rumahku dibuka ketika aku di Makkah. Kemudian Jibril turun dan membelah dadaku, lalu mencucinya dengan air zamzam, kemudian dia datang membawa sebuah bejana dari emas yang penuh dengan hikmah dan keimanan, lalu menuangkannya ke dalam dadaku, kemudian menutupnya. Selanjutnya menggandeng tanganku dan membawaku naik ke langit dunia. Ketika aku sampai di langit dunia, Jibril berkata kepada penjaga langit, ‘Bukalah.’

“Dia (penjaga langit) bertanya, ‘Siapakah ini?’

“Dia (Jibril) menjawab, ‘Ini Jibril.’

“Dia (penjaga langit) bertanya, ‘Apakah ada orang lain yang bersamamu?’

“Dia (Jibril) menjawab, ‘Ya. Saya bersama Muhammad Saw.’

“Dia (penjaga langit) bertanya, ‘Apakah dia diutus kepada-Nya?’

“Dia (Jibril) menjawab, ‘Ya.’

“Ketika dia membukanya, kami naik melewati langit dunia. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang duduk dan di sebelah kanannya terdapat sekumpulan orang dan di sebelah kirinya juga terdapat sekumpulan orang. Jika melihat ke sebelah kanannya, dia tertawa, dan jika melihat ke arah kirinya, dia menangis. Dia lalu berkata, ‘Selamat datang wahai nabi yang saleh dan anak orang yang saleh.’ Baca lebih lanjut

4 Komentar

Filed under Hikmah Utama

Perintah dari Yang Mahamulia

Allah Swt. berfirman:

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 43)

“…Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 103)

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang haq) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thâhâ [20]: 14)

Duhai jiwa yang telah menyatakan diri dalam sebuah kesaksian bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali hanya Allah Swt. dan Nabi Muhammad Saw. adalah utusan-Nya, Dia Yang Mahamulia telah memerintahkan untuk mengerjakan shalat. Apabila kita ingin hidup bahagia, baik di dunia maupun di akhirat, jangan pernah sekali-kali mengabaikan perintah-Nya. Lakukan saja dengan sepenuh kesungguhan dan ketulusan maka hidupmu akan bahagia.

Al-Faqîr ilâ rahmatillâh,
Akhmad Muhaimin Azzet

8 Komentar

Filed under Hikmah Utama

Shalat Tahajjud

Shalat Tahajjud merupakan shalat sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan oleh orang Islam. Betapa penting shalat Tahajjud ini sampai Allah Swt. menyampaikan secara khusus dalam firman-Nya sebagai berikut:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (QS Al-Isrâ [17]: 79)

Shalat Tahajjud juga merupakan shalat yang paling utama sesudah shalat fardhu. Mengenai hal ini, dapat kita ketahui dari sebuah hadis Nabi Saw. sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ لَمَّا سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَيُّ الصَّلاَةِ أَفْضَلُ بَعْدَ الْمَكْتُوْبَةِ؟ قَالَ الصَّلاَةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ (رواه مسلم و غيره)

Dari Abu Hurairah, “Ketika Nabi Saw. ditanya oleh seseorang, ‘Shalat apakah yang lebih utama setelah shalat maktubah (fardhu yang lima)?’ Beliau menjawab, ‘Shalat pada waktu tengah malam.” (HR Muslim dan lainnya)

Shalat Tahajjud dikerjakan dengan dua rakaat sampai dengan sebatas kemampuan seseorang dalam mengerjakannya. Jadi, rakaat paling sedikit dalam mengerjakan shalat Tahajjud adalah dua rakaat sampai dengan tidak terbatas. Setelah melakukan shalat Tahajjud dengan dua rakaat dan salam maka seseorang bisa menambah dua rakaat lagi dan salam, demikian seterusnya.

Waktu untuk mengerjakan shalat Tahajjud adalah sesudah shalat Isya sampai dengan sebelum datangnya waktu Shubuh. Akan tetapi, waktu yang paling utama untuk mengerjakan shalat Tahajjud adalah sepertiga malam yang terakhir (apabila malam itu dibagi menjadi tiga bagian). Mengenai apakah shalat Tahajjud harus dikerjakan sesudah tidur dahulu atau tidak, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang berpendapat tidak harus tidur terlebih dahulu dan ada yang mengharuskannya.

Apabila ditinjau dari segi namanya, tahajjud artinya bangkit, sehingga dinamakan tahajjud karena dikerjakan setelah bangkit atau bangun dari tidur. Lagi pula, apabila shalat Tahajjud dikerjakan setelah tidur terlebih dahulu maka orang yang melakukannya sudah mempunyai jiwa yang segar dan lebih mudah mencapai ketenangan batin karena telah istirahat atau tidur. Jadi, tidur ini penting meskipun hanya sebentar.

