Bagaimana Mengatasi Anak Bermasalah?

Setiap orangtua pasti berharap agar anak-anaknya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Betapa bahagianya apabila anaknya ketika masih bayi tidak rewel, mudah beradaptasi ketika diajak berkunjung ke rumah saudara atau kenalan, apabila disapa keluarga tersenyum atau bahkan langsung tertawa, tidak susah makan, atau tidak buang air besar dan kecil (termasuk mengompol) sembarang waktu dan tempat. Alangkah bahagianya para orangtua apabila anak-anaknya yang sudah menginjak usia sekolah dapat bersekolah dengan baik, bisa bangun pagi-pagi, tidak bermasalah dengan teman-temannya, rajin belajar, tidak suka berbohong, sopan, suka menolong, patuh kepada orangtua dan guru, apalagi rajin pula beribadah.

Anak yang sehat, cerdas, dan ceria adalah dambaan setiap orangtua; foto santri TPA Al-Muhtadin tempat penulis mengabdi.

Namun, apabila anak tumbuh dan berkembang tidak sesuai dengan yang diharapkan, misalnya, susah makan, rewel, mudah memberontak, atau kalau sang anak sudah mulai besar ia suka berbohong, mencuri, menakali teman, atau malas belajar, tidak jarang orangtua kebingungan bagaimana cara mengatasinya. Ketika sekali atau dua kali orangtua menasihati anaknya dan anaknya tetap tidak berubah, tak sedikit pula orangtua yang justru memarahi anaknya, memberikan hukuman, atau bahkan memukul sang anak. Ketika keadaan sudah begini, tidak banyak dari orangtua yang bisa berpikir dengan tenang untuk mencari jawab mengapa anaknya menjadi bermasalah.

Anak bermasalah yang dimaksudkan di sini adalah anak yang mempunyai perilaku tidak sesuai dengan keinginan atau harapan orangtua yang berkesesuaian dengan nilai-nilai yang dianut oleh orangtua, keluarga, atau bahkan lingkungan. Di dalam menangani anak bermasalah apakah dibenarkan melalui cara, misalnya, memarahi anak, mengurung anak, atau bahkan memukulinya? Sudah tentu, cara-cara tersebut tidak dapat dibenarkan, di samping termasuk “kejahatan terhadap anak”, cara tersebut juga tidak efektif untuk mengubah perilaku anak bermasalah menjadi baik. Jika memang berubah menjadi baik, perubahan yang terjadi akan menyimpan kesan buruk dalam diri anak, atau perubahan itu tidak berlangsung lama karena tidak berangkat dari sebuah kesadaran.

Ada seorang anak yang suka mengambil uang orangtuanya secara diam-diam (mencuri) untuk tambahan jajannya atau untuk bermain game online di warnet (warung internet) dekat rumah. Pada saat orangtuanya mengetahui bahwa yang mencuri uangnya adalah anaknya sendiri, maka sang orangtua memarahi habis-habisan sang anak, bahkan memukulnya. Untuk beberapa waktu sang anak anak memang jera dan tidak mau mencuri lagi karena takut kepada orangtuanya. Namun, apakah perilaku bermasalah anaknya selesai begitu saja? Ternyata, sang anak beralih untuk mengambil uang temannya. Hal ini bisa terjadi barngkali sang anak berpikir jika mengambil uang temannya lebih aman karena temannya tidak segalak orangtuanya ketika marah.

Ada pula seorang anak yang mempunyai kebiasaan makan banyak. Orangtuanya memarahinya dengan sangat karena sang orangtua tidak menginginkan anaknya semakin bertambah berat badannya. Sang anak memang telah mengalami berat badan yang berlebih alias kegemukan. Di depan orangtua, sang anak memang makan secara normal sebagaimana kebiasaan keluarga, yakni sehari makan sebanyak tiga kali. Namun, ketika orangtuanya tidak di rumah atau ketika orangtuanya sedang tidak melihatnya, sang anak mencuri-curi makanan (di rumahnya sendiri) dengan memakanya secara cepat sebagaimana orang yang sudah tiga hari tidak makan. Hal ini dilakukan sang anak agar dapat menyelesaikan makan sesegera mungkin dan tidak ketahuan orangtuanya.

