Tag Archives: shalat sunnah

Hukum Shalat

Secara garis besar, ada dua hukum shalat di dalam syariat Islam, yakni shalat yang hukumnya fardhu dan shalat yang hukumnya sunnah. Berikut adalah rincian dari dua hukum tersebut:

 

1. Shalat yang Hukumnya Fardhu

Ibadah shalat ini dihukumi sebagai fardhu karena wajib dilakukan kaum Muslim yang telah memenuhi syarat untuk shalat. Shalat fardhu ini dibagi menjadi dua macam, yakni shalat yang hukumnya fardhu ‘ain dan shalat yang hukumnya fardhu kifayah. Baca lebih lanjut

21 Komentar

Filed under Ibadah

Pedoman Praktis Shalat Wajib dan Sunnah

Judul Buku: Pedoman Praktis Shalat Wajib dan Sunnah | Penulis: Akhmad Muhaimin Azzet | Penerbit: Javalitera, Yogyakarta | Tebal: 184 hlm. | Harga: Rp.28.000,- | ISBN: 978-602-98176-0-7

Sesungguhnya Allah Swt. tidak semata-mata memerintahkan shalat kecuali untuk kebaikan umatnya. Bahkan, shalat menjadi pelipur lara dan penghubung diri dengan Sang Pencipta. Shalat mengajarkan kepada kita hal-hal esensial bagi sebuah kehidupan yang dinamis. Shalat dengan urgensitasnya sangat vital dan penting bagi dinamika kehidupan umat Islam. Baca lebih lanjut

21 Komentar

Filed under Info Buku

Shalat Taubat

Shalat sunnah taubat adalah shalat yang dilakukan oleh seseorang yang bertaubat kepada Allah Swt. karena telah melakukan perbuatan dosa. Shalat ini dilakukan sebagai bukti bahwa ia telah bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah Swt.

Shalat taubat dikerjakan dengan dua rakaat. Sedangkan waktunya tidak ditentukan apakah harus siang atau malam; pada saat seseorang bertaubat kepada Allah maka segera ia melakukan shalat taubat. Baca lebih lanjut

32 Komentar

Filed under Shalat

Shalat Istikharah

Shalat istikharah adalah shalat yang dilakukan karena seseorang kebingungan dalam memilih sesuatu. Shalat ini dilakukan agar Allah Swt. memberikan petunjuk sehingga seseorang mempunyai kemantapan hati pada apa yang menjadi kebingungan atau keraguannya.

Shalat istikharah dilakukan sebanyak dua rakaat. Sebagaimana shalat hajat, waktu untuk mengerjakan shalat istikharah ini juga tidak ditentukan, bisa siang atau malam. Akan tetapi, bila meninginkan shalat istikharah dapat dilakukan dengan lebih khusyuk dan berkesan di dalam hati, bisa memilih waktu untuk mengerjakannya pada malam hari.

Niat shalat istikharah adalah sebagai berikut: Baca lebih lanjut

16 Komentar

Filed under Shalat

Shalat Dhuha

Shalat Dhuha adalah shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu dhuha, yakni matahari sudah naik kira-kira setinggi tombak sampai dengan menjelang waktu zhuhur. Apabila diukur dengan jam, kira-kira pukul tujuh pagi sampai dengan pukul sebelas siang. Shalat Dhuha dikerjakan dengan dua rakaat, empat rakaat, enam rakaat, delapan rakaat, atau dua belas rakaat.

Shalat Dhuha ini banyak sekali fadhilahnya. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud disampaikan bahwa apabila shalat Dhuha dikerjakan dua rakaat dapat menjadi pengganti dari sedekah yang semestinya dikeluarkan dari 360 tulang yang dimiliki oleh manusia, apabila shalat dhuha dikerjakan empat rakaat pada awal siang maka Allah akan mencukupkan (rezeki) pada akhir siang. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi disampaikan bahwa barang siapa yang mengerjakan shalat Dhuha dengan langgeng maka akan diampuni dosanya oleh Allah, meskipun dosanya itu sebanyak buih di lautan. Dalam hadits yang lain juga disebutkan bahwa shalat Dhuha merupakan shalatnya orang-orang yang bertaubat kepada Allah Swt., dan masih banyak lagi fadhilah dari shalat Dhuha.

