Tag Archives: Yogyakarta

Polisi Diawasi Provos

Suatu senja di Jogja.

Pada suatu siang yang panas, saya naik sepeda motor ke Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Ketika memasuki Jl. Sandiloto, saya langsung diberhentikan seorang polisi yang saat itu juga sedang memberhentikan sepeda motor lain yang dikendarai seorang laki-laki dan temannya.

Saya berhenti dan manut saja ketika polisi meminta STNK, meskipun dalam hati saya ngedumel. Ternyata, ada larangan memasuki Jl. Sandiloto dari arah timur pada pukul 00.00–18.00 WIB. Sungguh, saya baru tahu larangan itu. Selama ini, saya aman-aman saja memasuki jalan tersebut, karena kalau saya ke Pasar Beringharjo atau ke area sekitar Taman Budaya Yogyakarta biasanya pada malam hari atau habis isya. Baca lebih lanjut

22 Komentar

Filed under Cerita Ringan

Ketukan Pintu; Mengenang Gus Zainal

Gus Zainal Arifin Thoha

Kali ini saya ingin berbagi dengan sahabat blogger tentang kerinduan saya terhadap seorang guru sekaligus sahabat yang bernama KH. Zainal Arifin Thoha. Saya dan banyak sahabat lainnya biasa memanggil dengan sebutan Gus Zainal. Sosok muda yang murah senyum sekaligus pendiri dan pelopor pesantren mandiri “Hasyim Asy’ari” Yogyakarta itu meninggal dunia pada 14 Maret 2007 sekitar pukul 22.00 WIB.

Hari ini, saya tiba-tiba rindu kepada penyair muda yang juga banyak menulis buku tersebut. Saya rindu kepada sosok yang membina banyak mahasiswa untuk menjadi penulis dan hidup mandiri tersebut. Maka, kali ini, izinkan saya membagi sepotong puisi yang saya tulis beberapa saat setelah Gus Zainal meninggal dunia… Baca lebih lanjut

11 Komentar

Filed under Jiwa Merindu

Hadiah dari Langit – Penghargaan

Alhamdulillah, saya senang sekali mendapatkan penghargaan dari sesama bloger, yakni dari Bunda Siti Fatimah Ahmad yang tinggal di Serawak, Malaysia. Semoga penghargaan ini semakin membuat kita bersemangat menjalin ukhuwah karena Allah Swt. Selengkapnya, penghargaan tersebut dapat pembaca tercinta lihat di: http://webctfatimah.wordpress.com/2011/03/09/ct47-hadiah-dari-langit-4-4-in-1-penghargaan/. Namun, izinkan juga saya mengutip penghargaan tersebut sebagai berikut:

 

*   *   *

 

PENGHARGAAN 2: AKHMAD MUHAIMIN AZZET (AMAZZET), JOGJAKARTA, INDONESIA

AMAZZET, demikianlah nama singkatan dari Akhmad Muhaimin Azzet. Sahabat guru yang mula saya kenali apabila beliau pertama kali mengunjungi blog ini. Menerusi blog MAHABBAH yang beliau pelopori, telah memberi banyak manfaat dan inspirasi kepada saya untuk mendalami ilmu keagamaan secara ilmiah dan berwasit sifatnya.

AMAZZET merupakan seorang Direktur Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Al-Muhtadin, Jogjakarta, Indonesia. Sangat berminat dalam dunia baca dan tulis. Melalui penulisan, beliau telah menghasilkan banyak buku-buku motivasi pembangunan jiwa, dunia pendidikan dan kerohanian.

Alhamdulillah, dengan murah hati atas nama persahabatan dan persaudaraan, beliau telah menghadiahkan saya dua buah buku yang beliau hasilkan iaitu “MUTIARA HIKMAH: PEMBANGUNAN JIWA dan HIKMAH UTAMA HIDUP MULIA”. Kiriman mas Amazzet saya terima pada 13 Januari 2011 – Khamis.

Tiada yang mampu saya lahirkan perasaan ini melainkan rasa kesyukuran atas pemberian khazanah ilmu yang bermakna buat saya dari seorang sahabat guru. Saya berbangga dapat membaca hasil minda dari kumpulan ilmu yang diamal jariahkan kepada pembacanya. Semoga dimudahkan oleh Allah SWT segala urusan di dunia dan di akhirat.