Dari dua contoh di atas, cara yang dilakukan orangtua dalam mengatasi anaknya yang bermasalah ternyata tidak efektif. Sang anak memang menuruti apa yang menjadi harapan orangtuanya, akan tetapi tidak berangkat dari kesadarannya. Sang anak berubah karena takut kepada orangtuanya yang memarahinya, membentaknya, atau bahkan memukulnya. Menurut sebagian pemahaman para orangtua kita di zaman dahulu, cara seperti ini adalah cara yang paling efektif, katanya. Tetapi, satu hal yang harus diakui, cara seperti ini akan meninggalkan kesan yang menakutkan pada diri sang anak. Bila sudah begini, ada hal yang terkebiri pada diri sang anak, baik itu potensi, kemerdekaan, atau bahkan sang anak malah belajar kekerasan dan kehilangan rasa kasih sayang dalam dirinya.

Ada tiga prasyarat yang harus dipenuhi oleh setiap orangtua agar dapat mengatasi anaknya yang sedang bermasalah secara efektif, yakni:

1. Bersikap Tenang

Orangtua yang panik atau malah kebingungan tidak akan bisa menyelesaikan masalah yang terjadi pada anaknya dengan baik. Kepanikan ini biasanya terjadi ketika sang orangtua tiba-tiba melihat sebuah kenyataan bahwa anaknya ternyata bermasalah. Sungguh, sang orangtua tidak menyangka sebelumnya akan ada kejadian yang tidak diinginkan menimpa anaknya. Di sinilah dibutuhkan ketenangan agar dapat mengurai masalah dengan baik dan mencari jalan keluarnya.

2. Berbuat Sepenuh Kasih dan Sayang

Hal yang paling penting di dalam mengatasi anak yang bermasalah adalah berbuat sepenuh kasih dan sayang. Rasa kasih dan sayang ini hendaknya mendasari setiap langkah yang ditempuh oleh orangtua dalam mengatasi anaknya yang bermasalah. Jadi, bukan karena rasa malu, demi kehormatan keluarga, apalagi didorong oleh kemarahan tertentu.

3. Memahami Anak Sebagai Pribadi yang Berkembang

Memahami anak sebagai pribadi yang berkembang yang dimaksudkan di sini adalah setiap anak mempunyai tahapan demi tahapan dalam berkembang. Sudah tentu, tahapan perkembangan anak sangat berbeda dengan cara berpikir dan memahami segala sesuatu yang dimiliki orangtuanya. Dalam hal ini, orangtua tidak bisa memaksakan kehendak terhadap anaknya agar mengikuti cara berpikir dan memahami sesuatu sebagaimana orangtuanya. Jika memang orangtuanya menghendaki sang anak melakukan apa yang menjadi harapannya hendaknya disesuaikan dengan tahapan perkembangan sang anak.

Demikianlah tiga prasyarat yang harus dimiliki orangtua ketika akan mengatasi masalah yang terjadi pada anaknya. Namun, hal penting yang harus dipahami adalah mengatasi masalah yang satu dengan yang lainnya tidak jarang dibutuhkan pendekatan yang berbeda karena jenis dan penyebab masalahnya pun berbeda. Semoga pembahasan ini bermanfaat bagi segenap orangtua agar anak-anaknya dapat tumbuh dan berkembang secara menyenangkan dan sesuai dengan harapan orangtua dan keluarga.

Salam keluarga bahagia,
Akhmad Muhaimin Azzet

About these ads

42 Komentar

Filed under Keluarga

42 responses to “Bagaimana Mengatasi Anak Bermasalah?

  1. Sepakat dengan ketiga langkah tersebut. Seperti yang biasa dilakukan orangtua saya sejak kecil :D

    Berbeda dengan saudara saya, yang sejak kecil selalu ddidik dengan keras, dihukum, dipukul … sekarang dampaknya malah negatif :(

    Tulisan yang mencerahkan :)

  2. Anak2 senang dengan dunianya sendiri ya mas. Kita jangan membatasi kreasi mereka terlalu ketat sepanjang itu tidak membahayakan dirinya dan orang lain.
    Jika mereka senang corat-coret tembok itu tandanya dia sedang mengexpresikann dirinya. Salurkan ke media yang lebih tepat misalnya di kertas, bku,dll.