Pada rakaat pertama setelah membaca surat Al-Fâtihah hendaknya membaca surat Al-Syams sebagai berikut:

 

بسم الله الرحمن الرحيم

وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا (1) وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا (2) وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا (3) وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا (4) وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا (5) وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا (6) وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10) كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَاهَا (11) إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَاهَا (12) فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا (13) فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْبِهِمْ فَسَوَّاهَا (14) وَلَا يَخَافُ عُقْبَاهَا (15)

 

Bismillâhir-rahmânir-rahîm. Wasy-syamsi wadh-dhuhâhâ. Wal qamari idzâ talâhâ. Wan-nahâri idzâ jallahâ. Wal-laili idzâ yaghsyâhâ. Was-samâ-i wa mâ banâhâ. Wal-ardhi wa mâ thahâhâ. Wa nafsiw wa mâ sawwâhâ. Fa alhamahâ fujûrahâ wa taqwâhâ. Qad aflaha man zakkâhâ. Wa qad khâba man dassâhâ. Kadzdzabat tsamûdu bithaghwâhâ. Idzin(m) ba’atsa asyqâhâ. Fa qâla lahum rasûlullâhi nâqatallâhi wa suqyâhâ. Fakadzdzabûhu fa’aqarûhâ fadamdama ‘alaihim rabbuhum bidzan(m)bihim fasawwâhâ. Wa lâ yakhâfu ‘uqbâhâ.

Artinya:
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: (“Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya.” Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyamaratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.”

Pada rakaat kedua setelah membaca surat Al-Fâtihah hendaknya membaca surat Al-Dhuhâ sebagai berikut:

 

بسم الله الرحمن الرحيم

وَالضُّحَى (1) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى (2) مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى (3) وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى (4) وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى (5) أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى (6) وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى (7) وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى (8) فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (9) وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (10) وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (11)

 

Bismillâhir-rahmânir-rahîm. Wadh-dhuhâ. Wal-laili idzâ sajâ. Mâ wadda’aka rabbuka wa mâ qalâ. Walal-âkhiratu khairul-laka minal ûlâ. Walasaufa yu’thîka rabbuka fatardhâ. Alam yajidka yatîman fa-âwâ. Wawajadaka dhâllan fahadâ. Wawajadaka â-ilan fa-aghnâ. Fa ammal yatîma falâ taqhar. Wa ammas sâ-ila falâ tanhar. Wa ammâ bini’mati rabbika fahaddits.

Artinya:
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan). Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.”

Apabila tidak membaca surat Al-Syams dan Al-Dhuhâ sebagaimana di atas, dapat pula pada rakaat pertama setelah surat Al-Fâtihah membaca surat Al-Kâfirûn dan pada rakaat kedua setelah surat Al-Fâtihah membaca surat Al-Ikhlash.

Selanjutnya, agar jalan rezeki kita diberi kemudahan oleh Allah Swt., maka setelah shalat Dhuha dapat berdoa sebagaimana doa berikut:

أَللهُمَّ إِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَائُكَ, وَ الْبَهَاءَ بَهَاءُكَ, وَ الْجَمَالَ جَمَالُكَ, وَ الْقُوَّةَ قُوَّتُكَ, وَ الْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ, وَ الْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. أَللهُمَّ إِنْ كَانَ رِزْقِيْ فِي السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ, وَ إِنْ كَانَ فِي اْلأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ, وَ إِنْ كَانَ مُعْسِرًا فَيَسِّرْهُ, وَ إِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ, وَ إِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ, بَحَقِّ ضُحَائِكَ وَ بَهَاءِكَ وَ جَمَالِكَ وَ قُوَّتِكَ وَ قُدْرَتِكَ آتِنِيْ مَا أَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ.

Allâhumma inna dhuhâ-a dhuhâ-uka, wal bahâ-a bahâ-uka, wal jamâla jamâluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal ‘ishmata ‘ishmatuka. Allâhumma in kâna rizqî fis samâ-i fa anzilhu, wa in kâna fil ardhi fa akhrijhu, wa in kâna mu’siran fa yassirhu, wa in kâna haraman fa thahhirhu, wa in kâna ba’îdan fa qarribhu bi haqqi dhuhâ-ika wa jamâlika wa quwwatika wa qudratika âtinî mâ âtaita ‘ibâdakash shâlihîn.

Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha itu waktu dhuha-Mu, kebagusan itu kebagusan-Mu, keindahan itu keindahan-Mu, kekuatan itu kekuatan-Mu, kekuasaan itu kekuasaan-Mu, dan perlindungan itu perlindungan-Mu. Ya Allah, jika rezeki hamba masih di langit maka turunkanlah, jika berada di dalam bumi maka keluarkanlah, jika sulit maka mudahkanlah, jika haram maka sucikanlah, jika jauh maka dekatkanlah, berkat waktu dhuha-Mu, kebagusan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu, dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepada hamba segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang shalih.”

8 Komentar

Filed under Semakin Mendekat

Shalat Tahiyyatul Masjid

Apabila memasuki masjid, baik itu pada hari Jum’at atau bukan, pada waktu siang atau malam hari, kita disunnahkan untuk mengerjakan shalat tahiyyatul masjid sebanyak dua rakaat. Shalat ini dikerjakan untuk menghormati rabbul masjid, yakni Allah Swt. Shalat tahiyyatul masjid ini dikerjakan sebelum kita duduk di dalam masjid.

Dari Abi Qatadah, ia berkata, Rasulullah Saw. telah bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

“Apabila salah seorang di antara kamu masuk masjid, hendaklah ia tidak duduk sebelum melakukan shalat dua rakaat.” (HR Jamaah)

Sangat penting mengerjakan shalat tahiyyatul masjid ini, sehingga ada ulama yang berpendapat hukumnya makruh bila meninggalkan shalat ini apabila tanpa udzur. Oleh karena itu, bagi yang tidak bisa mengerjakan shalat ini ketika memasuki masjid, hendaknya membaca lafazh sebagai berikut:

سُبْحَانَ اللهِ وَ اَلْحَمْدُ للهِ وَ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ, و اَللهُ اَكْبَرُ, وَ لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Subhânallâhi walhamdulillâhi wa lâ ilâha illallâhu wa-llâhu akbar, wa lâ haula wa lâ quwwata illâ billâhil ‘aliyyil ‘azhîm.

Artinya:
“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan hanya Allah, dan Allah Mahabesar. Dan tiada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi dan Mahaagung.”

Bacaan sebagaimana tersebut dibaca sebanyak tiga kali; ada juga ulama yang berpendapat dibaca sebanyak empat kali. Bacaan tersebut merupakan pengganti dari shalat tahiyyatul masjid, sujud tilawah, dan sujud syukur. Namun, sekali lagi, bacaan tersebut merupakan pengganti, jadi apabila bisa mengerjakannya sudah barang tentu akan lebih baik.

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

2 Komentar

Filed under Semakin Mendekat

Shalat Sunnah Sesudah Wudhu

Shalat sunnah sesudah wudhu besar sekali pahalanya. Berkaitan dengan hal ini, sebuah hadis dari Uqbah bin Amir menyatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

مَا مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ وَ يُصَلِّيْ رَكْعَتَيْنِ يُقْبِلُ بِقَلْبِهِ وَ وَجْهِهِ عَلَيْهِمَا إِلاَّ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةَ (رواه مسلم, أبو داود, النسائي, و ابن خزيمة)

“Seseorang yang berwudhu dan mengerjakan wudhunya dengan baik dan mengerjakan shalat dua rakaat dengan ikhlas dan tenang karena Allah niscaya ia akan mendapatkan surga.” (HR Muslim, Abu Daud, Nasa’i, dan Ibnu Khuzaimah)

 

مَا مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ وَ يُصَلِّيْ رَكْعَتَيْنِ يُقْبِلُ بِقَلْبِهِ وَ وَجْهِهِ عَلَيْهِمَا إِلاَّ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةَ (رواه مسلم, أبو داود, النسائي, و ابن خزيمة)

9 Komentar

Filed under Semakin Mendekat

Shalat Sunnah Rawatib

Shalat sunnah rawatib adalah shalat sunnah yang dikerjakan mengikuti shalat fardhu yang lima, baik dikerjakan sebelum maupun sesudahnya. Secara bahasa, rawatib sendiri artinya tetap atau teratur. Jadi, shalat rawatib ini termasuk shalat sunnah yang dikerjakan secara teratur oleh Rasulullah Saw.