Buku ini memberi banyak inspirasi untuk membentuk diri menjadi manusia yang patut banyak mensyukuri nikmat Allah. Intisari ilmu telah disusun dengan mantap oleh penulis bersama kandungan yang tentunya mencerahkan jiwa dan menjernihkan minda. Buku ini merupakan kumpulan ayat al-Quran dan Hadis Rasul yang terpilih. Selain itu, kumpulan sirah Rasul dan kata-kata mutiara dari para sahabat juga disertakan.

10 hikmah tersebut adalah Hikmah Iman (20), Hikmah Ilmu (45), Hikmah Akhlak (78),  Hikmah Utama (30), Hikmah Bagi Jiwa (71), Hikmah Rezeki (41), Hikmah Rahasia (21), Hikmah Cinta (32), Hikmah Wasiat (11) dan Hikmah Bahagia (36). Kandungan yang mengisi 10 hikmah dikumpul berdasarkan kesesuaian ayat, hadis, sirah dan kata mutiara.

Buku ini mampu memotivasi jiwa yang lemah dan kering dari semangat hidup. Walau tidak disertakan penjelasan dan huraian, bicara hikmah itu sendiri mampu memberi inspirasi sebagai panduan ke arah muhasabah diri. Menurut saya, buku ini mengajak pembacanya berfikir sendiri untuk sampai kepada maksudnya.

Merujuk kepada latar belakang Abu Zuhratul Aziza (Amazzet), buku ini mempunyai kekuatan sebagai mutiara ilmu yang mengajak dan berpesan ke jalan kebenaran. Selain itu, mampu menjadi motivasi berdos tinggi kepada pembentukan peribadi unggul. 6 bahagian Hikmah Utama telah dipilih sebagai fokus yang diketengahkan. Setiap bahagian hikmah tersebut disusun dengan bijak oleh penulis menggunakan dos yang bermutu tinggi. Intisari penawarnya  diambil dari sumber al-Quran dan al-Hadis.

Kandungan 6 bahagian hikmah tersebut adalah Hikmah Utama Islam (39), Hikmah Utama Iman (17), Hikmah Utama Ihsan (15), Hikmah Utama Takwa (17), Hikmah Utama Ikhlas (15) dan Hikmah Utama Cinta (20). Berbeza dengan buku pertama di atas, buku ini mempunyai nilai pengisian tersendiri. Penulis membuat huraian ringkas bagi menjelaskankan kandungan al-Quran dan al-Hadis yang dipilih.

Buku ini sesuai dijadikan sumber rujukan untuk penyampaian ceramah, tazkirah, tausiah. Ia meliputi pengajaran dan teladan untuk menguatkan hujah bagi perbincangan tajuk yang berkenaan. Salut kepada Amazzet atas usaha kecil untuk mengumpulkan segala hikmah yang memberi impak besar dalam membangkit keinginan untuk mengajak manusia memenuhi fitrah kejadian dan kesejahteraan akalnya.

TERIMA KASIH AKHMAD MUHAIMIN AZZET

10 Komentar

Filed under Penghargaan

Di Lereng Merapi

asap tebal yang membumbung itu
mengarah ke utara
sementara aku menatap selatan

guguran lava itu menggetarkan jiwa
tetapi aku hanya terpaku
dalam pesona awan bergumpalan

–zet, sudah saatnya mengungsi
ke mana engkau menyelamatkan diri
namun kaki ini kaku, jiwa pun kelu

Bumidamai, Yogyakarta.

5 Komentar

Filed under Jiwa Merindu

Sehari Saja

walau sehari saja aku menjadi sungai
sepanjang dada ini terasa tak lagi beruang
batu dan pasir betapa berhimpitan
dalam cairan limbah yang kian menghitam

ikan-ikan yang berenang di air mataku
lihatlah, bersusah payah bertahan
dari aroma busuk yang berhamburan
di antara kaleng bekas dan plastik
yang berserakan, timbul dan tenggelam

walau sehari saja aku menjadi sungai
sepanjang ususku terasa dialiri tembaga
yang membara di pertambangan celaka
tak sekadar mual atau ingin memuntah
sungguh nyeri melilit tiada lagi tara

Bumidamai, Yogyakarta.

2 Komentar

Filed under Jiwa Merindu