    Terima kasih artikelnya yang bermanfaat.

    Salam hangat dari Surabaya

    • Saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan Pakde Cholik bahwa anak-anak mempunyai dunia tersendiri –yang sudah tentu berbeda dengan dunia orangtua. Maka, di sinilah orangtua dituntut untuk bisa memahami dunia anak. Makasih banyak ya, Pakde, atas kunjungannya.

  3. Yang saya dengar Nabi tidak mengajarkan kekerasan dalam mendidik anak…

    Salam kenal mas baru saja singgah kesini….

  4. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Amazzet…

    Sungguh “keras” kehidupan di zaman moden ini sehingga banyak mempengaruhi kehidupan kita dan anak-anak sekali gus. Permasalahan yang melanda anak-anak bukan sekadar terhasil dari cara didikan yang kurang efektif dari orang tua tetapi faktor luaran juga banyak mempengaruhinya antara, pemakanan, televisyen, bahan media cetak atau media massa yang banyak menggugat tingka laku anak2 secara langsung.

    Ibu bapa harus bertindak bjak dalam menangani masalah ini. Saya setuju dengan 3 prasyarat yang dikemukakan sebagai satu sarana baik untuk diikuti. Menurut saya, melentur buluh biarlah dari rebungnya. Anak2 hendaklah dididik dengan cara berfikir secara rasional sejak kecil dan dekatkan mereka dengan cinta Allah dan Rasul. Mudahan akan selamat dalam lindungan Allah nanti bila sudah besar.

    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak. :D

    • Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Benar sekali apa yang disampaikan Mbak Fatimah, bahwa anak yang yang bermasalah bukan hanya soal didikan dari orangtua yang kurang tepat, namun faktor makanan, televisi, media cetak, dan lingkungan secara umum juga sangat berpengaruh. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk bisa mendampingi tumbuh dan berkembang anak-anaknya secara baik.

      Makasih banyak ya, Mbak Fatimah, telah singgah kemari dan memberikan masukan yang bermanfaat.

      Salam hangat penuh persaudaraan dari Jogja, Indonesia.

  5. Bersikap tenang, sabar dan mencoba memahami karakter anak mungkin lebih susah dari pada belajar matematika ya kak azzet. . . :roll:

  6. thanks for sharing ya.. tulisannya bagus, saling mengingatkan :)

  7. Anak, ya seperti itulah anak-anak. Mereka bertingkah ya karena selayaknya mereka adala anak-anak. Sebagai orangtua yang diutamakan adalah sikap pengertian. Mengerti bahwa apa yang mereka (anak-anak) lakukan karena memang dunianya. Karena pada dasarnya, dulu juga kita pernah merasakan pada fase seperti mereka.
    Pngertian pada anak, biarkan anak berkreasi sambil mmbimbingnya kepada arah yang benar. Dalam membimbing pun harus disesuaikan dengan kemampuan si anak.
    Dan yang tak kalah penting, introspeksi diri. Sebab, buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Perilaku anak yang bermasalah, tidak sepenuhnya disalahkan pada anak, tpi instrospeksi orangtua juga perlu. Sebab, siapa tau, apa yang anak2 sekarang perbuat, itu juga sebagai cerminan atas prilaku kita sebagai orang tua.

  8. seperti dikatakan Mabruri, buah jatuh tak kan jauh dari pohon nya: itulah yang saya rasakan sebagai seorang ibu.. melakukan dengan kekerasan sama halnya melakukan kekerasan pada diri sendiri.. perlakukan dia dengan baik sebagaimana kita suka di perlakukan seperti itu.

    terimakasih pa atas ilmunya. sangat bermanfaat buat saya..

    • Benar sekali, Mbak, saya juga setuju dengan Mas Mabruri. Itulah kenapa kita juga harus hati-hati dalam membawa diri. Sungguh, di sinilah pentingnya orangtua untuk membangun akhlaknya terlebih dahulu sebelum mendidik anak-anaknya agar bisa berakhlak yang baik.