Hukum mengerjakan shalat rawatib dibagi menjadi dua macam, yakni sunnah muakkad dan ghairu muakkad. Shalat sunnah muakkad adalah shalat sunnah yang kuat atau sangat dianjurkan; sedangkan shalat sunnah ghairu muakkad adalah shalat sunnah biasa atau kedudukannya lebih ringan daripada sunnah muakkad.

1. Shalat Sunnah Rawatib Muakkad

Berkaitan dengan shalat sunnah rawatib muakkad ini, ada sebuah hadis Nabi Saw. yang perlu untuk kita perhatikan, sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرْ قَالَ حَفِظْتُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ وَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَداَةِ (رواه البخاري و مسلم).

Dari Abdullah bin Umar, ia berkata, “Saya ingat (hafal) dari Rasulullah Saw. dua rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat sesudah zhuhur, dua rakaat sesudah maghrib, dua rakaat sesudah isya, dan dua rakaat sebelum subuh.” (HR Bukhari dan Muslim)

a. Shalat Sunnah Qabliah Zhuhur

Shalat sunnah qabliah zhuhur ini dikerjakan sebelum shalat zhuhur sebanyak dua rakaat. Sebelum shalat zhuhur yang dimaksudkan di sini adalah setelah tergelincirnya matahari dari pusatnya atau sesudah masuk waktu zhuhur dan sebelum mengerjakan shalat zhuhur.

Apabila ingin menambah, seseorang dapat mengerjakan shalat qabliah zhuhur dua rakaat lagi, akan tetapi hukum shalat yang dua rakaat setelahnya adalah ghairu muakad. Jadi, apabila dikerjakan keduanya, shalat qabliah zhuhur menjadi empat rakaat.

Mengenai hal ini, ada sebuah hadis dari Ummu Habibah yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَ أَرْبَعِ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ (رواه الترمذي).

“Barangsiapa yang menetapi dengan baik shalat empat rakaat sebelum shalat zhuhur dan empat rakaat sesudahnya maka Allah mengharamkannya dari api neraka.” (HR Tirmidzi)

b. Shalat Sunnah Ba’diah Zhuhur

Shalat sunnah ba’diah zhuhur dikerjakan sesudah menunaikan shalat zhuhur sebanyak dua rakaat. Apabila ingin menambah, bisa ditambah lagi dengan dua rakaat. Akan tetapi, sebagaimana shalat rawatib qabliah zhuhur, yang dua rakaat sesudahnya hukumnya ghairu muakkad. Sedangkan bagi orang yang mengerjakan shalat Jum’at, shalat sunnah ba’diah zhuhur ini bisa diganti shalat sunnah ba’diah Jum’at.

c. Shalat Sunnah Ba’diah Maghrib

Shalat sunnah ba’diah maghrib ini dikerjakan sebanyak dua rakaat sesudah mengerjakan shalat maghrib.

d. Shalat Sunnah Ba’diah Isya

Shalat sunnah ba’diah isya ini dikerjakan sesudah menunaikan shalat isya dengan dua rakaat. Bagi yang ingin menambah, shalat ba’diah isya ini dapat ditambah lagi dengan dua rakaat.

Berkaitan dengan hal ini, ada sebuah hadis dari Al-Barra’ bin Azib yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

مَنْ صَلَّى قَبْلَ الظُّهْرِ اَرْبَعًا كَانَ كَأَنَّمَا تَهَجَّدَ مِنْ لَيْلَتِهِ وَ مَنْ صَلاَّهُنَّ بَعْدَ الْعِشَاءِ كَانَ كَمِثْلِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْر.

“Barangsiapa yang shalat empat rakaat sebelum shalat zhuhur, dia seperti mengerjakan shalat tahajjud pada malam hari; dan barangsiapa yang shalat empat rakaat sesudah shalat isya, dia seperti mengerjakan shalat tahajjud pada malam lailatul qadar.” (HR Sa’id bin Manshur)

e. Shalat Sunnah Qabliah Subuh

Shalat sunnah qabliah subuh ini dikerjakan dengan dua rakaat sebelum shalat subuh. Sebelum shalat subuh yang dimaksudkan di sini adalah ketika sudah memasuki waktu subuh, namun belum mengerjakan shalat subuh.