Bagi orang yang ingin mengerjakan shalat Tahajjud, supaya tidak terlalu berat, agar pada siangnya melakukan tidur qailulah, yakni tidur sebentar pada siang hari sebelum tergelincirnya matahari. Pada malam harinya, sesudah menunaikan shalat Isya, hendaknya tidak tidur terlalu malam, dan sebelum tidur hendaknya berniat bangun tidur untuk mengerjakan shalat Tahajjud. Penting sebelum tidur ini juga berdoa agar Allah Swt. membangunkannya pada waktu shalat Tahajjud yang sudah diniatkannya.

Setelah bangun di tengah malam, atau di sepertiga malam yang terakhir, segera berdoa bangun dari tidur dan mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah. Setelah itu, membangunkan istri, anak, atau teman apabila berada di pondok pesantren atau kost untuk diajak serta mengerjakan shalat Tahajjud.

Sebelum berwudhu hendaknya bersiwak atau menggosok gigi terlebih dahulu. Setelah itu, apabila waktu masih memungkinkan dan bila tidak tergesa mengerjakan shalat, keluar rumah barang sebentar untuk memandang langit sambil membaca surat Ali ‘Imran ayat 190 sampai dengan ayat 200 sebagai berikut:

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191) رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (192) رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ (193) رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ (194) فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ (195) لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ (196) مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ (197) لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نُزُلًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِلْأَبْرَارِ (198) وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (199) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (200)

A’ûdzu billâhi minasy-syaithânir-rajîm. Bismillâhir-raËmânir-raËîm. Inna fî khalqis samâwâti wal ardhi wakhtilâfil laili wan nahâri la-âyâtil li-ûlil albâb. Alladzîna yadzkurûnallâha qaiyâmaw wa qu’ûdaw wa ‘alâ junûbihim wa yatafakkarûna fî khalqis samâwâti wal ardhi rabbanâ mâ khalaqta hâdzâ bâthilan subËânaka faqinâ adzâban-nâr. Rabbanâ innaka man tudËilin nâra faqad akhzaitahû wamâ lizhzhâlimîna min anshâr. Rabbanâ innanâ sami’nâ munâdiyay yanâdî lil îmâni an âminû birabbikum fa-âmannâ, rabbanâ faghfir lanâ dzunûbanâ wa kaffir ‘annâ sayyi-âtinâ wa tafawwanâ ma’al abrâr. Rabbanâ wa âtinâ mâ wa ‘adattanâ ‘alâ rusulika wa lâ tukhzinâ yaumal qiyâmah, innaka lâ tukhliful mî’âd. Fastajâba lahum rabbuhum annî lâ udhî’u ‘amala ‘âmilin(m) minkum min dzakarin au untsâ, ba’dhukum min(m) ba’dh, fal-ladzîna hâjarû wa akhrijû min diyârihim wa audzû fî sabîlî wa qâtalû wa qutilû la-ukaffiranna ‘anhum sayyi’âtihim wa la-udkhilannahum jannâtin tajrî min taËtihâl anhâru tsawâban(m) min ‘indillâh, wallâhu ‘indahû Ëusnuts tsawâb. Lâ yaghurrannaka taqallubul ladzîna kafarû fil bilâd. Matâ’un qalîlun tsumma ma’wâhum jahannam, wa bi’sal mihâd. Lâkinil ladzînat taqaû rabbahum lahum jannâtun tajrî min taËtihal anhâru khâlidîna fîhâ nuzulan(m) min ‘indillâh, wa mâ ‘indallâhi khairul lil-abrâr. Wa inna min ahlil kitâbi lamay-yu’minu billâhi wa mâ unzila ilaikum wa mâ unzila ilaihim khâsyi’îna lillâhi lâ yasytarûna bi âyâtil-llâhi tsamanan qalîlâ, ulâ-ika lahum ajruhum ‘inda rabbihim, innallâha sarî’ul Ëisâb. Yâ-ayyuhal ladzîna âmanûsh-birû wa shâbirû wa râbithû wat-taqu-llâha la’allakum tufliËûn.

Artinya:

“Aku berlindung kepada Allah dari (godaan) setan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolong pun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): ‘Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,’ maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau, dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah, dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak (kelancaran usaha mereka) di dalam negeri.  Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. Akan tetapi, orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah, dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti. Dan sesungguhnya di antara ahli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya, sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya. Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”

Setelah membaca surat Ali ‘Imran ayat 190 sampai dengan ayat 200 sebagaimana di atas, kemudian mengerjakan shalat Tahajjud yang diawali dahulu dengan dua rakaat yang ringan.

Pada waktu shalat Tahajjud lebih diutamakan untuk memanjangkan lama berdiri daripada rukun yang lain. Mengenai hal ini, dinilai oleh sebagian ulama, lebih utama daripada memperbanyak jumlah rakaat.

Setelah shalat Tahajjud selesai, hendaknya tidak langsung meninggalkan tempat, melainkan duduk dahulu untuk berdzikir kepada Allah Swt. Pada saat seperti ini sangat penting untuk memperbanyak mohon ampunan kepada Allah Swt., setelah itu menutupnya dengan berdoa kepada-Nya.

Al-Faqir ila Rahmatillah,
Akhmad Muhaimin Azzet

14 Komentar

Filed under Semakin Mendekat