  9. terimakasih banyak atas ilmu nya pak, memang kadang sy aja sebagai ibu suka kesel kalo anak tidak mengerti maksud ucapan saya. *ilmu yg brmanfaat*

  10. sedja gak bermasalah om…
    huaaaa..sedja anak pintar…gak rewel…
    >,<

    eh? emang ini postingannya tentang apa ya?
    sedja belum bisa baca sih soalnya :lol:

  11. Mengatasi anak bermasalah? kalau saya melihat sudut latar belakang mengapa anak itu dilahirkan, yaitu (1) Bagaimana kelakuan orang tuanya pada saat pra nikah? (2) Bagaimana kelakuan orang tua pada saat setelah menikah? (3) Bagaimana orang tua mendidik dan membesarkan anak? serta (4) Bagaimana pengaruh lingkungan dari anak tersebut?
    Kalau dilihat dari sisi genetika atau “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” Kalau “gen Kaya” hehe… atau “buah nikmat” ya….baguslah. Tapi kalau Nakal ….. Biasanya orang tua kalau anaknya pintar “Siapa dulu BAPAK-nya atau IBU-nya”, tapi kalau anak kurang pintar alias …. “Siapa GURU-nya”.
    Salam Mampir dari Kendari Sultra..

  12. wah susah sangat ntu. . . apalagi klo keadaan hati dan pikiran lagi gak karuan…. hhhmmmmm jadi gak kontrol

  13. Langkah yang sangat bijak…. semua orang tua harus tahu ini :)

  14. Eva Yulianti

    Salam silaturahim mas Azzet… Anak itu fitrah… Sesungguhnya bermasalah itu tanda petik, dibalik itu ia ingin bilang aku butuh didengar n aku butuh disayang. Dengan menyelesaikannya dengan energi positif dan mengajak berfikir (versi anak2) solusi akan mengada. Jika menyelesaikannya dengan dicekoki disalah-salahkan dengan energi negatif bukanlah otak korteks (otak berfikir) yang bekerja tapi yang bekerja adalah otak reptile (otak ngeyel), dan terus ngeyel selama ortu blm mengungkapkannya dgn energi positif. Maturnuwun ya mas..postingnya…ayo qta bjuang demi anak2 kita tcinta mencetak generasi yang lebih baik dari ortunya..amiin ya robbal alamiin..

    • Salam silaturahim juga, Mbak Eva Yulianti,
      Benar sekali, Mbak, setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Maka, orangtua justrua jangan menodainya dengan hal yang buruk. Mari kita dampingi anak2 kita agar berjalan sesuai dengan fitrahnya dalam kebaikan. Makasih banyak ya, Mbak, sungguh tambahan ilmunya sangat penting sekali buat saya.

  15. nn

    Assalamu’alaikum wr wb.
    saya mohon pencerahannya. bagaimana bila anak sudah kebablasan nakalnya. berani memukul dan mengatai ibunya, mengambil uang orangtuanya, memaki….
    peran ayah tidak bisa diharapkan karena ayah malah menyalahkan ibu yang tidak bisa mendidik anak sehingga terjadi hal demikian. ayah tdk memberikan hukuman pada anak, hanya menasihati, namun hal itu kerap kali berulang.
    terimakasih sebelumnya
    wassalam.

    • Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Menghadapi dan mendidik anak tentu bukan hanya tugas Ibu, tapi juga ayah. Maka, kedua orangtua perlu bicara dari hati ke hati ihwal berbagi tugas dan metode yang baik dalam mendampingi buah hati tercinta.

      Bila demikian yang terjadi dengan anak, hendaknya orangtua, dalam hal ini Ibu, semoga bisa membangun kesabaran ekstra, menanggapinya dengan kelembutan, jangan terpancing untuk bersikap emosional (marah-marah), lebih penting dari semua itu adalah diam-diam secara rutin mendoakan sang anak setiap usai shalat. Bahkan, shalat Tahajjud secara rutin dan menangis di hadapan-Nya. Insya Allah akan kerasa sekali perubahannya.