Berkaitan dengan shalat sunnah qabliah subuh ini, ada sebuah hadis yang patut untuk kita perhatikan, yakni dari Aisyah berkata bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَ مَا فِيْهَا(رواه الترمذي, مسلم, والنسائي)

“Dua Rakaat shalat fajar (qabliah subuh) itu lebih baik daripada dunia dan segala isinya.” (HR Tirmidzi, Muslim, dan Nasa’i)

2. Shalat Sunnah Rawatib Ghairu Muakkad

Shalat sunnah rawatib yang hukumnya ghairu muakkad adalah sebagai berikut:

a. Shalat Sunnah Qabliah Zhuhur

Shalat sunnah qabliah zhuhur yang dimaksudkan di sini adalah shalat sunnah tambahan dari yang hukumnya muakkad. Sebagaimana yang telah dibahas di muka shalat ini juga dikerjakan dengan dua rakaat.

b. Shalat Sunnah Ba’diah Zhuhur

Shalat sunnah ba’diah zhuhur yang dimaksudkan di sini juga sama penjelasannya dengan shalat qabliah zhuhur sebagaimana di atas. Jadi, shalat ini juga merupakan shalat tambahan selain yang hukumnya muakkad dengan dua rakaat.

c. Shalat Sunnah Qabliah Asar

Shalat sunnah qabliah asar ini dikerjakan dengan dua rakaat atau boleh juga dengan empat rakaat. Berkaitan dengan hal ini, marilah kita perhatikan sebuah hadis sebagai berikut:

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ الله ُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهَ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي قَبْلَ الْعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ (رواه أبو داود)

Dari Ali r.a.: “Sesungguhnya Nabi Saw. biasa shalat sebelum shalat asar dua rakaat.” (HR Abu Daud)

Sedangkan bagi yang menginginkan shalat qabliah asar dengan empat rakaat, landasannya adalah sebuah hadis dari Ibnu Umar yang menyatakan bahwa Nabi Saw. telah bersabda sebagai berikut:

رَحِمَ اللهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا (رواه أحمد و أبو داود و الترمذي)

“Semoga Allah memberikan rahmat kepada orang yang mengerjakan shalat empat rakaat sebelum shalat asar.” (HR Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi)

d. Shalat Sunnah Qabliah Maghrib

Shalat sunnah qabliah maghrib ini dikerjakan dengan dua rakaat bagi siapa saja yang mau mengerjakannya. Dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Bukhari dan Abu Daud disampaikan bahwa Nabi Saw. memang tidak mengerjakannya. Hal ini dilakukan Nabi Saw. karena beliau khawatir akan menjadi kebiasaan bagi umat Islam. Namun, sekali lagi, apabila ada yang ingin mengerjakannya maka dipersilakan, sebagaimana sabda beliau Saw. sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللهِ الْمُزَنِيْ قَالَ: قَالَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ صَلُّواْ قَبْلَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ, صَلُّواْ قَبْلَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ, صَلُّواْ قَبْلَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ, لِمَنْ شَاءَ خَشْيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً (رواه الْبخاري و أبو داود)
Dari Abdullah Al-Muzani, ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda, “Shalatlah kalian dua rakaat sebelum maghrib, shalatlah kalian dua rakaat sebelum maghrib, shalatlah kalian dua rakaat sebelum maghrib, bagi siapa saja yang menghendaki,’ (akan tetapi beliau tidak mengerjakannya) karena khawatir dijadikan kebiasaan oleh manusia.” (HR Bukhari dan Abu Daud)

e. Shalat Sunnah Qabliah Isya

Shalat sunnah qabliah isya ini dikerjakan dengan dua rakaat sebelum mengerjakan shalat isya. Namun, apabila ingin menambah, diperbolehkan mengerjakan empat rakaat, bahkan sampai enam rakaat. Hal ini bersandar pada sebuah hadis yang disampaikan oleh Aisyah r.a. yang berkata sebagai berikut:

مَا صَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهَ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ الْعِشَاءَ قَطُّ فَدَخَلَ عَلَيَّ إِلاَّ صَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ أَوْ سِتَّ رَكَعَاتٍ (رواه أحمد و أبو داود)
“Rasulullah Saw. tidak pernah sekali pun melakukan shalat isya, melainkan beliau masuk ke rumahku lebih dahulu melakukan shalat empat rakaat atau enam rakaat sebelumnya.” (HR Ahmad dan Abu Daud)

Berkaitan dengan shalat sunnah rawatib ini, ada dua hal yang perlu menjadi catatan bahwa shalat sunnah rawatib tidak disunnahkan dikerjakan dengan berjamaah. Penting juga memahami bahwa tidak ada shalat ba’diah asar dan ba’diah subuh, bahkan apabila melakukannya malah berhukum haram.