      Demikian dan semoga bermanfaat.

  16. namanya juga anak-anak ya pak. kadang selalu kita katakan bermasalah karena sering bertingkah. namun mereka sebenernya hanya ingin mencoba. tapi ngga jarang dikatakan nakal juga karenanya.
    nah, untuk yang benar-benar bermasalah alias nakal beneran. memang perlu ekstra hati-hati dalam penanganannya dan setuju juga kata bapa. sambil berdoa kita harus selalu berdoa kepada Allah untuk membantu perubahan pada anak kita :)

  17. Retno Astuti

    Saya sepertinya sudah habis kata-kata dengan perlakuan anak saya . Mulai semenjak anak saya SMP (bahkan sampai di keluarkan dari sekolah) dan sekarang SMA , perbuatannya sering sekali bikin saya , suami saya bahkan guru di sekolah merasa kesal sekali. Di waktu jam pelajaran berlangsung sering anak saya keluar minta ijin ke belakang ( di cari gurunya dia sedang merokok ) padahal suami saya tidak merokok. Saya jadi bingung bagaimana mengatasinya ? Kalau saya tegur dia selalu bilang iya , iya , iya & tidak akan mengulanginya lagi. Tapi kenyatannya ? Mohon Bpk Akhmad bisa memberikan solusi yang terbaik untuk saya & suami . Terima kasih

    • Dalam menangani anak yang bermasalah, sebaiknya dilakukan secara lahir dan batin. Secara lahir, tentu kita tak boleh menyerah mendampingi dan mendidik anak-anak kita, termasuk dalam memberikan kasih dan sayang. Suatu saat juga perlu diajak berbicara dari hati ke hati tentang apa yang diinginkannya.

      Sedangkan ikhtiar secara batin adalah: setiap selesai shalat kita doakan anak kita, bukan doa secara umum, tapi kita sebut secara khusus namanya dengan kita bacakan surat al-Faatihah lalu berdoa kepada-Nya agar dilembutkan hatinya. Begitu terus-menerus. Semoga berhasil.

  18. almas balqis khairunnisa

    usia sya skrng 27 thn.awal’ y sya tdk mengerti knp sya lbh senang menyendiri dan tdk percaya dgn kemampuan diri sendiri.tp setelah ingat msa lalu bru sya paham…saat kls 3-6 SD sya menjadi korban bullying oleh tmn2 sekelas…itu yg bikin sya lbh senang menyendiri. klo tdk percaya dgn kemampuan diri sendiri itu karna ortu yg selalu bilang “ah…kmu ga usah ngerjain ini deh….kmu ga bs…”tnpa pernah ngasih solusi bwt sya.dr pengalaman itu sya mencoba lbh baik lg dlm mendidik anak sya…makasih…

  19. Assalamualaikum wr. wb
    Adik saya duduk di bangku kelas 3 SMP, dia sekarang sulit di atur. Sebenarnya semenjak masuk SMP mulai kenakalan” yang dia lakukan puncaknya tadi malam dia pulang jam 2 pagi. Pertama ijin untuk pergi ke warnet untuk mengerjakan tugas sekolah tapi ternyata dia main game online bersama teman dan tetangga saya mengendarai sepeda motor milik saya. Apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi adik saya yang berbohong. Saya sudah menasehati tapi dia tidak menghiraukan dan ngambek kalo mulai di salahkan..
    Terima kasih atas pencerahannya.

    Wassalamualaikum wr. wb

    • Wa’alaikumusalam wr.wb.
      Mbak Rika Febriana yang baik, memang pada beberapa anak tertentu tidak cukup dengan dinasihati, bahkan malah tidak efektif. Pada anak yang demikian, perlu diupayakan hubungan yang dekat dulu antara orangtua atau kakak dengan anak atau adik. Kedekatan hubungan ini bisa dibangun dengan memberikan perhatian dan mendengarnya. Secara ruhani, setiap usai shalat bacakan faatihah kepadanya dan memohon kepada Allah agar melembutkan hatinya dan dekat dengan kita.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s