Semoga kita semakin dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt. dengan shalat sunnah rawatib.

Al-Faqîr ilâ rahmatillâh,
Akhmad Muhaimin Azzet

8 Komentar

Filed under Semakin Mendekat

Waktu yang Dilarang untuk Shalat

Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak ada shalat (sunnah) setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit dan tidak ada shalat setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Amru bin Abasah r.a. diriwayatkan bahwa ia pernah berkata kepada Nabi Saw., “Beritahukanlah kepadaku sesuatu tentang shalat.” Beliau Saw. bersabda, “Lakukanlah shalat Shubuh, kemudian berhentilah melakukan shalat lain, hingga terbit matahari, hingga matahari meninggi. Sesungguhnya matahari itu terbit di antara sepasang tanduk setan. Waktu itulah orang-orang musyrik bersujud kepadanya. Kemudian shalatlah karena shalat pada saat itu disaksikan oleh para malaikat hingga bayang-bayang tembok tegak. Kemudian berhentilah melakukan shalat lain, karena kala itu neraka Jahannam dinyalakan. Apabila matahari sudah tergelincir, shalatlah hingga datang waktu Ashar. Kemudian berhentilah melakukan shalat hingga matahari tenggelam. Karena matahari tenggelam di antara sepasang tanduk setan, dan ketika itulah orang-orang musyrik bersujud kepadanya.” (HR. Muslim).

Dari ‘Uqbah bin Amir berkata, “Tiga waktu dimana Rasulullah Saw. melarang kami melakukan shalat dan menguburkan mayit, yaitu: ketika matahari terbit hingga meninggi, ketika tengah hari hingga matahari condong ke barat, dan ketika matahari hampir terbenam.” (HR. Muslim).

Berdasarkan tiga hadits tersebut, ada lima waktu yang kita dilarang untuk melakukan shalat (sunnah) di dalamnya, yakni sebagai berikut:

1.    Sesudah shalat Shubuh sampai terbitnya matahari.
2.    Pada saat matahari terbit sampai sempurna naiknya atau kira-kira setinggi tombak.
3.    Ketika matahari berada di pusatnya (tengah hari) sampai tergelincir atau condong sedikit ke barat.
4.    Sesudah shalat Ashar sampai terbenamnya matahari.
5.    Pada saat matahari hampir terbenam sampai sempurna terbenamnya.

Akan tetapi, pada waktu yang dilarang untuk mengerjakan shalat tersebut seseorang diperbolehkan untuk shalat apabila mempunyai sebab tertentu. Misalnya, shalat gerhana matahari, shalat sunnah di hari Jum’at sebelum khatib naik mimbar, atau sedang berada di Masjidil Haram.

Al-Faqîr ilâ rahmatillâh,
Akhmad Muhaimin Azzet

6 Komentar

Filed under Semakin Mendekat

Memahami Shalat Sunnah

Shalat sunnah adalah ibadah shalat yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. di luar shalat yang hukumnya fardhu atau wajib. Sebagaimana shalat fardhu, shalat sunnah juga dikerjakan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt. Di samping itu, shalat sunnah ada yang dikerjakan untuk menyempurnakan shalat fardhu, bertaubat kepada Allah Swt., agar hajatnya dikabulkan, agar diberi hujan setelah kemarau yang sangat panjang, agar diberi petnjuk dan kemantapan hati karena kebingungan memilih sesuatu, untuk menyucikan Allah Swt., atau karena ada suatu peristiwa tertentu.

Shalat sunnah pada umumnya dikerjakan dua rakaat. Apabila lebih dari dua rakaat, pada umumnya juga dikerjakan dengan dua rakaat salam lantas dilanjutkan lagi dengan dua rakaat salam. Sedangkan cara mengerjakan shalat sunnah juga tidak berbeda dengan cara mengerjakan shalat fardhu. Sudah barang tentu, yang membedakan adalah niatnya, dan untuk beberapa shalat sunnah tertentu ditambah dengan bacaan yang tertentu pula.

Al-Faqîr ilâ rahmatillâh,
Akhmad Muhaimin Azzet

Tinggalkan komentar

Filed under Semakin Mendekat